Land Of Thorns

Land Of Thorns
Malam panjang bagian 2


__ADS_3

Walaupun begitu mereka terlihat lebih rileks saat melihat Paman pemilik kedai yang begitu fokus dengan ekspresi seriusnya yang tampak mengintimidasi mereka.


Sikap mereka jelas terlihat berubah saat setelah mengetahui kalau Paman pemilik kedai mengikuti rencana Edgar untuk menyerang bandit, sebelumnya mereka tampak hanya ingin menjaga muka mereka sebagai tentara bayaran dan asik bercanda gurau dengan yang lain.


“Tampaknya Paman ini cukup terkenal, apa dia dulunya tentara bayaran?”


Edgar bergumam sendiri saat dia melihat perubahan sikap para tentara bayaran ketika Paman pemilik kedai mendekati mereka.


Tapi jika dilihat baik - baik kali ini mereka terlihat seperti prajurit tulen dengan sikap profesional yang menjaga wibawa mereka saat berada di dekat Paman pemilik kedai tersebut, hanya melihatnya membuat Edgar mengerti kalau mereka menghormatinya.


Seiring waktu menunggu Ludi dan pemburu lainnya mengintai, terlihat Silvi dari tadi memperhatikan Edgar yang sedang menyendiri tampak khawatir melihat raut wajahnya seperti seorang yang begitu banyak pikiran.


Disaat itu Edgar masih memikirkan soal bangsawan yang mendukung bandit kota ini dan merasa tidak mengerti apa keuntungan yang di dapat bangasawan tersebut mendukung sampah yang merusak kota.


‘Apa kamu tidak apa?’


Tanya silvi dalam pikiran saat menyentuh bahu Edgar sekalian menenangkan.


‘Aku tidak apa, aku hanya merasa tidak mengerti siapa bangsawan yang mendukung bandit kota ini.’


‘Kenapa kamu memikirkan itu?’


‘Seharusnya Roh peri memberitahumu, bukankah dia tau banyak tentang diriku.’


Jawaban Edgar terdengar begitu mengejek karena dia pikir seharusnya Roh peri sudah banyak memberikan informasi tentang dirinya kepada Silvi.


‘Mereka tampak kesal, harusnya kamu bilang ‘mereka’, karena Roh peri yang aku maksud bukan hanya satu.’


‘Aku tidak tahu itu, aku tidak bisa melihat mereka. Maaf kalau begitu Roh peri.’


‘Tidak apa, mereka bilang mereka hanya ingin menggodamu. Lagipula mereka hanya bisa melihat apa yang akan terjadi di depan masa depan tapi tidak bisa melihat hari - hari sebelumnya.’


Nadanya Silvi terdengar bercanda, mendengar Roh peri menggoda Edgar membuatnya tersenyum saat mengatakan itu dalam pikiran Edgar.


‘Kalau begitu apa mereka melihat kita mengalahkan bandit?’


‘Mereka hanya bilang kalau kita akan hidup dan mereka bilang kalau mereka bukan peramal karena mereka hanya bisa melihat sekilas apa yang terjadi di masa depan dan itupun secara tiba - tiba.’


‘Aku pikir itu semacam sihir mereka, padahal aku ingin meminta mereka melihat kerajaan ini.’


Mendengarnya membuat Edgar cemberut sedikit kecewa, karena ingin mengetahui masa depan kerajaan ini akan menjadi seperti apa nantinya dan untuk mengetahui apa dia melihat masa depan yang sama dengan mereka.


‘Kerajaan ini? Apa mungkin kamu seorang bangsawan di kerajaan ini?’

__ADS_1


Tanya Silvi yang begitu tiba - tiba membuat Edgar tampak diam berpikir sejenak, namun dia merasa akan percuma menyembunyikan


‘Iya, aku rasa tidak ada gunanya aku berbohong, aku tidak mau Roh peri membenciku karena mereka bilang padamu untuk percaya denganku.’


Silvi kembali tersenyum mendengar Edgar mengatakan itu padanya yang terdengar begitu lucu.


‘Lagipula aku merasa heran bagaimana para bandit ini bisa mengambil kalung pusaka milik Roh angin?’


‘Aku tidak mengerti bagaimana bisa ada di tangan mereka, tapi yang aku ketahui sebulan lalu kalung tersebut hilang dari tempat penyimpanannya di puncak gunung Alv.’


‘Ha! Bukankah gunung Alv puncak tertinggi di Blume? Jaraknya dari kota Rosten saja sudah memakan waktu 3 minggu.’’


Edgar begitu terkejut mendengarnya mengatakan kalung tersebut hilang dari gunung Alv yang begitu jauh jaraknya dari Kerajaan Rosen, dan belum lagi dia baru tahu kalau di puncak Alv yang sulit didaki memiliki tempat pusaka seperti yang Silvi bilang.


‘Jangan bilang kalau kamu tinggal di puncak Alv!’


Seru Edgar kembali memastikan karena sedikit mengingat kalau penyihir selalu tinggal di tempat yang janggal untuk dihuni.


‘Iya aku tinggal di puncak Alv.’


‘Sebenarnya ada apa dengan kalian para penyihir tinggal di tempat - tempat yang sulit dijangkau manusia.’


Edgar mengatakan itu karena dia mengingat tempat yang cukup dekat dari kerajaan Rosen yang juga menjadi tempat tinggal penyihir dan penduduk manusia peri yang tinggal di hutan besar pemakan mimpi. Dimana saat manusia yang masuk ke tempat tersebut akan tertidur selamanya.


‘Sudah aku bilang kalau ini ada hubungannya dengan sihir mistik yang kamu rasakan ada pada diriku.’


Apa yang dikatakan Edgar membuat Silvi melihatnya beigtu tertarik, sudah 2 kali Edgar melihatnya tampak tertarik ketika dia bilang sihir misik yang membuatnya mengerti kalau Silvi begitu bersemangat dengan sihir.


Tidak lama dari itu Edgar melihat Ludi telah kembali dari pengintaian, hanya saja kali ini Ludi tampak menunjukan ekspresi yang berbeda dari pengintaian yang sebelumnya.


“Ada apa Ludi, kenapa dengan ekspresi itu?”


Tanya Edgar begitu penasaran melihat Ludi dan yang lainnya tampak begitu pucat.


“Mereka bukan manusia Edgar!”


“Apa yang kamu maksud Ludi?”


“Aku menemukan bangunan yang tampak berbeda seperti yang kamu bilang, di situ aku melihat…”


Ludi dan pemburu lainya tampak mual saat dia hendak menceritakan apa yang mereka lihat dari pengintaian mereka.


“..., mereka sedang menaruh kumpulan mayat di kereta kuda pengangkut barang, mereka menumpuknya di kereta kuda!”

__ADS_1


Ludi kembali melanjutkan, dia menceritakan sesuatu yang buruk dia temukan dari tempat tersebut.


“Apa kamu yakin itu tubuh manusia?”


Edgar bertanya kembali memastikan karena Ludi tampak tidak begitu rileks saat dia berbicara.


“Walaupun gelap mataku ini masih berfungsi dengan normal Edgar! Aku melihat mereka melempar seorang gadis kecil yang begitu kurus bersama dengan korban yang lainnya!”


“Ini gila! Untuk apa mereka melakukan itu?


“Itu juga suatu hal yang ingin aku ketahui!”


Ludi terdengar begitu emosi saat menceritakan apa yang dia temukan pada Edgar. Melihat kematian sebetulnya merupakan hal biasa bagi mereka yang berada di pekerjaan berbahaya seperti ini, tapi melihat penduduk yang tidak bersalah di distrik kumuh menjadi korban, membuat Ludi dan yang lainnya merasa tidak tahan melihat sesuatu yang tidak manusiawi.


‘Untuk apa para bandit melakukannya, apa mereka menjual organ manusia?’


Dikepala Edgar muncul begitu banyak pertanyaan tentang apa yang sebenarnya mereka lakukan kepada penduduknya saat ini.


“Ludi, bagaimana dengan gudang penyimpanan tersebut?”


Tanya Edgar padanya untuk membuat yang lain kembali fokus ke dalam rencana terlebih dahulu saat ini.


“Seperti yang kamu duga aku melihat seorang keluar dari bangunan di sebelah pos tiga!”


Edgar mengumpulkan mereka membahas rencana apa yang akan dia lakukan, dia melihat mereka semua tampak merasakan hal yang sama seperti apa yang Ludi rasakan, Edgar tahu kalau hanya berpikir tidak akan mendapatkan jawaban apapun, dia harus mencari tahu sendiri dan melihat langsung apa yang bandit sembunyikan di markas mereka.


“Kita harus melakukan serangan ini bersamaan. Untuk para pemanah pastikan kalian mengunci target kalian di pos 2 dan 3, saat yang lain menghabisi pengawas di pos pertama tembakan anak panah kalian.”


“Kita harus membagi menjadi 2 kelompok. Ludi, Paman pemilik kedai dan yang lain kalian lewat sisi selatan. Sisanya ikut denganku lewat sisi utara.”


“Disaat aku memberikan sinyal kelompok yang bersamaku akan menyerang gudang persembunyian tersebut, dan aku harap kalian bisa menerobos masuk untuk langsung menyerang markas mereka.”


Jelas Edgar pada mereka  mengenai rincian rencana untuk melakukan serangan kejutan mereka.


“Lalu apa yang akan kita lakukan dengan bandit kecil ini?”


Tanya seorang tentara bayaran di dekat bandit kecil tersebut saat Edgar menyelesaikan membahas rencana penyerangan.


“Buat saja dia pingsan, kita sudah tidak membutuhkannya saat ini!”


“Kita akan cari tahu sendiri rahasia apa yang mereka sembunyikan di markas mereka!”


Ucap Edgar kembali saat mereka semua hendak pergi memulai penyeragan mereka malam ini.

__ADS_1


__ADS_2