
Suara paman yang terdengar itu menyulut para tentara bayaran yang tadinya tampak memasang wajah tidak percaya, kini terlihat geram menunjukan wajah mereka yang garang, dan terlihat seseorang mulai bergerak menabrakan dirinya ke salah seorang bandit, dan kemudian diikuti oleh yang lainnya melakukan serangan hingga keadaan di depan situ terlihat begitu kacau.
Ludi dan Paman terlihat bersiap dengan senjata ditangan mereka, Paman berlari ke arah Marlo mengayunkan tebasan berat secara vertikal ke arahnya namun Marlo menahan dengan pemukul besinya, tidak ketinggalan Ludi melepaskan anak panah mengincar kakinya hingga anak panah itu mengenai salah satu kakinya.
Sedikit merasakan sakit, Marlo melawan mendorong pemukulnya dengan kuat hingga menghempaskan Paman dengan memanfaatkan itu Marlo melayangkan pukulan kuat dengan tangan lainya, dia melayangkan pukulan hingga mengenai wajah Paman. Lalu menghindari Paman dia berlari memperpendek jarak dengan Ludi selagi dia menghindari panah yang terbang ke arahnya.
Dia melayangkan pemukulnya begitu cepat hingga membuat Ludi tidak dapat menghindar dan terkena serangannya hingga mengeluarkan sedikit darah dari mulutnya. Dalam sekejap mata, darah yang keluar itu langsung membeku. Baru sebentar mereka bergerak tapi itu sudah membuat mereka berdua sulit bernafas.
“Apa kalian yakin kalian bisa menghentikan diriku dalam keadaan seperti itu?”
Marlo tersenyum menyeringai memperhatikan mereka berdua yang masih kesulitan untuk bernafas. Semakin melihat mereka semakin membuatnya tertawa.
‘Rasanya benar - benar seperti bertarung di atas gunung.’
Pikir Ludi yang duduk bersimpuh menahan dirinya tidak jatuh selagi dia mengatur nafasnya, Ludi melihat ke arah Paman yang kini mulai bernafas dengan teratur selagi dia bangkit kembali melawan Marlo.
‘Apa yang harus kulakukan. Apa yang harus aku lakukan, berpikir Ludi.’
Pikirnya kembali selagi dia memukul tangannya ke tanah, lalu dia kembali melihat ke arah paman yang tampak kesulitan bertarung dengan Marlo walaupun dia terlihat mengatur nafasnya dengan normal.
“Menjauh dari sini Ludi, lihat mereka yang lain, mereka tampak bernafas dengan normal. Aku rasa semakin kita mendekat ke arahnya semakin dingin juga udara di sekitarnya.”
Teriak paman pada Ludi, lalu dia kembali melanjutkan.
__ADS_1
“Dengar semuanya, jangan ada yang mendekat kemari! … itu berlaku untukmu juga Ludi!”
Teriakan Paman yang membuat mereka memperhatikannya. Mendengar itu membuat Ludi melihat sekitarnya, melihat keramaian orang - orang yang kembali bertarung di tanah terbuka itu. Ludi menggertakan giginya dia kembali memukul tanah. Ludi dengan cepat berdiri dan berlari menjauh dari Paman. Dia benar - benar terlihat kecewa.
Selagi terlihat kesal Ludi sejenak berhanti dan melepaskan anah panahnya berulang kali dengan cepat lalu dia lanjut berlari dan kembali berhenti sejenak mengulangi itu berluang - ulang, membantu tentara bayaran yang lain mengalahkan para bandit.
Melihat Ludi yang menunjukan dirinya memanah seperti itu membuat banyak mata tertuju padanya, sebuah kekaguman bagi mereka yang menjadi sekutunya. Namun sebuah kengerian bagi mereka yang menjadi targetnya.
“Tenangkan dirimu Ludi!”
Teriak salah seorang tentara bayaran di dekatnya yang menyarungkan pedangnya, dia dengan cepat mengejar Ludi dan menangkapnya. Berada di belakangnya dia memeluk begitu erat mengunci Ludi hingga dia dapat lanjut memanah.
“Apa yang kamu lakukan, kendalikan emosimu Ludi. Apa kamu tidak sadar kamu melepaskan anak panah begitu banyak!”
Jawab Ludi yang berontak berusaha melepaskan dirinya dari seorang tentara bayaran yang menangkapnya begitu kuat hingga menghentikan langkah Ludi.
“Percaya saja pada Paman, dia pasti akan mengalahkannya!”
“Apa kamu lihat wajahnya? Dia hanya bertingkah sok kuat di hadapan kalian! Kamu tahu kenapa dia pensiun menjadi seorang tentara bayaran?”
“Tentu aku tahu, tapi aku tidak tahu apa yang kamu maksud Ludi.”
“Dia masih memiliki luka sejak kejadian itu! Jika kamu mengingat kejadian di dalam hutan saat bertarung dengan manusia mengerikan itu, kejadian yang tidak mungkin kalian lupa karena disaat itu kita semua hampir mati!”
__ADS_1
Sedikit mengulik kisahnya, Ludi mengingat kejadian di dalam hutan 2 tahun yang lalu ketika mereka menjalankan sebuah misi sederhana yang datang dari penjaga kota untuk memeriksa keadaan hutan di dekat kota Rosten.
Misi itu menjadi sebuah mimpi buruk bagi mereka karena bertarung dengan seorang pria berwajah pucat dengan iris mata semerah darah yang memiliki kekuatan mengendalikan makhluk hitam yang dapat menyerupai seekor binatang yang sebelumnya dia lihat di bawah tanah, yang mereka sebut ‘gumpalan hitam’, itu adalah makhluk yang sama ketika mereka melawannya di hutan.
Mereka semua terluka begitu parah, bahkan Paman yang berdampak paling parah karena melindungi mereka sebelum memberikan keputusan sebuah perintah pada mereka untuk pergi menyelamatkan diri. Berada di dalam kepanikan membuat mereka terpencar dari satu sama lain, disitulah Ludi dan teman - temannya merasa kehilangan Marlo. Sebuah kejadian buruk yang masih diingat olehnya.
“Memangnya apa yang bisa kita lakukan Ludi?”
Ucap tentara bayaran itu yang tampak mengendurkan penjagaanya, hingga Ludi yang masih memberontak dapat terlepas begitu mudah, dan kini mereka berdua terlihat saling menatap mata.
Masih tidak ingin melepasnya pria itu lalu mencengkram erat kepala Ludi dengan kedua tanganya selagi dia menatap begitu serius. Itu membuat Ludi langsung membalas dengan mencengkam kerah baju pelindungnya yang terbuat dari kulit.
“Kamu sudah dewasa, lebih tua dariku, harusnya kamu paham. Kita selalu dilindungi olehnya, sebelumnya kamu hanya seorang gelandangan pemabuk. Sebelumnya aku hanya seorang anak yang nakal. Kamu ingin melihat dirinya yang hampir mati lagi?”
“Berkat dia kita menjadi seorang pemburu ataupun tentara bayaran dan membentuk kelompok kita sendiri, membuat nama kita di kenal di kota ini. Apa kamu pikir dia tidak terluka melawan salah seorang dari kita.”
Mendengar itu membuat orang yang mencengkram kepalanya melepaskan Ludi, lalu Ludi mendorongnya menjauh.
“Kamu dan yang lain bisa diam ataupun mengikuti perintahnya untuk menjauh dari Marlo. Aku akan mencari sesuatu untuk dapat menghentikan pergerakan Marlo!”
Setelah melihatnya yang tampak terdiam, Ludi dengan cepat berlari meninggalkan dia menuju ke arah jalan, keluar dari area markas ini.
‘Gudang penyimpanan itu, aku harus kesana. Pasti ada sesuatu disana yang bisa aku gunakan.’
__ADS_1
Pikir Ludi sesaat setelah dia keluar dari celah itu dan memperhatikan bangunan dan jalan di sekitarnya. Ludi dengan cepat berlari menuju gudang penyimpanan yang sebelumnya menjadi tempat persembunyian pasukan bandit yang menyergap, dan tanpa menyadarinya terlihat ada 3 orang yang tengah berlari masuk ke dalam bangunan yang memiliki pintu rahasia menuju jalan bawah tanah.