
Setelah beristirahat beberapa menit Edgar merasa bisa menggerakan tubuhnya kembali begitu normal, walaupun dia masih merasakan sekujur tubuhnya sedikit kesakitan karena dia terlalu memaksakan ototnya berlatih.
“Ha! Sudah kuduga kalau kamu sedang latihan disini Pangeran.”
Suara itu datang dari Lilia yang terlihat cemberut melihatnya, Edgar merasa dirinya tidak melakukan kesalahan apapun, hanya terdiam heran. Dia melihat lilia membawa karung besar yang tampaknya dia sedang kesulitan membawanya. Lilia terlihat lelah saat sampai di dekat mereka.
“Itu terlihat berat?”
“Lalu kenapa diam? Harusnya kenapa kalian membantuku?”
Akhsan terlihat penasaran melihat apa yang Lilia bawa ternyata terlihat begitu besar, Lilia melihat mereka tampak melongo melihat dirinya seperti orang bodoh, mereka bertiga terlihat melihat satu sama lain, dan menjawab begitu kompak.
“...Kenapa kami harus?”
Lilia masih cemberut dan jengkel mendengar mereka mengatakan itu kepadanya, Edgar hanya tertawa kecil mencoba menenangkan Lilia yang tampak seperti itu, Prajurit itu tampak bersiul berpura - pura tidak melihatnya. Sedangkan Akhsan melihatnya tampak tidak bersalah sama sekali dengan ekspresi datarnya.
“Maaf Lilia, kamu bisa lihat kalau aku sedang kelelahan sehabis latihan.”
“Oh, lagi - lagi kamu terkapar setelah latihan Pangeran.”
Nadanya terdengar begitu ketus ditambah Lilia terlihat melipat kedua tangannya masih dengan wajah cemberut tampak seperti tidak peduli dengannya.
"Apa yang kamu maksud Lilia? Apa Tuan Edgar selalu seperti itu setelah latihan?”
“Tentu saja, bahkan dia pernah terkapar seperti itu saat tidak ada orang.”
Akhsan yang mendengar itu tampak memikirkan hal yang berbeda seperti melengkapi tebakannya yang benar terhadap Edgar yang selama ini begitu bekerja keras.
‘Oh, yang waktu itu ya.’
Edgar tertawa geli mengingat kejadian yang Lilia maksud, saat dia sedang latihan di tengah hujan dan tiba - tiba ototnya kram, yang membuat dirinya terkapar sendirian berjam - jam di tengah hujan yang waktu itu membuat Lilia terlihat kebingungan mencarinya, tapi jika Edgar pikirkan baik - baik dia sekarang tidak membutuhkan waktu lama untuk memulihkan dirinya karena stamina nya semakin meningkat.
“...Ngomong - ngomong apa yang kamu bawa Lilia?”
__ADS_1
“Aku pikir kamu tidak mau tanya.”
“Kalau begitu aku tidak jadi tanya.”
Lilia merasa terkejut mendengar itu, dia merasa tidak mau usahanya membawa karung berat itu kesini menjadi sia - sia karena tidak ada yang mengapresiasi usahanya yang membuatnya tidak jadi menggoda Edgar. Dia menjelaskan sendiri tanpa ada yang memintanya.
“Eh-eh…, sebenarnya aku barusan pulang dan melihat seseorang mengantarkan pedang beserta perisai ini untukmu, karena dari itu aku mencarimu.”
“Mungkin itu orang suruhan Albert mengantarkan hadiah untuku, beruntung sekali kamu bertemu dengannya kalau tidak orang itu pasti akan kembali besok. Terimakasih Lilia.”
Mendengar itu membuat Lilia tersenyum tersipu malu membuat perasaannya terlihat baik, seperti tidak ingat kalau tadinya dia sedang kesal karena kesulitan membawa karung berat berisi pedang dan perisai yang ada di dalamnya.
‘Gampangan sekali.’
Hal yang terpikirkan mereka bertiga setelah melihat perubahan suasana hati Lilia yang begitu cepat, mereka melongo melihat Lilia yang sedang bertingkah malu malu kucing karena mendapatkan pujian. Edgar merasa kalau seluruh orang di rumah besar ini sudah paham kalau Lilia agak tidak beres.
Edgar melihat di dalam karung itu ada sebuah perisai berukuran sedang, perisai itu berbentuk segi 5 terbalik dengan sisi - sisinya yang lebih lebar yang terbuat dari besi yang dilapisi warna perak polos. Perisai itu tampak tidak ada yang spesial di mata Edgar.
Edgar lalu melihat keseluruhan pedang besi bermata dua itu terlihat begitu simpel namun indah dengan ukiran duri mawar di pangkal gagang dan dengan sebuah emblem mawar berwarna perak lambang keluarga Rosenberg terpasang di ujung gagang. Edgar menyadari sesuatu dari pedang ini yang membuatnya tertawa geli.
“Jadi ini pedang yang kamu maksud Pangeran.”
“Iya, aku pikir pedang ini sudah hilang atau dicuri.”
“Lalu bagaimana kamu tahu kalau pedang ini pedang yang dulu kamu gunakan saat berlatih?”
“Ah, itu karena ukiran yang ada di ujung bilah pedang itu.”
Lilia merasa penasaran dengan ukiran yang di maksud, Lilia memperhatikan dengan seksama dan menemukan sebuah tulisan yang terukir membuat Lilia mencoba membacanya.
“Hidup seperti pedang, diasah tajam atau tumpul berkarat.”
“Wow, Bagaimana kamu bisa berpikir membuat tulisan seperti ini Pangeran?”
__ADS_1
Pertanyaan Lilia membuatnya berpikir sejenak mengingat dirinya saat membuat tulisan itu yang sebenarnya tidak memikirkan makna apapun karena menurutnya tulisan itu terdengar keren dan belum lagi waktu berlatih bersama Edward terlihat dia begitu menyukainya, dia seperti merasakan motivasi melihat tulisan itu.
“Hanya terlintas begitu saja.”
Edgar tertawa kecil, dia merasa tidak enak untuk bilang kalau dia hanya asal menulis karena melihat mata Lilia yang tampak bersinar - sinar melihat tulisan itu membuat Edgar hanya diam mencoba memalingkan wajahnya.
“Bolehkah aku pangeran?”
Ashkan meminta untuk memeriksanya lebih dekat. Ashkan terlihat memperhatikan dengan seksama bilah pedang itu seperti sedang mengeceknya menyeluruh mencari sesuatu yang merasa janggal menurutnya yang mungkin dia dapat temukan. Dia melihat pedang itu tidak menunjukan sesuatu yang janggal ataupun pesan tersembunyi yang dia dapat temukan.
“Kenapa kamu melihatnya seperti itu Ashkan, apa yang kamu cari?”
“Ah, tidak pangeran, aku merasa pedang ini begitu indah dan terawat walaupun lama tidak digunakan.”
Edgar merasa bilah pedang itu baru dipoles sebelum dibawa kemari, dan melihat gagang pedang ini terlihat lebih kecil belum diganti untuk menyesuaikan genggaman tangan nya yang sekarang. Edgar meminta pedangnya kembali dan mencoba mengayunkan pedang itu bergantian secara horizontal maupun vertikal dengan satu tangannya.
‘Sepertinya benar, aku merasa tidak nyaman menggenggamnya.’
‘Aku rasa lebih baik mengujinya.’
Edgar terpikir kondisi fisiknya sudah begitu baik dan memiinta perajurit itu untuk kembali melakukan latihan bersamanya menggunakan pedang sungguhan kali ini, sekaligus mencoba teknik berpedang itu ketika menggunakan perisai.
“Pedang sungguhan? Kamu yakin Pangeran.”
“Tenang saja, kondisiku sudah cukup baik, bahkan tidak perlu ragu untuk mengeluarkan seluruh kemampuanmu, tidak mungkin hal buruk terjadi kan.”
Perajurit itu terlihat begitu khawatir dengan wajahnya yang cemberut karena merasa tidak bisa menolak permintaanya, karena takut akan mendapatkan hukuman jika ada laporan tidak puas dari Edgar yang sampai di telinga kepala penjaga nanti, ajakan Edgar tidak begitu menguntungkan baginya karena sebenarnya yang dia takutkan kalau misalkan terjadi sesuatu kepada Edgar dia merasa akan di hukum penggal. Membayangkannya saja sudah membuatnya terlihat pucat.
Edgar terlihat tengah bersiap - siap dengan peralatan pelindung tangan sederhana dari kulit yang dia kenakanan, dan memasang sabuk memberikan tempat untuk sarung pedang itu menggantung di pinggangnya. Sedangkan Prajurit itu tampak masih membayangkan hal yang tidak menyenangkan.
“Baiklah, apa kamu siap!”
“...Tu-tu-tunggu Pangeran!”
__ADS_1
Edgar langsung berlari menerjang, Prajurit itu kelihatan tidak siap terlihat kedua tangannya seperti memberikan tanda meminta Edgar untuk berhenti, melihat Edgar yang masih melanjutkan berlari membuatnya panik dan berlari dari Edgar, hal itu membuat mereka berdua terlihat seperti sedang bermain kejar - kejaran.