Land Of Thorns

Land Of Thorns
Rahasia di bawah tanah bagian 3


__ADS_3

“Apa - apaan itu? Hoi paman sebenarnya binatang apa itu tadi?”


Edgar mengatakannya terlihat kesal.


Paman pemilik kedai berlari ke arahnya sambil membopong anak kecil dan di belakangnya terdapat Ludi beserta anak - anak dan wanita yang mengikuti, mereka yang di sekap di tempat ini terlihat masih memiliki tenaga untuk mereka dapat berlari.


“Aku juga tidak tahu sebenarnya apa itu, aku hanya melihat gumpalan hitam itu sedang menghisap darah anak ini saat dia tidak sadarkan diri.”


Paman tersebut mengatakannya sambil menunjukan bekas luka di leher anak kecil yang dia bopong dan bahkan terlihat ada bekas darah yang masih menempel padanya.


“Aku rasa kita berhasil menyelamatkannya Paman, mungkin gumpalan hitam itu yang menyebabkan mereka tidak sadarkan diri dan menghisap darah mereka?”


“Bukankah ini terlihat aneh? Untuk apa bandit disini membiarkan gumpalan hitam itu menghisap darah mereka?”


“Benar, ini benar - benar terlihat aneh Paman.”


Edgar menatap Ludi yang melihatnya masih terlihat muram seperti ingin mengatakan sesuatu tapi menahan untuk tidak mengatakannya, Edgar mencoba mengabaikan dan kembali melihat rombongan anak - anak dan wanita tersebut saat pemilik kedai memberikan anak kecil yang dibopongnya kepada mereka untuk dibawa keluar.


“Kami tidak bisa memandu kalian untuk keluar dari tempat ini, kalian hanya perlu menyusuri jalan ini sampai menemukan jalan keluar, dan bisa aku bilang kalau kalau akan aman melewati jalan ini.”


“Terimkasih penyelamat!”


Teriak mereka bersama seraya berterimakasih dan berjalan pergi menuju arah keluar.


“Satu hal lagi, ada sebuah ruangan khusus di markas mereka sebelum menyekap kami disini, kami semua pernah berada di ruangan tersebut, mungkin kamu akan menemukan orang lain yang belum lama tertangkap oleh mereka.”


Ucap wanita tersebut yang tiba - tiba menghentikan langkahnya memperingatkan Edgar untuk memeriksa ruangan yang dimaksud, Edgar dengan senyum di wajah mengangguk padanya mengerti seraya mereka melanjutkan perjalanan kembali.


Mereka kembali berjalan menyusuri jalan bawah tanah dengan kali ini Edgar yang memimpin di depan karena melihat ludi yang tampak muram membuatnya segan untuk meminta Ludi memimpin memperhatikan jalan.


“Lihat, itu tangga menuju ke atas.”


Dengan jarinya yang menunjuk, Edgar memberitahukan kepada mereka, tidak terasa mereka menemukan tangga menuju ke atas di pojok jalan bawah tanah ini seperti apa yang wanita tersebut sebelumnya katakan.


Ludi yang muram perlahan menyusul Edgar yang berada di depan hingga berjalan di sampingnya.


“Hei … terimakasih karena mengatakan itu sebelumnya padaku Edgar.”


“Apa maksudmu Ludi?”

__ADS_1


“Aku merasa marah, hingga membuatku rasanya bertindak tanpa berpikir. Jika kita hanya berfokus menyelamatkan anak yang sudah sekarat itu dan membawa mereka keluar, mungkin kita tidak bisa menyelamatkan yang lainnya.”


Mendengar Ludi mengatakan itu padanya membuat Edgar menepuk bahunya mencoba membuat perasaan Ludi lebih baik.


“Tidak usah pikirkan hal itu Ludi, kita hanya beruntung datang di waktu yang pas. Karena kita juga tidak tahu apapun tentang gumpalan hitam tersebut dan apa yang dilakukan oleh bandit - bandit tersebut disini jadi … tetap fokus Ludi!”


Edgar tersenyum mengatakan itu padanya dan menepuk punggungnya hingga mendorong perlahan Ludi untuk kembali berjalan di depan.


Mereka melihat anak tangga tersebut mengarah ke sebuah ruangan, dan mereka berpikir kalau saat ini mereka sudah berada di bawah bangunan markas para bandit tersebut, lalu mereka melanjutkan berjalan mengendap - ngendap menaiki anak tangga selagi bersiaga dengan senjata yang mereka pegang.


“…”


“Sepertinya mereka terlalu sibuk mengurus pintu depan mereka hingga mereka tidak sadar kalau kita menyelinap dari jalan rahasia!”


Ludi secara tiba - tiba mengeluarkan kata - kata tersebut dari mulutnya memecah keheningan, menyadari kalau sampai saat ini tidak menemukan satupun bandit yang menghadang mereka di jalan bawah tanah ini hingga sampai ke tangga masuk markas mereka.


“Shhh … pelankan suaramu Ludi kita tidak tahu apa yang menunggu kita di ruangan itu nanti.”


Paman pemilik kedai menegur Ludi yang tiba - tiba berbicara seperti itu memecah keheningan, membuat Ludi terkejut mendengarnya dan hanya tersenyum bercanda menanggapinya.


Ludi yang berada di depan masuk duluan ke dalam ruangan tersebut perlahan melihat - lihat sekitarnya selagi dia berjalan mengendap, Ludi melihat balik ke arah mereka yang berada di belakang memberikan tanda kalau ruangannya tidak ada orang lain.


“Aku tidak suka jalan bercabang. Apa yang harus kita lakukan?”


Celetuk Paman pemilik kedai yang merasa tidak senang ketika melihat dua jalan yang berbeda di depan matanya.


“Aku juga tidak suka melihatnya, tapi kita harus menemukan ruangan yang dimaksud wanita tadi berjaga - jaga jika memang ada orang lain yang di sekap disana, kita harus menyelamatkannya!”


Ludi bersikukuh menanggapi kalau harus mencari tempat yang diberitahukan wanita tersebut.


“Baik, aku rasa kita harus berpencar disini. Aku dan Silvi akan melalui jalan kiri sedangkan kalian berdua melalui jalan di sebelah kanan.”


Jawab Edgar pada mereka berdua memberikan saran.


“Tunggu kenapa kamu selalu bersama dengan SIlvi? Kenapa tidak aku bersamanya melalui jalan ini dan kamu bersama Paman ke arah sebaliknya?”


“Aku sebenarnya tidak begitu peduli Ludi, tapi apa kamu yakin jika dalam pertarungan jarak dekat kamu bisa menahan serangan mereka, dan aku rasa Paman bukan tipikal pria yang nyaman disentuh wanita jika Silvi akan bicara padanya.”


“Jadi kamu bilang Silvi bisa bicara dengan orang lain yang dia sentuh? Aku pikir dia hanya dapat berbicara dengan kamu seorang Edgar!”

__ADS_1


Ludi merasa terkejut mendengarnya, dia melihat seperti tidak menduga kalau ternyata dia juga bisa berkomunikasi dengan Silvi.


“Kenapa kamu tidak bilang dari awal Edgar? Aku juga ingin berkenalan dengannya.”


“Bukannya aku sudah bilang padamu waktu di kedai kalau aku sedang berbicara dengannya saat dia menyentuhku?”


Apa yang Edgar katakan membuat Ludi mengingat kejadian saat di bar kalau Edgar memang mengatakan sedang berbicara dengan Silvi dan hanya itu saja tidak ada yang lain.


“Iya, tapi kamu tidak bilang kalau aku juga bisa berkomunikasi dengannya!”


Ludi terdengar begitu kesal dengan tangan nya yang sudah bersiap seperti hendak memukul walaupun dia masih mencoba menahannya.


“Apa kamu merasa tidak senang bersamaku Ludi? Sudahlah lagipula apa yang dia katakan ada benarnya!”


Paman pemilik kedai tersebut menarik Edgar mengajaknya untuk pergi dengan wajah terlihat kecewa mendengar Ludi yang seperti tidak ingin bersamanya, mereka akhirnya berpencar menjadi dua kelompok untuk mencari ruangan lain yang digunakan untuk menahan orang yang mereka sekap.


Ludi dan Silvi telah cukup lama berjalan di koridor hingga mereka menemukan sepasang bandit yang tengah berjaga di depan sebuah ruangan tidak sadar dengan mereka bedua. Melihatnya membuat mereka langsung berdua langsung bersembunyi di balik sebuah rak senjata berukuran besar di dekat mereka.


“Aku pikir tidak orang di dalam sini, tapi seperti nya dugaanku salah … ruangan yang mereka jaga tampak mencurigakan, aku rasa tempat itu yang dimaksud wanita tersebut.”


Edgar mengatakannya kepada Silvi yang membuat dia ikut mengangguk kalau dia merasakan hal yang sama kalau ruangan itu tampak mencurigakan karena ada yang menjaganya.


“Silvi, gunakan sihirmu untuk mengejutkan mereka disaat aku mulai berlari, kamu mengerti?”


Edgar mengatakan rencananya membuat Silvi mengacungkan jempolnya kalau dia benar - benar mengerti.


Kemudian Edgar dengan cepat berlari ke arah bandit yang berjaga, mengikutinya Silvi mengayunkan tangan nya dan mendorong menggunakan sihir anginnya menembakan ke arah mereka berdua. Hembusan angin kencangnya membuat mereka berdua terkjut.


“Angin apa itu … hah? Arghh!”


Mereka yang masih terkejut membuat Edgar begitu leluasa menebas mereka bergantian yang tidak siaga memegang senjata, tebasannya begitu bertenaga hingga membuat mereka langsung tumbang.


“Itu trik yang kotor, tapi itu berhasil!”


Edgar mengacungkan jempolnya saat menoleh Silvi yang ada di belakangnya, memberikan isyarat kalau semua nya beres.


Setelah itu Edgar membuka pintu hadapanya dan melihat ruangan tersebut begitu gelap hingga dia mengisyaratkan Silvi yang sedang berjalan ke arahnya untuk mengambilkan obor di koridor yang tidak mati karena sihir angin dari Silvi sebelumnya.


Kemudian Edgar melanjutkan kembali melihat kedalam ruangan tersebut dan melihat ada 3 orang yang berada di dalam, Edgar melihat seorang Pria yang terikat tidak sadarkan diri dan terkejut mengetahui 2 orang yang dia kenal berada di tempat ini tidak sadarkan diri, Edgar melihat Lilia beserta Celine yang tergeletak di tanah.

__ADS_1


__ADS_2