Land Of Thorns

Land Of Thorns
Malam panjang bagian 5


__ADS_3

“Demi dewi pelindung! Kamu mengejutkanku Edgar.”


Kemunculan Edgar dengan terpental seperti terbang ke arahnya membuat Ludi terkejut melihatnya.


“Apa kamu tidak bisa langsung membidik mereka yang menahan kita disana Ludi!”


“Bodoh! ... Aku tidak bisa memanah ke arah mereka dengan baik tanpa ketinggian. Apa kamu mau aku memanah teman sendiri!”


Ludi reflek menyundul Edgar dengan kepalanya. Apa yang Ludi lakukan membuat Edgar terdiam, dan disaat yang sama Ludi juga melihat Edgar tampak terlihat begitu serius dengan ucapannya yang seakan lupa kalau tidak mungkin tidak ada satupun tembakan meleset yang akan melukai temannya sendiri.


Edgar tampak tidak memikirkan Ludi yang menyundul kepalanya walaupun sundulan kepala Ludi membuat nya merasakan sakit, tapi Edgar tampak memikirkan hal yang lain.


‘Benar juga, akan terlalu beresiko jika mengurangi jumlah kita.’


Apa yang Edgar pikirkan saat masih terdiam, Edgar sebelumnya hanya berpikir apa yang dikatakan terdengar wajar tidak ada yang salah, tapi setelah mendengar apa yang Ludi katakan membuatnya berpikir ada benarnya mengingat jumlah mereka yang sedikit dan tanpa pikir panjang Edgar langsung menarik Ludi untuk mengikutinya.


“Biarkan mereka yang memanah, gunakan pemukul ini bantu aku memojokan mereka yang keluar dari gudang!”


Ucap Edgar sambil berlari dan mengambil pemukul tersebut dari bandit yang sebelumnya dia tumbangkan.


“Apa yang sebenarnya terjadi di sisi selatan Ludi?”


Edgar yang masih berlari nampak bingung melihat Ludi karena tidak paham mengapa serangan mereka diketahui para bandit.


Mereka berdua melayangkan pukulan dan tebasan menyerang bandit yang tidak sadar kalau mereka berdua berada di belakangnya.


“Bagian kami tidak begitu beruntung, kami menyerang saat pengawas di pos 3 sedang mengganti giliran jaga!”


Jelas Ludi menjawab pertanyaan Edgar sambil melayangkan pukulan mengenai wajah bandit yang berlari berniat melewatinya


Serangan di kedua sisi membuat para bandit berada di posisi tidak menguntungkan karena sebelumnya mereka berniat menyergap dari belakang kelompok yang sedang bertarung di celah jalan, namun situasi begitu terbalik.

__ADS_1


Tong!


“Sialan apa seranganku tidak membuatnya merasakan apapun?”


Suara yang terdengar saat Ludi mencoba melayangkan pukulan di kepala bandit yang menggunakan pelindung besi, pukulannya hanya membuat bandit tersebut sedikit terkejut karena mendengar bunyinya begitu nyaring di balik pelindung kepalanya.


Tapi Ludi yang melihat serangannya membuat bandit tersebut menjadi terkejut karena mendengar suara yang dihasilkan, membuatnya memukul terus tanpa henti hingga bandit tersebut tampak pusing dan dengan mulus membuatnya pingsan saat Silvi menembakan hembusan angin kencang ke arah wajahnya.


Setelah mereka menghabisi bandit yang keluar dari gudang tanpa sisa, mereka dengan cepat berlari menuju kelompok yang masih bertarung di celah jalan menuju pintu masuk. Pertarungan di celah ini tampak begitu sengit, Para bandit itu tampak masih menahan tanpa tahu kalau pasukan penyergap mereka telah di habisi.


Bandit yang berada di atas dinding tampak masih bersembunyi, tembakan anak panah ke arah mereka tidak menimbulkan efek yang begitu berdampak, tapi setidaknya itu membuat mereka kewalahan tidak dapat menyerang balik atau menyerang kelompok yang berada di bawah mereka.


“Kita harus ganti rencana! Akan sulit menembus lewat pintu depan!”


Teriak Edgar saat sampai di belakang kelompok yang menyerang celah jalan, Edgar yang melihat pertarungan disini tampak akan memakan waktu cukup lama yang ditakutkan akan menimbulkan masalah yang lain.


“Apa yang kamu rencanakan anak muda!”


‘Apa paman ini monster!’


Itu yang Edgar pikirkan saat melihat Paman pemilik kedai dengan begitu mudah mengalahkan bandit yang badannya sama besarnya seperti dia.


“Kita kalah jumlah, tapi celah ini dapat membantu kita menahan mereka, aku rasa kita harus masuk melewati pintu belakang.”


“Baik, kita akan ikuti lagi rencanamu anak muda! Aku harap kalian menahan mereka dengan baik, aku tahu kalau kalian lebih sayang nyawa kalian, tapi kalau kalian pergi dari tempat ini  jangan harap kalian melihat matahari besok.”


Teriak paman pemilik kedai tampak berbicara pada tentara bayaran yang lain, perkataannya membuat mereka tampak semangat dan juga gemetar takut, melihat mereka seperti itu membuat Edgar dan Silvi tampak bingung.


Paman pemilik kedai keluar dari barisan kelompok yang berada di celah, dia berencana untuk mengikuti Edgar melewati pintu belakang yang dimaksud.


“Biarkan yang lain disini untuk menyibukan para bandit, akan percuma jika mereka tahu kalau kita menyergap mereka! … Apa yang kalian tunggu?”

__ADS_1


Ucap Paman pemilik kedai kembali, meyakinkan kalau hanya butuh kelompok kecil untuk menyergap markas bandit dari pintu belakang, Dia secara tiba - tiba menarik Ludi serta memberikan isyarat pada Edgar dan Silvi untuki mengikuti mereka.


Mereka berempat berlari menuju bangunan yang Ludi temukan sebagai jalan masuk rahasia markas bandit, mereka melihat bangunan yang berbeda dari bangunan lainya. Bangunan ini tampak tidak memiliki jendela sama sekali walaupun bentuknya seperti sebuah rumah.


Paman pemilik kedai langsung membuka paksa pintu bangunan, menghancurkan pintunya dengan kapak yang dia bawa, mereka masuk kedalam bangunan dan menemukan sebuah ruangan yang memiliki tangga menuju bawah tanah.


“Aku tidak menduga kalau akan menuju bawah tanah! Aku pikir bangunan ini langsung tembus menuju markas mereka, aku rasa panahku tidak berguna disini.”


“Tidak ada yang tahu hal itu Ludi, tapi jika hanya ini jalan masuknya kita terpaksa harus melewati tempat ini lagipula apa gunanya pemukul yang kamu pegang dari tadi?”


Ucap paman pemilik kedai saat melihat Ludi yang nampak heran tidak menyangka kalau jalan rahasia ini membuat mereka harus menelusuri ruangan bawah tanah yang terlihat sempit dan gelap membuat Ludi merasa tidak nyaman melihat tempatnya.


“Apa akan ada jebakan lagi di dalam sini? Bagaimana menurutmu anak muda?”


Tanya paman pemilik kedai yang melihat Edgar tampak diam memperhatikan tangga menuju bawah.


“Aku tidak tahu akan hal itu paman … Silvi, apa ada sihir yang dapat mendeteksi jebakan atau semacamnya?


Edgar melempar pertanyaan tersebut yang membuat Silvi memperhatikan gerak bibir Edgar mencari tahu apa yang dia ucapkan.


‘Aku tidak tahu sihir semacam itu, tapi kalau ruangan ini cukup sempit aku rasa aku bisa memberikan gambaran apa yang berada di dalam dengan sihir yang aku gunakan.”


Ucap Silvi dalam pikiran Edgar saat menyentuhnya, apa yang mereka berdua lakukan membuat Paman pemilik kedai merasa menunggu tidak mengerti.


“Apa yang mereka lakukan Ludi?”


“Aku rasa mereka sedang berbicara.”


“Bagaimana bisa?”


“Ceritanya panjang Paman, tapi intinya dia penyihir!”

__ADS_1


Ucapan Ludi singkat menjawab rasa penasaran Paman pemilik kedai yang masih tidak mengerti dengan apa yang Ludi katakan soal penyihir.


__ADS_2