
Mereka berhasil keluar dari dari rumah besar itu tanpa disadari siapapun kalau Edgar bersembunyi di dalam sebuah karung seperti barang bawaan.
Mereka bertiga saat ini masih menyusuri jalan menuju kota yang kira - kira mereka telah menempuh setengah perjalanan, lagipula jarak dari rumah besar menuju kota tidaklah begitu jauh, hanya memakan waktu sekitar 20 menit berjalan santai.
Bukan karena jalannya yang sulit, sudah pasti jalan menuju kastil di tata begitu baik dengan batuan padat yang disusun rapi dan rata, serta begitu luas dengan lebar 12 meter, hanya saja rutenya sedikit berputar mengikuti kontur bukit.
Jalan yang sengaja dibuat seperti itu untuk mempermudah transportasi kereta barang jika membawa barang berat, selain itu berguna untuk kepentingan pertahanan militer untuk serangan kejutan menguras perlahan pasukan yang menyerang sebelum sampai di dinding kastil utama, walaupun dalam sejarah kerajaan teknik pertahanan itu tidak pernah digunakan karena tidak ada yang menyerang hingga kastil utama.
Lanjut dalam perjalan mereka, Celine yang tidak tahu Edgar berada di dalam karung tampak terlihat ketakutan karena melihat karung yang ada di dekatnya dari tadi bergerak, membuatnya melihat Lilia yang sedang menjadi kusir tampak ingin memanggilnya.
Shrek - shrek!
Celine terlihat gemetar ketakutan saat karung itu tampak seperti ada yang menggeliat di dalamnya, tidak lama dari itu tiba - tiba karung yang dilihatnya tampak berhenti bergerak. Melihat karung yang seperti itu menimbulkan rasa penasaran baginya yang membuat dia menyentuh karung itu walaupun tampak ragu karena masih takut walaupun dia berulang kali menyentuhnya.
‘Sudah sampai dikota?’
Edgar yang mengira itu sebuah tanda dari Lilia kalau mereka sudah berada di dalam kota membuatnya memaksakan diri untuk keluar karena dia merasa tidak tahan karena begitu gerah berlama - lama bersembunyi, apalagi dia tidak berani berbicara takut terdengar oleh prajurit nantinya karena dia tidak bisa melihat keadaan di luar.
“Aaaaa!”
Celine yang berteriak karena melihat tangan Edgar yang tiba - tiba keluar dari dalam karung. Celine yang panik langsung mendekap Lilia dari belakang.
Edgar keluar dari persembunyiannya merasa begitu segar saat angin menyentuh tubuhnya yang berkeringat menahan gerah.
“Apa aku mengejutkanmu Celine?”
Celine tampak membenamkan wajahnya di punggung Lilia merasa tidak berani untuk melihat, namun dia merasa familiar dengan suara itu yang membuatnya mencoba mengintip melihat Edgar. Celine terlihat bingung saat melihat Edgar berada di tempat ini, dia melihat Edgar begitu heran, apalagi terlihat di wajahnya tampak bertanya - tanya.
“Apa Pangeran dari tadi bersembunyi?”
“Bisa dibilang seperti itu, Aku pikir kita sudah sampai di kota.”
Edgar terlihat memperhatikan sekitarnya tidak menemukan bangunan hanya melihat pepohonan di tiap bahu jalan.
__ADS_1
“Aku pikir kamu mau selamanya bersembunyi di dalam situ.”
Lilia tertawa geli mengejeknya bercanda, saat mendengar Edgar yang tampak kecewa keluar dari persembunyiannya.
“Mendengarmu begitu sepertinya kamu masih kesal karena aku meminta hal ini.”
“Tidak juga. Aku hanya bercanda.”
“Apa kita sudah melewati tembok terluar kastil?”
“Belum, aku rasa sebentar lagi di balik tikungan itu.”
“Tampaknya aku harus bersembunyi lagi.”
“Sebaiknya tidak usah.”
Edgar yang sedang mengambil karungnya kembali menjadi diam tidak melanjutkan untuk bersembunyi, namun dia merasa heran saat Lilia mengatakannya tidak perlu repot - repot bersembunyi.
“Apa maksudmu?”
Apa yang dikatakan Lilia membuat Edgar menurutinya. Saat mereka melewati tikungan itu mereka melihat tembok yang tidak begitu tinggi dengan bangunan kastil yang ukuran nya sama dengan kediaman Edgar tinggali. Edgar melihat kastil itu tampak ditinggalkan dan tidak terawat, terlihat dari banyakan tanaman yang tumbuh dari sela - sela bangunan itu.
Kastil itu adalah kastil pertama saat kerajaan Rosen dibentuk, yang bahkan sudah ada disitu sebelum kerajaan Rosen berdiri. Sebuah sejarah kerajaan tua yang bahkan Edgar belum ketahui karena tidak menemukan catatan sejarah mengenai kerajaan tua di wilayah ini sebelum Rosen berdiri, hanya itu yang Edgar ingat dengan kastil pertama itu.
Karena faktor perluasan wilayah dan keamanan membuat kerajaan Rosen mendirikan kastil baru di bagian terdalam yang membuat kastil pertama ini sebagai sebuah pos perbatasan yang membedakan batas kota dan wilayah tembok luar kastil.
Di ibukota Rosten ini memiliki 4 wilayah yang berbeda, di bagian terluar yaitu area luar tembok kota yang lahannya dipergunakan untuk pertanian. Bagian dalam kota yang dipergunakan penduduk. Tembok luar kastil utama yang umum dipergunakan militer seperti barak, dengan ada bangunan rumah besar yang ditinggali petinggi militer, area itu juga yang menjadi tempat tinggal Edgar, dan area terakhir tembok terdalam kastil utama sebagai pertahanan terakhir dan tempat tinggal keluarga kerajaan yang seharusnya Edgar tinggal disana.
‘Aku tidak pernah membayangkan tempat bersejarah itu ditelantarkan seperti itu.’
Dia tidak menyangka saat melihat kastil itu ditinggalkan tidak terawat dan gerbang yang seharusnya menjadi perbatasan tidak ada yang menjaga padahal tempat ini yang seharusnya ditempati beberapa prajurit jika memang untuk menjaga faktor keamanan, karena hanya ini jalan masuk satu - satunya jika tidak ingin mengitari tembok melewati perbukitan curam ataupun tebing laut utara.
“Apa mereka memotong budget pertahanan atau mereka yang terlalu pede dalam hal keamanan?”
__ADS_1
“Aku tidak mengerti itu Pangeran, tapi tempat ini sudah 4 tahun seperti itu.”
‘Dia bilang 4 tahun. Bukan dikecilkan prioritasnya tapi malah di tinggalkan.’
Edgar tahu kalau ini kedengaran janggal baginya, sebuah gerbang perbatasan antara wilayah kastil dan kota yang dibiarkan sama saja mempersilahkan siapapun untuk masuk baik penduduk maupun yang menyamar sebagai penduduk.
“Lihat itu kotanya Pangeran.”
Dalam heningnya Edgar ketika sedang berpikir, dia teralihkan saat Lilia memanggilnya. Edgar melihat kota Rosten di depan matanya, dengan bangunan - bangunan di sekitar jalan utara yang terbuat dari batuan kokoh yang disatukan terlihat indah di bawah langit sore baik itu bangunan kecil ataupun yang bertingkat.
Edgar meminta Lilia menjauhi jalan utama dan melewati gang kecil karena ragu nantinya akan bertemu dengan prajurit karena mereka berada di area tempat tinggal penduduk kelas menengah ke atas yang tidak mungkin tidak ada 1 atau 2 prajurit yang berpatroli disekitar.
Tidak lama dari mereka berjalan Edgar merasa sudah masuk cukup jauh di dalam kota dan karena plaza dirasa sudah dekat, meminta Lilia untuk berhenti dan melanjutkan dengan berjalan kaki.
“Terimakasih Lilia, berhati - hatilah saat kamu kembali.”
“Eh? Hanya seperti itu? Bukannya buruk jika aku pulang nanti dan mereka menemukanmu tidak ada di tempat?”
Seru Edgar melambaikan tangan nya setelah dia melompat dari gerobak itu dan berjalan meninggalkan Lilia membuat Lilia mendadak menghentikan laju keledai. Sedangkan Edgar yang mendengar Lilia tampak kecewa membuatnya menoleh melihat Lilia yang terlihat sedang cemberut saat menjawabnya.
‘Sebenarnya itu merepotkan, tapi jika mereka bersamaku itu juga akan merepotkan.’
Edgar mengerutkan keningnya seperti menolak saat melihat mereka dan terdiam berfikir sejenak untuk memutuskan melihat mereka berdua yang tampak menunjukan wajah memelas seperti ingin memintanya untuk tetap ikut.
“..., tidak! Kalian pulang saja!”
Namun Edgar mengerti kalau dua bersaudari ini nanti hanya akan merepotkan dia nantinya, belum lagi karena mereka wanita dan anak - anak Edgar tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi saat mereka mengikutinya.
“Kita tidak akan merepotkan!”
‘Bagaimana mereka tahu apa yang aku pikirkan!’
“Tetap saja tidak, dari sini aku akan pergi sendiri.”
__ADS_1
Mereka berdua menjawabnya bersama namun Edgar tetap bersikeras menolak mereka untuk mengikutinya yang membuat mereka berdua terlihat cemberut kecewa karena harus kembali ke rumah besar. Mereka berdua terlihat menurut menganggukan kepala mereka mengiyakan.