
Kembali ke waktu sekarang saat Edgar dan Silvi berada di dalam sebuah ruangan di markas bandit.
“Oh tuhan. Kenapa mereka berdua ada disini!”
Teriak Edgar yang melihat Celine dan Lilia tengah tergeletak di lantai ruangan, dan langsung mendekat memeriksa keadaan mereka berdua.
‘Apa kamu mengenal mereka?’
Sentuh Silvi pada Edgar yang berada di sebelahnya dan bertanya padanya saat dia memeriksa Celine yang masih tidak sadarkan diri.
“Iya, aku kenal mereka berdua. Mereka adalah pelayan yang bekerja di kediamanku.”
Balas Edgar yang menjawabnya mengeluarkan kata - kata itu dari mulutnya.
‘Sepertinya mereka tidak memiliki bekas luka itu di leher mereka ... Para Roh peri bilang kalau dia baik - baik saja.’
“Kenapa mereka bisa begitu yakin?”
‘Aku juga tidak mengerti, tapi mereka bilang kamu harus lebih mengkhawatirkan wanita yang bersamanya.”
Silvi terdiam memperhatikan Celine dengan seksama, dan tidak memperhatikan Edgar yang tengah mendekat ke arah Lilia untuk memeriksanya seperti yang para Roh peri sampaikan.
“Lilia! Astaga! Sadarlah … apa yang telah mereka lakukan padanya!”
Saat cahaya dari obor yang dia bawa didekatkan pada Lilia membuat Edgar begitu terkejut melihat Lilia memiliki memar di wajahnya dan dia berusaha membangunkannya berulang kali namun dia belum juga terbangun, Edgar memeriksa keadaanya dan dia merasa sedikit lega karena mengetahui dia masih bernafas.
Kemudian Edgar melihat Pria muda yang terikat di pojok dinding sedang memperhatikannya, mulut Pria itu juga terikat kain hingga dia tengah mengerang seperti ingin mengatakan sesuatu.
Edgar merasa aneh dan sedikit heran melihatnya karena dari tadi yang dia lihat hanyalah anak - anak dan wanita yang di sekap dalam bangunan ini tapi baru ini dia melihat ada seorang pria.
Pria itu tampak begitu kurus dan memakai jubah yang tampak seperti seorang pendeta, dan karena badannya yang kurus itu membuat pakaian yang dia kenakan tampak kebesaran, dan sedikit terlihat aneh melihatnya dengan rambutnya yang keriting berantakan tidak tampak seperti pendeta sungguhan.
Edgar perlahan mendekat ke arahnya dan membuka kain yang mengikat mulutnya untuk bicara.
“Cepat! Kalian harus cepat keluar dari tempat ini!”
Seru Pria muda itu selepas kain yang mengikat mulutnya terlepas.
“Tenanglah! Apa maksudmu dan lagipula kamu siapa bisa berada di tempat ini?”
__ADS_1
Edgar bertanya padanya dengan melihatnya begitu curgia.
“Aku adalah seorang alkemis pengelana, dan namaku Roderic.”
“Alkemis? Baiklah Roderic … lalu apa maksudmu kita harus keluar dari tempat ini?”
“Energi sihir itu! Ketidakstabilannya akan membuat tempat ini hancur.”
Edgar melihat wajahnya begitu panik sedangkan Edgar merasa tidak mengerti dengan apa yang Roderic katakan padanya, dan sedikit aneh mendengar kata yang begitu jarang dia dengar terucap oleh seorang alkemis sepertinya.
“Energi sihir? Kamu seorang alkemis tapi kamu mengerti tentang sihir? Dan apa yang tidak stabil?”
“Aku telah menciptakan alat yang buruk! Aku tidak menyangka kalau mereka memintaku membuatkan sesuatu untuk menggunakan sihir dari artefak mengerikan seperti itu!”
“Sebentar - sebentar, jadi maksudmu kamu menciptakan sesuatu yang membuat sihir dari sebuah artefak agar seseorang dapat menggunakannya dan kamu tahu kalau alat yang kamu ciptakan itu tidak dapat menahan sihir dari artefak itu!”
“Ya! Seperti itu. Kita harus menyelamatkan diri dari tempat ini! Jadi tolonglah lepaskan ikatan ini dariku!”
Edgar berpikir kalau alkemis ini memiliki kepribadian yang cukup aneh tapi dari melihat wajah Roderic yang masih terlihat penuh kepanikan, membuat Edgar berpikir sejenak untuk mencoba mempercayainya.
‘Apa mungkin artefak itu benda pusaka milik Roh angin yang Silvi katakan sebelumnya?’
Itu yang Edgar pikirkan saat dia melihat Silvi yang masih berada di dekat Celine yang masih mencoba membangukannya.
Belum lagi jika memang apa yang dia katakan itu ada benarnya, jika artefak yang dia maksud adalah benda yang sedang dicari oleh Silvi, pastilah pusaka milik Roh angin itu mengandung sihir alam yang kekuatannya begitu dahsyat.
Walaupun begitu Edgar masih merasa heran mendengarnya, karena alkemis yang Edgar ketahui memiliki pertentangan dengan dunia penyihir karena menciptakan sebuah alat sihir bagi alkemis adalah suatu hal yang tabu, setidaknya itu yang dia ketahui dari ingatan di kehidupan lainya.
“Baiklah! Mungkin apa yang kamu katakan itu benarnya dan aku tidak mau membuatmu terjebak di tempat ini jika tempat ini memang hancur.”
Edgar mencoba untuk mempercayainya dan bergegas untuk membantu melepaskan tali yang mengikat padanya.
Arghhh!
Drururm!
Tiba - tiba mereka mendengar samar suara kericuhan yang kemudian diiringi dengan suara ledakan yang membuat ruangan tampak bergetar seperti sebuah gempa kecil. Kejutan itu membuat mereka menjadi waspada memperhatikan dinding beserta atap di sekitarnya dan tidak lama getaran itu mereda.
‘Suara berisik itu apa dari kelompok pintu depan? Apa mereka menyerang masuk?’
__ADS_1
Pikir Edgar yang memperhatikan arah sumber suara itu yang kemudian tidak terdengar lagi, Edgar kembali melanjutkan melepas tali yang mengikat Roderic.
“Suara apa itu! Oh, Terimakasih … penyelamat!”
“Edgar, namaku Edgar! Jika yang kamu katakan itu benar maka aku harus memperingatkan kedua temanku yang masih menyusup di dalam bangunan ini.”
“Menyusup? Untuk apa kalian menyusup ke tempat ini?”
“Sebenarnya kami sedang menyerang markas bandit ini.”
Mendengar Edgar mengatakan markas bandit membuat Rodric mematung dengan ekspresi yang begitu terkejut menatap Edgar saat dia berusaha untuk bangun dari duduknya.
“Kamu serius? Kamu bilang ini markas bandit?”
Tanya Roderic pada Edgar yang hanya membuat Edgar melihat dengan wajah tampak tidak percaya padanya.
“Mereka memperkerjakanmu di tempat ini dan juga menahanmu, tapi kamu tidak sadar kalau mereka adalah kelompok bandit? Apa kamu tidak merasa ketakutan melihat wajah - wajah sangar yang kamu jumpai di tempat ini?”
“Jadi begitu, pantas saja sikap mereka begitu ketus padaku.”
“Iya dan kamu tidak menyadarinya?”
“Hey! Aku bukan tipe orang yang melihat orang lain dari luarnya. Lagipula aku tidak tahu itu, dan aku mencintai pekerjaanku, siapa juga yang tidak senang mendapatkan pekerjaan!”
Mendengarnya hanya membuat Edgar semakin tampak tidak percaya melihat ada seseorang yang begitu tidak sadar dengan sekelilingnya, Edgar mencoba mengabaikannya untuk menghindar dari sakit kepala dan mendekat kembali ke Silvi.
‘Silvi, apa pusaka milik Roh angin memiliki kekuatan sihir alam di dalamnya?’
Sentuh Edgar yang berada di dekat Silvi untuk berbicara padanya.
‘Tentu saja! Tidak mungkin sesuatu yang dimiliki Roh alam tidak mengandung sihir alam di dalamnya, kenapa kamu bertanya seperti itu?”
‘Pria itu adalah seorang alkemis dan sepertinya dia terlihat menciptakan sesuatu yang membuat pusaka milik Roh angin dapat digunakan bebas oleh manusia biasa, dan dia bilang kalau alat yang dia ciptakan itu belum sempurna hingga membuat energi sihir dalam benda itu tidak stabil!”
‘Apa mungkin getaran barusan itu berasal dari ketidakstabilan yang alkemis itu bilang?’
Mendengarnya membuat Edgar berpikir kalau ledakan itu mungkin ada benarnya berhubungan dengan artefak yang dimaksud, tapi Edgar tidak terlalu yakin akan hal itu.
‘…, aku juga tidak tahu itu tapi yang jelas sebelum getaran itu terjadi aku mendengar suara kericuhan yang mungkin berasal dari kelompok yang ada di depan.’
__ADS_1
‘Bukankah itu gawat jika mereka semua berada di dalam sini.’
‘Iya, itu benar. Kita harus segera membawa mereka berdua keluar dan menyusul Ludi beserta paman pemilik kedai!’