
Phuiwtt!
Tiba - tiba mereka mendengar suara siulan mulut begitu panjang, suara yang mereka dengar terasa seperti sebuah sinyal namun mereka merasa kalau itu bukan tanda dari kelompok sisi selatan karena seharusnya kelompok mereka yang memberikan tanda disaat yang sama mendengar itu Edgar tahu kalau mereka dalam keadaan gawat.
“Kita harus bergerak cepat!”
Seru Edgar saat bersama yang lain, mereka langsung berlari semakin cepat menuju gudang tempat persembunyian bandit sebelum mereka keluar dan bertarung di tempat terbuka yang akan menguntungkan bandit untuk menyerang.
“Kita diserang! Panggilkan yang lain berjaga di pintu masuk!
Seru bandit yang berjaga di atas dinding kayu saat melihat rekannya tengah berlari kesakitan dengan anak panah yang menancap di lengannya.
Ludi dan pemburu lainnya melepaskan anak panah mengincar bandit yang berada di atas dinding namun begitu sulit karena mereka langsung bersembunyi saat melihat anak panah melesat cepat ke arah mereka.
Disaat yang sama bandit tersebut berteriak Edgar melihat Ludi bersama kelompoknya berlari semakin mendekat menuju dinding kayu. Dari kejauhan Edgar melihat kalau dinding kayu yang melindungi markas tersebut tidak memiliki gerbang ataupun sejenisnya, hingga itu terlihat seperti sebuah celah yang tampak sengaja dibuat seperti itu, Edgar merasakan perasaan tidak menyenangkan melihatnya.
“Ludi! Tetap disana dan jaga celah itu!”
Teriak Edgar memperingatkan Ludi yang tampak sadar melihat ke arahnya langsung memberikan tanda menghentikan mereka didekatnya yang hendak masuk.
“Dengar itu paman, dia meminta kita untuk menjaga celah ini!”
Ludi berteriak mengatakannya kepada Paman pemilik kedai yang berada paling depan sudah berada di celah jalan menuju pintu masuk markas. Seruan Ludi membuatnya berhenti dan memperhatikan area sekitar pintu masuk tampak tidak ada orang.
‘Kemana bandit yang sebelumnya tadi terluka?’
Dalam benaknya Paman pemilik kedai karena merasa tidak ada tanda - tanda kalau bandit yang sebelumnya terluka berada di tempat ini.
__ADS_1
Dia merasa curiga karena yang berjaga hanya bandit yang berada di atas dinding kayu dan area kosong ini tampak seperti perangkap yang sengaja untuk memancing mereka masuk dan disaat yang sama tentara bayaran yang tampak tidak sabaran menyelonong melewatinya.
Sebuah kayu runcing tiba - tiba keluar dari tanah menusuk tentara bayaran yang berlari menuju pintu masuk. Kayu runcing tersebut berasal dari bandit yang bersembunyi di sebuah parit kecil yang tidak terlihat mata jika melihatnya dari celah jalan karena tertutup puing - puing kayu.
“Ini jebakan! Buat barisan pertahanan!”
Teriakan perintah paman pemilik kedai langsung ditanggapi tentara bayaran dibelakangnya, mereka dengan sigap bersiap karena melihat pasukan bandit yang keluar dari parit berlari ke arah mereka.
“Cih, Bandit kecil itu tampaknya berbohong lagi, jumlahnya tidak sesuai dengan apa yang dia bilang!”
“Hey! Sepertinya aku menang taruhan!”
Dua orang tentara bayaran itu terlihat melampiaskan kekesalan mereka sambil menumbangkan bandit yang berlari menyerang mereka.
“Hoi, Fokus! Kalau bukan karena celah ini kita sudah kalah jumlah!”
Ludi dan pemburu lainya berada di posisi lebih jauh untuk melepaskan anak panah mencoba membungkam bandit - bandit yang masih berada di atas dinding kayu, saat yang lain menjaga celah jalan di antara dinding kayu.
Pasukan bandit yang berada di gudang serentak keluar bersama karena mendengar keributan, Edgar dan kelompoknya terlambat untuk menyerang pasukan bandit yang bersembunyi di gudang.
Beberapa bandit berlari begitu cepat. Ludi dan pemburu lain yang sebelumnya melihat kelompok Edgar membuat titik buta mereka merasa aman terlindungi dan mengambil posisi lebih jauh memanah dari tentara bayaran yang menghadang jalan untuk fokus memanah bandit yang berada di atas dinding. Karena hal itu dia tidak sadar kalau saat ini ada seorang bandit berlari ke arah mereka
“Hoi Ludi! Lihat kemari!”
Teriak Edgar begitu kencang memperingatkan, membuatnya dengan sigap mengganti arah bidikannya mengincar bandit yang sedang berlari ke arahnya, Ludi melepaskan anak panah dengan cepat berulang kali hingga membuat bandit tersebut tumbang.
Kelompok Edgar menghadapi bandit yang serentak keluar dari gudang, bukan jumlah yang membuat mereka tertahan, jumlah mereka tidak jauh berbeda tapi bandit yang menahan mereka terlihat lebih unggul karena menggunakan baju pelindung lengkap dengan pelindung kepala terlihat begitu garang dengan badan mereka yang besar walaupun menggunakan besi berkarat.
__ADS_1
Terlihat Silvi hanya mengayunkan tangannya menciptakan hembusan angin kencang yang mengikuti ayunan tangannya, angin itu cukup memberikan efekan kejutan saat menabrak wajah bandit.
“Angin macam apa itu?”
“Pantas saja dia tidak membawa senjata!”
“Apa gadis itu yang melakukannya?”
Ucap para tentara bayaran setelah melihat sihir yang Silvi keluarkan membuat mata mereka yang ada di dekatnya memperhatikan tampak terkejut karena mereka baru pertama kali melihat seorang penyihir.
Namun yang lebih terkejut lagi adalah tentara bayaran yang bersama mereka karena sebelumnya tampak heran dengan Silvi yang tidak membawa senjata apapun bersamanya dalam penyerangan ini.
“Silvi gunakan sihir itu padaku!”
Edgar memiliki ide saat dia melihat sihir yang Silvi gunakan, dia memberikan isyarat kepada Silvi untuk mendorongnya menggunakan sihir, dia berencana untuk menggunakannya agar bisa menembus bandit yang menahan mereka untuk sampai di posisi Ludi yang terlihat ragu membidik bandit yang menahan mereka.
Silvi mengerti apa yang dimaksud Edgar walaupun gerak bibirnya begitu cepat tapi isyarat yang Edgar buat membuatnya mengerti, namun Silvi terlihat tidak begitu yakin dan ingin mengatakan kalau dia menolaknya karena merasa tidak yakin sihir nya akan dapat menghempaskan Edgar, tapi dia tetap mencobanya tidak ada pilihan karena Edgar sudah berlari duluan.
Fwuuzzh!
Muncul angin yang berhembus begitu kencang, memberikan sebuah sentakan membuat Edgar terpental, Edgar tidak melihatnya tapi angin tersebut muncul dari sihir Silvi yang berada di belakangnya dengan posisi tangan seperti mendorong sambil menutup matanya.
Silvi tidak menduga kalau dia bisa mengeluarkan angin yang dapat membuat Edgar terpental saat ini walaupun dia merasa kakinya gemetar sedikit lemas setelah mengeluarkan sihirnya, apa yang dia lakukan membuat energi sihir alamnya terkuras lebih cepat.
Dia menyadarinya saat hendak melepaskan sihir dia merasa hembusan yang dikeluarkan tidak begitu kuat hanya membuat bandit yang dia serang tampak seperti merasakan angin sejuk, Silvi hanya bisa menjauh dari pertempuran saat ini untuk kembali menstabilkan energi sihir alamnya.
Hembusannya tidak sekencang yang Edgar kira akan mendarat tepat di dekat Ludi, tapi sudah menembus saja membuatnya cukup puas apalagi dengan arah yang pas mengejar bandit yang berlari. Edgar menghunuskan pedangnya memanfaatkan momentum memberikan tusukan di punggung bandit.
__ADS_1