Land Of Thorns

Land Of Thorns
Rahasia di bawah tanah bagian 1


__ADS_3

Mereka sedang menunggu Silvi yang terlihat sedang mengayunkan tangannya dari tadi tampak seperti merapalkan sebuah mantra, tidak lama mereka merasakan hembusan angin yang mengelilingi tubuh Silvi.


Silvi mengayunkan tanganya tampak mendorong angin untuk masuk kedalam jalan bawah tanah, Silvi yang memejamkan matanya begitu memfokuskan pikirannya pada angin yang dia hembuskan.


“Apa sudah selesai?”


Tanya Ludi yang sedang berjongkok didekatnya, dia melihat tampak heran karena tidak merasakan angin yang sebelumnya dia rasakan.


“Sepertinya belum, dia terlihat masih begitu fokus.”


Edgar menanggapinya, saat dia mendekati Silvi dan memperhatikan begitu serius dengan tangan menopang dagu lalu menoleh memperhatikan jalan bawah tanah tersebut.


Silvi tiba - tiba membuka matanya dia melihat Edgar yang ada dihadapannya langsung menepuk bahu Edgar untuk berbicara dalam pikirannya.


‘Sebuah penjara, aku menemukan jalan bawah tanah ini tampak aman dengan banyak penjara bawah tanah di dalamnya.’


‘Kamu yakin kalau tidak ada jebakan dibawah sana?’


‘Sepertinya, karena ini hanya diperuntungkan menjadi akses jalan, aku merasakan ada orang yang melalui jalan ini sekarang.’


Jelas Silvi kalau dia merasakann keberadaan seseorang yang sedang melalui jalan bawah tanah saat ini,


“Apa yang dia katakan anak muda?”


Tanya Paman pemilik kedai memanggil, dia terlihat tidak begitu sabaran karena sudah dari tadi dia berdiri memperhatikan Silvi dengan kapak yang dia rangkul dengan kedua tangannya di atas pundak.


“Jalan bawah tanah ini tampaknya cukup aman Paman, dia bilang begitu karena dia merasakan jalan bawah tanah ini sepertinya penjara bawah tanah yang mereka gunakan untuk menahan penduduk distrik kumuh yang mereka sekap.”


“Apa hanya itu yang dia lihat?”


Apa yang Paman pemilik kedai itu ucapkan membuat Edgar menoleh melihat Silvi tapi tampaknya Silvi sudah membaca gerak bibirnya dan tahu apa yang Paman pemilik kedai katakan, Silvi hanya menggelengkan kepala dengan wajah muram tampak lelah.


“Sepertinya kemampuan Silvi tidak bisa membuatnya melihat lebih jauh lagi, tapi setidaknya kita tahu kalau jalan bawah tanah ini tidak begitu mencurigakan.”


“Meskipun begitu kita harus berhati - hati. Ludi! Ambil obor itu dan pandu kami di depan, hanya kamu yang memiliki penglihatan bagus dalam gelap.”


Pinta paman pemilik kedai yang melihat ke arah Ludi yang sedang menjongkok tampak bosan menunggu, eksperesinya Ludi menunjukan kalau dia ingin menolak permintaanya, tapi setelah melihat tatapan Paman pemilik kedai yang begitu menyeramkan melihatnya membuat dia merasa tidak dapat menolak.

__ADS_1


“Ya baiklah paman, tapi jika ada sesuatu aku akan mengandalkanmu, pertarungan di tempat sempit begitu tidak cocok denganku!”


Ludi mengatakannya sambil mengambil obor di dinding ruangan untuk membantu mereka mendapatkan cahaya di dalam jalan bawah tanah yang terlihat gelap.


Mereka menuruni tangga menuju jalan bawah tanah, di dalam jalan tersebut mereka tampak berbaris dengan Paman pemilik kedai dan Edgar yang berada di tengah. Jalan bawah tanah ini cukup lebar untuk 2 orang yang berjalan beriringan tapi mereka lebih memilih berbaris untuk menyiskan ruang agar dapat leluasa bertukar posisi nantinya.


Perjalanan mereka tidak begitu lama hingga menemukan sumber cahaya lain yang juga berasal dari obor yang berada di dinding saat mereka mereka melewati tikungan jalan ke arah kiri mereka.


Mereka melihat di sisi kanan mereka berjejer ruangan dengan jeruji besi, mereka tahu kalau ini penjara bawah tanah yang para bandit gunakan, tapi dari awal mereka melintas mereka tidak melihat ada satupun seseorang yang ditahan di balik jeruji besi.


“Bukankah area bawah tanah ini begitu luas!”


Terucap begitu saja saat Ludi memikirkan mereka yang sudah berjalan cukup jauh.


Mereka tidak sadar kalau jalan bawah tanah yang mereka lalui berjalan memutar tidak langsung mengarah menuju markas bandit yang menjadi tujuan mereka. Luas tempat ini yang menyebabkan Silvi tidak menemukan pintu keluar saat dia menggunakan sihir anginnya.


Mereka kembali melewati sebuah tikungan ke arah kanan mereka, dengan jalan yang tampak sama, namun kali ini berjejer jeruji besi disebelah kiri mereka, tidak lama setelah melewati beberapa ruangan mereka menemukan 3 anak laki - laki yang disekap dalam penjara.


“Hoi anak kecil! apa kamu dapat mendengarku?”


Seorang anak kecil tampak berusaha menggerkan jarinya begitu sulit saat mendengar keributan yang Ludi buat, anak tersebut terlihat begitu kesulitan untuk membuka matanya.


“Sepertinya dia masih hidup … mundur Ludi aku akan coba membukanya!”


Paman pemilik kedai menarik Ludi menyingkir dari jeruji besi, dia melihat kalau jeruji besi ini menggunakan gembok untuk mengunci mereka yang berada di dalam. Dia dengan sekuat tenaga mengayunkan kapaknya menghancurkan gembok yang mengunci dan membukanya dengan mudah.


Ludi dengan cepat masuk menghampiri anak yang tengah tersadar, dia melihat bibir anak tersebut begitu kering dan mengeluarkan tempat minuman yang dia bawa membantunya perlahan meminum air dari tempat yang dia bawa.


Edgar menghampiri anak - anak yang lainnya, dia mencoba memeriksa dan tidak merasakan denyut nadi yang berdetak, dia melakukan hal yang sama terhadapan anak yang lain juga tapi mendapatkan hasil yang sama kalau mereka semua tidak bernafas kecuali anak yang sedang bersama Ludi.


Anak - anak ini memiliki bekas luka yang sama di leher mereka, seperti sebuah bekas luka akibat sesuatu yang mengigit mereka.


‘Anak ini manusia hewan.’


Itu yang Edgar pikirkan saat memeriksa anak yang ada di hadapannya sudah tidak bernafas.


Hanya anak ini yang berbeda dari yang lain saat Edgar memperhatikan, Anak kecil ini memiliki kuping lebar berubulu seperti kuping seekor anjing hutan pada umumnya dengan ekor kecil berbulu, membuat Edgar yakin kalau anak ini berasal dari ras manusia anjing.

__ADS_1


Uhuk!


Anak kecil tersebut tersedak air minum yang masuk ke mulutnya dan dia malah memuntahkan air yang dia minum yang bercampur dengan darah, membuat Ludi terkejut melihatnya apalagi anak ini tampak ingin mengatakan sesuatu padanya.


“Apa yang kamu katakan!”


Ludi tidak mengeriti apa yang anak kecil itu katakan padanya, suaranya begitu kecil hingga membuat Ludi kesulitan mendengarnya. Dia kemudian mendekatkan telinganya mencoba mendengar kembali apa yang anak kecil tersbut katakan.


“To-long … selamatkan ka-mi”


Suara anak kecil tersebut masih terdengar begitu lirih.


Walaupun begitu Ludi akhirnya dapat mendengar apa yang anak ini katakan padanya, setelah mengatakannya anak kecil tersebut kembali tidak sadarkan diri.


“Apa yang dia katakan Ludi?”


Tanya Edgar penasaran yang berdiri di dekatnya, Edgar memeriksa anak kecil itu dan menyadari anak tersebut masih bernafas walau perlahan.


“Tolong selamatkan kami. Itu yang dia katakan … kita harus selamatkan anak ini, aku akan membawanya keluar mencari pertolongan!”


Ludi berusaha membangunkan anak kecil tersebut mencoba untuk membopongnya, namun Edgar menghentikan dirinya.


“Kamu tidak akan sempat Ludi.”


“Apa yang kamu lakukan Edgar! Kita harus menolongnya!”


“Lihat situasinya bodoh!”


Ludi terlihat begitu emosi membentak Edgar hingga tampak terlihat urat nadi muncul di keningnya saat melihat Edgar menahan dirinya. Edgar tahu kalau anak ini tidak mungkin selamat saat ludi membawanya sampai ke rumah sakit ataupun tabib terdekat. Belum lagi mereka masih harus mengurus bandit.


“Tenang Ludi! Aku mengerti perasaanmu terluka melihat anak - anak ini bernasib malang. Aku mengerti kamu tidak tega melihat mereka bernasib sama seperti adikmu. Tapi jika kita ingin menyelamatkannya saat ini, kita harus langsung menghancurkan masalahnya.”


Ucap Paman pemilik kedai sambil mengelus kepala Ludi, ucapannya membuat Ludi terlihat begitu murung dan ketakutan serta menahan rasa sedihnya.


‘Adik? Dia tidak pernah cerita kalau dia punya adik, apa itu yang membuatnya menjadi pemburu bandit di kehidupan lainnya.’


Edgar bicara dalam benaknya tampak terkejut, tidak menyangka Ludi memiliki seorang adik, mereka lama berteman tapi dia tidak pernah menceritakan persoalan keluarganya dan Edgar juga tidak mau membuatnya mengingat certia kelamnya, itu yang di ingat Edgar saat mereka berteman baik di kehidupan lainnya.

__ADS_1


__ADS_2