
Beberapa saat sebelumnya.
Ludi dan Paman pemilik kedai tengah terlihat sedang kesulitan bertarung melawan gerombolan bandit. Namun tidak hanya mereka berdua, tapi gerombolan bandit itu juga merasa kesulitan karena mereka berdua yang tiba - tiba muncul di belakang mereka membuat mereka tampak terapit dari kedua sisi.
“Aku menyesal menurutimu untuk menyerang mereka paman!”
Teriak Ludi selagi mengayunkan pemukulnya dengan gesit menyerang para bandit yang mengincar dirinya.
“Sudah ikuti saja! Tentu kamu tidak sadar kalau kita saat ini berada di pintu depan, Lebih baik kamu gunakan tenagamu itu untuk mengayunkan pemukul hebatmu itu Ludi!”
Dia tertawa kecil meledek Ludi, dan dengan bagian yang tumpul dari kapak nya itu dia terlihat memukul mundur 2 orang sekaligus yang tengah berlari ke arahnya..
Ludi berulang kali hanya menghindar dengan lincah para bandit yang menyerang dirinya, lalu dia tampak menggertakan giginya melihat pemukul di tangannya itu dan melihat kapak yang digunakan oleh paman. Sontak dia langsung cemberut melihat pemukulnya.
“Bukankah ini memalukan. Senjata ini tidak efisien hanya menguras tenaga!”
Ludi bergumam sendiri dengan nadanya yang terdengar cukup kesal.
Kemudian Ludi mulai kembali menggunakan pemukul di tangannya itu untuk menghantam kepala bandit yang dari tadi mengusik dirinya.
Setelah beberapa kali mengayunkan pemukulnya, Ludi tampak tersenggal dengan nafasnya begitu berantakan. Dia benar - benar tidak terbiasa menggunakan senjata jarak dekat, apalagi menggunakan pemukul yang terlihat berat itu.
“Aku hanya harus melakukannya itu kan?”
Teriak Ludi kembali melihat paman pemilik kedai yang terlihat begitu sibuk.
“Baik! Aku akan melakukannya, tahu begini aku lebih baik menggunakan cara tidak menyenangkan itu.”
Setelah mengatakan itu Ludi dengan sekejap berlari mendekati Paman walaupun dia harus berulang kali menghindar melewati para bandit yang berjaga di dekatnya, lalu di menerjang seorang bandit yang berada di dekat paman pemilik kedai.
“Ayo! Tunggu apalagi? Cepat lempar aku paman!”
Seru Ludi yang sambil berulang kali memukul dadanya.
__ADS_1
“Sebelumnya kamu ingin cara yang sulit karena tidak suka dengan cara itu. Lalu, kenapa kamu begitu tidak sabaran sekarang ini?”
“Tidak usah menggodaku paman, cepat lakukan!”
Paman pemilik kedai itu hanya tertawa geli mendengar Ludi yang memintanya melakukan itu, tetapi dia tidak langsung melemparkan Ludi. Dia terlihat masih membereskan beberapa orang di hadapan nya dengan ayunan kuat yang dia layangkan berulang kali hingga memberikan sedikit ruang untuknya.
Berada di belakangnya, Ludi terlihat cukup sibuk kembali mengayunkan pemukulnya membuat bandit itu menjauh darinya, namun Ludi tampak begitu terkejut saat dirinya tiba - tiba tertarik ke belakang dan terhempaskan hingga dia melayang di udara melewati beberapa orang di bawahnya.
Ludi mendarat ke tanah menggunakan tubuhnya hingga membuat dirinya berulang kali terguling kedepan dengan aman, walaupun saat terbangun dia mulai tampak sempoyongan dan menahan perutnya yang terasa mual.
“Aku benar - benar tidak menyukai cara ini … lebih baik aku belajar melompat berakrobat melewati mereka, daripada mengandalkan kekuatan nya untuk melemparku sejauh ini.”
Ucap Ludi yang masih sempoyongan. Dia menoleh kebelakang, melihat jaraknya dengan paman terlihat begitu jauh karena dia melihatnya begitu samar dengan cahaya ruang di dalam yang cukup redup.
Ludi lanjut mengecek busurnya selagi beberapa bandit yang terpencar di dekatnya masih tidak sadar kalau dia bukan bagian dari mereka, dia berulang kali menarik tali pada busurnya hingga membuatnya yakin kalau tarikan pada busurnya masih sempurna.
“Jadi seperti itu penampakan dinding kayu itu dari sini, sekarang kalian tidak ada perlindungan lagi untuk menghindar.”
Dari posisinya dia melihat dinding kayu di hadapannya itu hanya terlindungi di bagian depan, dan disisi yang dekat dengan celah itu, dia melihat jelas rangka kayu yang menopang dinding itu dan melihat dengan jelas para bandit penjaga yang tengah merunduk melindungi diri.
Namun karena melihat satu per satu penjaga yang berada di atas tumbang, membuat salah seorang bandit tampak sadar dan melihat Ludi yang tampak kembali melepaskan anak panahnya.
“Tangkap dia! Itu penyusup!”
Teriak salah seorang bandit yang melihat Ludi menggunakan panahnya. Teriakan itu langsung membuat bandit yang terpencar di sekitarnya mulai memperhatikan Ludi dan membuat dirinya berlari menghindari mereka.
Berada di depan celah itu, Ludi kembali melepaskan anah panahnya, dia menembakan itu hingga tepat mengenai prisai prajurit bayaran yang berada di baris depan, dan membuatnya terkejut melihat anak panah tersentak ke arah prisainya. Mereka semua memperhatikan ke arah Ludi.
“Buat apa bandit bodoh itu memanah dari depan?”
“Lihat dia melambaikan tangan pada kita, kenapa dia?”
Ucap tentara bayaran di barisan depan itu masih memperhatikan, mereka masih samar melihat, namun karena Ludi yang berulang kali melambaikan tangannya membuat salah seorang dari mereka memperhatikan dengan seksama.
__ADS_1
“Bodoh, Itu Ludi! Lihat baik - baik.”
“Hah? Itu benar Ludi, jadi itu alasan paman pemilik kedai meminta kita berjaga di celah ini!”
Ucap Tentara bayaran itu tampak memukul senjatanya ke perisai, mereka terlihat mulai bersemangat.
“Hoi! Apa kalian tidak mengantuk hanya diam disitu.”
Teriak Ludi selagi menadahkan tangannya melihat mereka.
Selang dari itu Ludi melihat mereka tampak mulai berlari ke arahnya, tanpa sebuah aba - aba mereka terlihat mulai menyerang, mereka berteriak bergantian memunculkan rasa takut bagi para bandit yang melihat itu. Ludi melihat kesana kemari memperhatikan mereka yang melewatinya.
“Kerja bagus Ludi, rencana yang hebat melakukan serangan dua arah seperti ini!”
Seru salah seorang tentara bayaran yang sejenak menepuk bahu Ludi dan lanjut berlari ikut melanjutkan serangan.
“Ha? Oh, jadi itu alasannya. Pantas saja paman menyerang mereka, jadi untuk ini.”
Ludi bergumam sendiri, dengan tangannya terlihat menopang dagunya, dia tidak menyadari rencana Paman itu yang mengajaknya untuk menerobos para bandit untuk memberitahukan mereka yang berada di depan untuk mulai menyerang.
Bagian pintu masuk itu terlihat begitu berdesakan oleh para bandit yang terlihat mulai kepanikan, mereka yang berada di dalam berusaha untuk keluar dan mereka yang berada di luar berusaha untuk masuk kedalam.
Melihat mereka seperti itu membuatnya menjadi sasaran empuk oleh tentara bayaran yang tidak mau ketinggalan memanfaatkan kesempatan itu, tapi Ludi yang melihat itu merasa heran. Karena menurutnya saat dia berada di dalam dia tidak melihat para bandit yang mencoba kabur dari paman.
‘Kenapa yang di dalam berlari keluar? Tidak mungkin paman memberikan dampak sebesar itu.’
Pikir Ludi yang berusaha melihat apa yang tengah terjadi di dalam.
Drururm!
Sebuah suara yang tiba - tiba muncul dari dalam yang kemudian diikuti oleh sebuah angin yang begitu kencang menabrak mereka semua hingga terpental ke depan pintu masuk. Ludi dan yang lain berada di dekatnya mencoba bertahan, tapi karena seseorang terpental ke arahnya, membuat Ludi ikut terhempaskan tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Ludi memegang kepalanya dan berusaha untuk bangun, perlahan angin kencang itu hilang tapi Ludi melihat sesuatu yang tidak terduga di dalam.
__ADS_1
Ludi membuka matanya begitu lebar, dia terkejut melihat seorang bertubuh besar yang membawa pemukul di pundaknya dan merasa melihat angin di sekitar yang tampak seperti sebuah badai bersalju itu mengelilingi pria bertubuh besar itu, bahkan membuat jalan di sekitarnya tampak tertutupi oleh butiran - butiran salju itu.