
“..., tunggu Pangeran, setidaknya kamu harus kenakan ini.”
“Memangnya ada yang mengenali wajahku yang sekarang Lilia?”
“Sebenarnya tidak, tapi setidaknya buat berjaga - jaga.”
Lilia memberikan pakaian yang dia bawa yaitu sebuah jubah dan membuat Edgar memakai jubah yang dibawanya, hanya sebuah jubah biasa yang ada tudung kepalanya untuk menutupi pakaian Edgar yang terlihat jelas seperti seorang bangsawan dan tudung nya untuk membantu menutupi wajahnya.
“Untung saja aku sudah membawa ini, setidaknya jika kabar Pangeran sedang di incar itu benar ini akan membuatmu sedikit tidak mencolok, cukup berguna kan?”
“Iya aku rasa kamu benar, jubah ini membuatku bisa menyembunyikan pedang yang aku bawa, akan merepotkan nantinya jika orang - orang melihat pedang ini.”
Edgar mengibaskan jubah yang dia kenakan, merasa ada gunanya Lilia membawa pakaian ini agar tidak menarik perhatian orang - orang sekitar ketika melihatnya.
“Terimakasih Lilia, aku rasa ini benar - benar berguna.”
“Baiklah, kalau begitu kami akan pulang, hati - hati.”
“Iya kalian juga, berhati - hatilah!”
Edgar memperhatikan mereka hingga pergi menjauh, memastikan mereka tidak mengikutinya nanti.
Dia berjalan di arah yang sebaliknya menyusuri gang kecil itu, apa yang Edgar lihat dari sekitarnya terlihat suasana begitu redup bahkan penduduk yang dia lihat tampak memasang muka cemberut. Edgar merasa seperti berjalan di suatu tempat yang tidak ada kehidupan, namun Edgar hanya bisa mengabaikan mereka yang terlihat seperti itu dan tetap berjalan.
Di gang kecil itu Edgar melihat plaza di hadapannya dan berjalan perlahan keluar dari gang kecil itu melihat orang - orang berlalu lalang di plaza itu walaupun tidak seramai seperti biasanya tapi itu terlihat cukup menyegarkan mata bagi Edgar yang lama tidak melihat keramaian.
Plaza yang sebagai titik keramaian kota memiliki 4 jalan utama yang juga berfungsi sebagai kompas, dengan jalan utara yang menuju dinding luar kastil, jalan barat yang terhubung menuju pelabuhan, jalan selatan dan timur yang menuju 2 gerbang selatan yang berbeda, yaitu gerbang yang berada di sisi barat dan sisi timur.
Dia melihat - lihat di sekitaran plaza yang luas mencari toko yang dimaksud, sembari Edgar melihat - lihat barang dagangan yang dijual dari pedagang kaki lima yang menggelar lapak lapaknya di sekitar jalan area plaza.
Edgar melihat semua pedagang yang ada memiliki kesamaan yaitu barang jualannya terlihat begitu sedikit dan tampak di wajah mereka tidak seperti pedagang biasanya yang akan senang barang dagangannya laku terjual, mereka semua terlihat begitu murung.
Dia yang tidak menemukan tempat itu membuatnya bertanya pada Pedagang yang ada di dekatnya yang tengah menjual aneka aksesoris.
“Permisi paman.”
__ADS_1
“Silahkan, apa yang kamu cari Tuan? apa kamu ingin membeli aksesoris, ini murah hanya dengan 30 keping koin perak..”
Lambai pedagang itu cukup ramah menawarkan barang dagangannya. Edgar memperhatikan orang itu merasa tidak enak mencoba memotong pembicaraannya yang tidak kunjung henti.
“..., atau barang ini, atau kalung untuk pacarmu tuan dia pasti akan senang jika kamu membelikan kalung yang terlihat indah ini.”
“Sebenarnya aku ingin bertanya alamat paman.”
“Cih, Aku pikir seorang pembeli. Aku tidak tahu alamat yang kamu maksud!”
‘Eh? Kenapa tiba - tiba … apa orang ini punya masalah kepribadian?’
Edgar merasa terkejut melihat senyuman Pedagang itu yang tiba - tiba berubah cemberut terlihat gusar. Pedagang tampak merasa tidak senang melihatnya dengan tangannya seakan memberikan isyarat mengusirnya, membuat Edgar merasa jengkel melihat Pedagang itu.
‘Baiklah akan aku lakukan seperti cara pedagang … penjepit rambut itu terlihat bagus!’
Matanya tengah tertuju pada sepasang penjepit rambut berwarna perak yang berbentuk sepasang sayap jika penjepit rambut itu disatukan, Edgar merasa itu sebuah hadiah yang cocok untuk diberikan kepada dua bersaudari itu sebagai ucapan terimakasih untuk mereka.
Dia terlihat merogoh kantong uang yang dia bawa, dia kurang mengerti tentang harga pasar saat ini tapi menurutnya 1 keping koin emas yang dia keluarkan akan lebih dari cukup untuk merubah raut wajah Pedagang itu dan memberikan informasi padanya.
“..., menarik sekarang baru kita bicara bisnis. Tentu saja tuan ini lebih dari cukup, aku tahu semua tempat yang ada di kota ini dari ujung ke ujung, jadi tempat seperti apa?”
Mata Pedagang itu terlihat berbinar - binar melihat koin emas yang Edgar taruh di hadapannya, hanya saja Edgar terlihat jengkel karena saat Pedagang itu menjawabnya matanya hanya tertuju pada koin emas itu.
“Aku mencari sebuah tempat pandai besi yang bernama ‘tulang besi’, dimana aku bisa menemukannya?”
Pedagang itu melihat Edgar dengan seksama, begitu serius hingga dia menyipitkan mata saat Edgar bertanya padanya. Pedagang itu seperti sedang berpikir.
“Aku rasa tempat itu berada di jalan timur tidak jauh dari sini hanya berjalan sekitar 6 menit dan kamu akan menemukan gang kecil di sebelah selatan di sekitar gang kecil itu tepatnya.”
“Disitu ya.., simpan saja kembaliannya dan aku akan mengambil penjepit rambut ini.”
“Hanya itu saja tuan?”
‘Bukankah dia tampak seperti seorang penjilat sekarang.’
__ADS_1
Edgar tidak ingin melanjutkan pembicaraan dengan Pedagang itu, karena melihatnya tampak menggelikan seperti seekor anjing yang sedang birahi, membuat Edgar tidak menjawabnya hanya memberikan isyarat dengan tangannya kalau dia sudah merasa cukup, dan pergi meninggalkan lapak Pedagang itu.
Tidak jauh dari dia pergi, dia tidak sadar kalau Pedagang itu sedang berbisik dengan seorang yang bertampang garang yang dia panggil dan terlihat tangannya menunjuk ke arah dia berulang kali.
Belum lama dari Edgar meninggalkan plaza, Edgar melihat kereta kuda tanpa kusir yang lepas hingga ke bahu jalan akan menabrak seorang Gadis yang sedang berjalan ke arahnya.
Gadis itu terlihat sedang kesulitan membawa tas besar, yang besarnya terlihat tidak normal dan tas yang dibawanya terlihat cukup berat. Edgar melihat orang - orang sekitar tampak diam hanya melihat apalagi gadis itu masih tidak sadar kalau di belakangnya ada kereta kuda yang lepas.
Trutuk - trutuk!
Trutuk - trutuk!
‘Apa dia tuli!’
Edgar merasa percuma untuk berteriak memanggilnya, karena bahkan gadis itu tidak mendengar kuda itu sedang mencongklang dibelakangnya.
Melihat orang lain hanya melihat membuat Edgar merasa tidak tahan karena apa yang dia lakukan sama seperti mereka hanya melihat. Edgar dengan sigap berlari kencang sekuat tenaganya dan menangkap Gadis itu menjauhkannya dari bahaya, walaupun membuat mereka berdua tersungkur ke tanah.
‘Ho! Kenapa tiba - tiba ada kusirnya?’
Saat Edgar yang terjatuh dia melihat kereta kuda itu dan dalam sekelebat mata tiba - tiba dia melihat ada seseorang yang duduk di kursi kusir, walaupun tampaknya kereta kuda itu masih melaju kencang pergi menjauh.
“Apa kamu tidak apa - apa?”
Gadis yang masih berada di dekapannya itu terlihat memperhatikannya Gadis itu seperti sedang membaca gerakan bibir Edgar dan tidak lama itu menganggukkan kepala mengiyakan.
‘Oh, dia benar - benar tuli sepertinya.’
Edgar terdiam memperhatikan Gadis itu, dia terlihat menawan dengan rambut peraknya serta bintik hitam di atas bibirnya menambahkan pesona Gadis itu, hanya saja Edgar terdiam tidak memikirkan itu tapi ekspresinya lebih menunjukan kasihan pada Gadis itu.
Merasa mereka hanya menjadi sorotan perhatian membuat Edgar berdiri dan membantu Gadis itu untuk berdiri, Gadis itu menunduk berulang kali seperti berterima kasih padanya walaupun ekspresi wajahnya sedikit aneh karena menunjukan ekspresi sedih.
‘Kenapa bisa enteng?’
Edgar merasa heran saat membantu mengangkat tas besar yang keliahatan berat itu terasa begitu ringan walaupun bentuknya begitu besar melebihi tas normal. Edgar berpikir kalau mungkin itu berkat latihan yang dia lakukan hingga bisa terasa seperti itu dan membuatnya mengabaikan hal itu.
__ADS_1
Gadis itu pun pergi dan Edgar kembali melanjutkan perjalanan menuju pandai besi, hanya saja kali ini Edgar merasakan kalau ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.