Land Of Thorns

Land Of Thorns
Pertemuan tidak terduga bagian 1


__ADS_3

‘Kedai dan penginapan terang bulan’


Saat Edgar melihat papan tulisan yang menggantung di pintu masuk kedai itu, dari namanya saja kedai ini sepertinya terlihat menyenangkan dia merasa pemilik tempat ini sepertinya orang yang ramah.


Edgar melihat bagian dalam bangunan kedai tampak seperti kedai pada umumnya dan memiliki 2 lantai dengan lantai 1 sebagai tempat pengunjung makan dan minum, sedangkan lantai 2 menjadi tempat penginapan karena terlihat begitu banyak ruangan kamar di lantai 2.


Dia melihat mata pengunjung kedai itu yang seketika memperhatikan mereka, menatap begitu hening saat mereka berjalan masuk kedalam kedai. Pria dan wanita mereka semua terlihat kuat, memang benar daerah ini banyak dikunjungi tentara bayaran ataupun pemburu yang mencari pekerjaan.


“Paman! Aku pesan 2 gelas minuman terbaikmu! Serta beri kami makanan!”


Teriakan Ludi yang begitu bersemangat memesan menu makan malam mereka disaat itu memecah keheningan yang terasa aneh di sebuah kedai yang ramai pengunjung.


Sebuah kedai yang begitu hening itu kelihatan begitu aneh, dari zaman ke zaman Edgar sadar bahwa tidak mungkin pengunjung kedai tidak berisik penuh tawa, ataupun mengobrol dengan rekan mereka, bahkan Edgar mengingat di dalam ingatannya ketika berkunjung ke kedai di jam segini, dia merasa kesulitan mendengar karena berisik.


Ada suatu hal yang tidak beres di kedai ini, yang membuat Edgar memperhatikan pengunjung sekitar tampak curiga, yang masih melihat ke arah mereka dengan tatapan yang masih dingin.


“Jangan khawatirkan mereka Edgar.”


“Kenapa kamu bilang seperti itu?”


“Mereka hanya terlihat mencurigai wajah baru, karena pandai besi langganan mereka habis terbakar.”


“Apa kamu tidak mencurigaiku juga Ludi?”


“Awalnya … tapi karena menilai tingkahmu, aku rasa kamu bukan seorang pelaku yang membakar tempat itu.”


Mendengar Ludi mencurigainya membuat perasaan Edgar sedikit tersayat mendengar temannya di kehidupan ini hampir tidak mempercayainya, tapi tawa ludi membuat Edgar ikut tertawa mengingat Ludi memang memiliki karakter yang dia kenal seperti ini.


“Tampaknya Liam cukup terkenal di daerah sini.”


“Ya begitulah, Pak tua itu cukup baik untuk seorang yang memiliki tampang mengerikan!”


“Apa pak tua itu menyogok kalian dengan … permen! hingga kalian terpaksa memujinya!”


“Menyogok dengan permen ya … itu kata - kata yang bagus, iya seperti itulah!

__ADS_1


Mereka berdua terlihat tertawa begitu akrab membahas Liam yang sering membantu para tentara bayaran dan pemburu yang menetap di daerah sini dengan memberikan candaan Liam seperti seorang kakek - kakek yang selalu memberikan permen secara cuma - cuma kepada anak kecil.


“Banyak dari mereka termasuk aku berhutang pada Pak tua Liam. Jadi jangan heran kalau mereka tampak begitu kesal melihat seseorang telah melakukan hal buruk padanya.”


“Bukankah jadinya dia tidak dapat untung jika kalian banyak berhutang padanya?”


“Iya, kamu benar … aku pernah terpikir tidak enak seperti itu padanya. Tapi dia terlihat tidak begitu peduli dengan untung dan dia pernah bilang kepadaku, ‘tidak usah memaksa jika kamu tak punya uang. Beri saja aku makan karena aku masih ingin hidup lebih lama melihat kerajaan ini!’ Seperti itu.”


Kata - kata itu terdengar biasa aja jika orang lain yang mendengar Liam mengatakan itu. Namun bagi Edgar mendengar Liam mengatakan itu membuat bulu romanya berdiri, bukan karena takut, tapi karena sebuah perasaan yang muncul di benak Edgar.


Sebuah rangsangan yang dia rasakan karena mengerti betapa cintanya Liam pada kerajaan ini dan menunggu hingga saat ini mencari sebuah kesempatan untuk melakukan perubahan.


Brakk!


“Ini minuman dan makanan kalian. Ludi pastikan kamu membayar kali ini, jika tidak ….”


Egar sedikit terkejut melihat pemilik tempat ini terlihat tidak sesuai dengan nama kedai yang cukup ramah. Karena Paman pemilik kedai ini tampak seperti seorang gorila dengan wajah garang seperti seorang bandit apalagi saat dia memberikan isyarat dengan tangannya akan membunuh ludi jika tidak membayar.


“Siapa pemuda ini? Temanmu?”


“Kamu juga harus membayar. Kalian harus ingat ini kalau aku bukanlah Liam yang akan memberikan cuma - cuma makanan pada kalian, dan bersihkan pakaianmu. Kamu tampak begitu kotor.”


Mendengar Paman pemilik kedai itu mengatakan itu padanya membuat Edgar baru tersadar kalau pakaian yang dia kenakan tampak begitu kotor penuh dengan tanah dan bekas darah yang membuatnya mengerti mengapa Liam mengatakan dirinya tidak memiliki kenalan di kota ini karena dia terlihat seperti seorang yang habis dirampok, walaupun itu tidak sepenuhnya benar.


“Tunggu Paman! Tempat ini cukup dekat dengan tempatnya, apa Liam meninggalkan sesuatu berupa pesan atau apapun itu jika ada orang yang mencarinya?”


“Tidak … tidak ada, dia tidak meninggalkan apapun.”


‘Sudah kuduga, aku berada di titik buntu saat ini!”


Edgar merasa kalau dirinya menemukan jalan buntu karena merasa tidak mungkin dirinya berlama - lama tinggal disini menunggu Liam kembali, belum lagi melihat tempat tinggal Liam yang terbakar, membuatnya merasa kalau tidak mungkin Liam akan kembali jika dia tahu seseorang tengah mengincar dirinya.


Glekk-glekk!


“ahh, anggur madu ini benar - benar enak Paman!  … Aku rasa memang Pak tua Liam tidak pernah meninggalkan pesan kepada siapapun disaat dia pergi … Kamu kenapa Edgar? Sakit kepala?”

__ADS_1


“Aku hanya merasa hari ini begitu buruk.”


Ludi terlihat menikmati minuman itu dan membuatnya menenggak habis minumannya namun wajahnya terlihat memerah setelah minum itu belum lagi dia terlihat begitu kesusahan menjaga kepalanya agar tidak terjatuh.


‘Apa dia mabuk?’


“Sudahlah tidak usah disesali … aku tahu kalau kamu habis di hajar habis - habisan saat datang ke kota ini kan.”


“Apa terlihat jelas seperti itu?”


‘Aku rasa dia benar - benar mabuk … bukannya kadar alkohol minuman ini hanya sedikit.’


Melihat Ludi yang tampak seperti itu membuat Edgar mencium bau minumannya dan mencoba mencicipinya karena penasaran. Membuatnya mengerti kalau Ludi yang disaat ini toleransi alkoholnya sangat rendah.


“Tentu saja. Kota ini memang ada bandit yang buruk walaupun begitu kami yang bukan penduduk merasa sedih melihat kota ini tampak busuk … tapi kalau kamu tidak bisa melindungi dirimu seharusnya kamu lari. Bahkan kami pun akan lari saat bertemu mereka.”


“Bukankah kalian cukup kuat melawan mereka?”


Itu terdengar aneh di telinga Edar yang membuatnya cukup heran kenapa tentara bayaran merasa kewalahan di ganggu bandit seperti mereka.


“Ha! Untuk apa? Kami tidak dibayar untuk melakukan itu, lagipula ada prajurit yang berjaga itu tugas mereka dan mereka dibayar untuk itu.”


“Belum lagi aku dengar bandit itu dikuasai seorang bangsawan dari kerajaan ini … Cih bangsawan sampah!”


“Dengar ini Edgar! Walaupun kamu berlatih pedang kamu bukanlah seorang kesatria, walaupun aku pandai memanah tapi aku bukan seorang prajurit.”


“Berpedang dan memanah itu hanyalah sebuah cara untuk kita mendapatkan uang … jadi kenapa harus lupa dengan tujuannya!”


Apa yang dikatakan Ludi ada benarnya, membuatnya ingat sesuatu yang membuat Edgar merasa seperti bukan dirinya sendiri belakangan ini. Edgar melatih tubuhnya bukan untuk menjadi seorang kesatria tapi hanya cara untuk melindungi tubuhnya yang tampak lemah.


Kekuatan yang dia punya hanya sebuah pengalaman dan tubuhnya masih di tahapan belum mampu mengimbangi pikirannya. Untuk apa dia mengandalkan senjata yang belum sempurna. Dia yang terlalu lama berurusan dengan Lilia dan Celine yang selalu tersenyum hangat membuatnya lupa bagaimana otak licik manusia bekerja.


“..., Aku rasa kamu benar Ludi, mengapa aku melupakan hal seperti itu.”


“Tunggu … walaupun kita baru kenal tapi kenapa aku merasa bisa nyaman seperti ini bicara denganmu … apa karena cara bicaramu yang seperti itu yang membuatku menganggap kita teman lama.”

__ADS_1


“Hanya perasaanmu saja, ini hanya karena minuman Ludi.”


__ADS_2