
Siang itu Edgar tengah terlihat sedang berolahraga di halaman yang membuatnya bercucur keringat karena berusaha dengan sekuat tenaga membuat dirinya semakin kuat. Dia berlari menglilingi halaman serta melakukan angkat beban, bahkan melakukan latih tanding dengan prajurit menggunakan pedang kayu, dengan gerakannya yang sedikit aneh bagi orang yang melihat.
'Pangeran ini menarik, untuk apa dia mendorong dirinya begitu keras.'
Itu yang ada di pikiran Akhsan saat dia melihat Edgar dari kejauhan, yang berulang kali kalah dari prajurit yang menjadi lawan dalam latihannya. Melihat itu mebuat Akhsan merasa penasaran.
Edgar terlihat begitu lelah setelah berulang kali jatuh bangun yang membuatnya terbaring di rumput saat dia selesai melakukan latihan. Nafasnya terdengar begitu tidak beraturan.
Dia melihat Akhsan dengan senyumnya pahit yang menyapanya, Akhsan menghampiri dirinya tengah membawakannya handuk dan minuman segar untuknya, Membuat dia cemberut melihat Akhsan menghampirinya.
“Sebagai seorang pria aku lebih senang jika Lilia yang membawakan itu kepadaku.”
“Mohon maaf Tuan, Lilia sepertinya sedang mengurus sesuatu yang membuatku menggantikannya sementara saat ini.”
Edgar memperhatikan Akhsan yang sedikit lebih tinggi darinya dengan rambut coklat yang terlihat jelas saat terkena sinar matahari yang cocok dengan kulitnya yang sedikit gelap, Akhsan terlihat tidak menunjukan ekspresi apapun membuat Edgar begitu muram melihatnya ditambah dengan lelah yang dia rasakan.
“Aku hanya tidak terbiasa melihatmu tanpa ekspresi seperti itu.”
“Biasanya aku melihat Lilia yang ceria dan selalu tersenyum manis.”
“Apalagi pakaian pelayan yang dia kenakan begitu cocok dilihat mata!”.
Sebenarnya tidak ada yang spesial dengan pakain Lilia, pakaian pelayan disini tidak begitu terbuka walaupun bordirannya terlihat menarik, Edgar berkata seperti itu hanya ingin membuat perbandingan kalau Akhsan terlihat menyebalkan dimatanya.
“Apa Tuan mau aku mengenakan pakaian wanita sepertinya agar Tuan dapat terhibur?”
Terlintas di pikiran Edgar membayangkan Akhsan tengah mengenakan pakaian pelayan wanita yang membuatnya tertawa geli. Melihat Akhsan yang berbicara seperti itu terlihat tidak menunjukan ekspresi apapun, membuat Edgar berhenti tertawa merasa tidak nyaman.
‘Dia bercanda kan?’
Edgar merasa bingung tidak yakin dia sedang berkata serius atau bercanda padanya.
“Sepertinya Tuan sudah cukup terhibur.”
“Tidak lagi…, lagipula siapa namamu?”
__ADS_1
“Namaku Ashkan Tuan.”
“Ashkan ya….”
Mendengar itu membuat Edgar mengerutkan alisnya merasa familiar mendengar nama itu saat di kehidupan sebelumnya, tapi dia merasa tidak begitu ingat siapa yang memiliki nama itu di kehidupan sebelumnya, hanya saja dia paham kalau nama itu terkenal di daerah timur.
“... Nama itu tampaknya cukup familiar terdengar di kerajaan Parsa.”
“Sepertinya Tuan Edgar memiliki wawasan yang cukup luas.”
Edgar bangkit dari duduknya dan mengambil minuman segar itu diteguknya hingga habis. Minuman dingin membuatnya merasa begitu segar saat mengalir di tenggorokannya saat meminum di tengah hari yang terik seperti ini.
Dia melihat prajurit yang berlatih bersamanya tampak ingin mengendap - ngendap pergi. Edgar dengan cepat menepuk bahu prajurit itu dengan senyuman diwajahnya menunjukan kalau dirinya belum selesai berlatih dengannya.
Akhsan merasa di abaikan saat Edgar kembali melanjutkan latihannya dengan prajurit itu dia begitu serius memperhatikan gerakan yang Edgar lakukan.
Tack!
Tack!
‘Oh, gerakan berpedang Rosen, dia seperti memiliki pengalaman sekarang.’
Akhsan terlihat begitu terkesima melihat gerakan yang dilakukan Edgar sudah lebih baik dari sebelumnya, gerakan yang tadinya terlihat aneh sekarang sudah terlihat begitu beraturan seperti tubuhnya mulai terbiasa mengikuti gerakan itu.
Edga melihat Prajurit itu tampak mulai kelelahan dan mengayunkan tebasan berat secara vertikal, Edgar menghindarinya secara cepat dengan bergerak ke samping, tebasannya membuat Prajurit itu kehilangan keseimbangan, Edgar membalas dengan tebasan cepat dari samping yang membuat Prajurit itu menangkisnya, pedangnya terlihat tertahan karena tepisan itu.
Edgar mendorong pedangnya memberikan tusukan ke arah kepala prajurit itu yang membuatnya reflek menggerakan kepalanya ke samping menghindarinya, sebuah kesempatan bagi Edgar untuk menjegal Prajurit itu disaat dia tidak memperhatikan dan membuat Prajurit itu terjatuh. Edgar menghunuskan pedang kayunya menyelesaikan latihan.
‘Ini hanya gerakan dasar tapi tubuh ini masih jauh untuk bisa mengingat gerakan berpedang ini.’
Walaupun kali ini Edgar menang tapi dia merasa kalau dirinya terlalu mengeluarkan banyak tenaga, Edgar masih mengingat gerakan teknik berpedang Rosen karena dia telah menguasai teknik itu di kehidupan lainnya. Hanya berbekal ingatan saja tidak akan cukup karena tubuhnya tidak memiliki pengalaman tentang gerakan itu.
Teknik berpedang Rosen merupakan sebuah teknik standar berpedang yang digunakan ksatria Rosen, sebuah teknik yang menyimbangkan antara menyerang dan bertahan secara bersamaan, yang lebih efektif digunakan dengan prisai ukuran sedang, oleh karena itu teknik ini akan memakan stamina yang luar biasa karena harus bisa bergerak cepat dengan beban pakaian pelindung dan prisai yang berat.
Clap - clap!
__ADS_1
Clap - clap!
“Bukankah gerakan itu begitu hebat tuan, kamu seperti seorang ksatria sungguhan!”
Ada sedikit senyuman disaat Akhsan bertepuk tangan memuji Edgar, Akhsan mendekat kearahnya, dia melihat punggungnya terasa lebar membelakangi dia, Edgar menoleh melihat Akshan serius tampak cemberut. Akhsan menunggu responnya.
…Edgar tidak merespon Akhsan, dia hanya berulang kali bernafas begitu berat.
Dia begitu kesulitan bernafas dan badannya terasa mati rasa dengan posisi yang sama tidak bisa digerakan, Edgar merasa tidak mendengarkan apa yang Akhsan katakan kepadanya, karena pikirannya merasa kosong saat ini.
‘Kenapa dia masih di posisi siaga?’
Hal itu membuat Akhsan tampak terlihat serius menghilangkan senyuman dari wajahnya, dia merasakan dimata Edgar saat ini begitu berapi - api seperti melihat hewan buas. Akhsan ikut bersiaga sewaktu - sewaktu Edgar menyerangnya.
“Itu benar - benar telak Pangeran, akhir pertandingan yang bagus dengan kemenanganmu.”
“...Pangeran?”
Prajurit yang masih terbaring di tanah itu melihat Edgar begitu heran yang tidak bergerak sama sekali, Prajurit itu mencolek - colek pedang kayu yang di masih di arahkan ke arahnya. Melihat itu membuat Prajurit itu dan Akhsan sadar kalau ototnya mati rasa.
“Bisa kalian bantu aku baringkan tubuhku?”
“...Oh tubuhnya kram, bantu aku membaringkan tubuhnya Prajurit.”
Mereka berdua membantu Edgar membaringkan tubuhnya, badannya benar - benar terasa keras saat mereka meluruskan tubuhnya agar dia tidur telentang, Prajurit itu merasa tidak heran melihatnya karena Edgar sudah bertahun - tahun tidak menggerakan tubuhnya, waktu sebulan berolahraga tidak mungkin membuat tubuhnya terbiasa, namun lain halnya dengan apa yang Akhsan pikirkan.
‘Pangeran ini gila! apa benar dia tertidur 13 tahun.”
Akhsan yang mengerti anatomi manusia terkejut melihat tubuhnya dari dekat yang tidak kelihatan besar berotot seperti prajurit itu, tapi begitu padat berisi, apalagi melihat saat ini otot - ototnya seperti tengah menjerit karena kekurangan ruangan untuk tumbuh.
Dia tidak mengetahui perkembangan Edgar hingga membuat tubuhnya seperti itu karena bantuan obat pemulih stamina mujarab, walaupun Edgar mengasah otot - ototnya dengan latihan ekstrem tapi tetap saja tubuhnya membutuhkan nutrisi dan waktu agar dapat berkembang mengisi, seperti adonan kue.
‘Latihan neraka seperti apa yang Pangeran ini lakukan?’
Dibalik wajahnya yang penasaran Akhsan merasakan pandangan yang berbeda melihat seorang bangswan di hadapannya, yang terlihat menyiksa dirinya dengan latihan berat hingga buktinya terlihat jelas di tubuhnya.
__ADS_1