Land Of Thorns

Land Of Thorns
Hal buruk bagian 5


__ADS_3

Edgar masih berusaha keluar dari kepulan asap itu menuju tempat Lilia berada, dan di saat dia melihat Lilia, dia menghembuskan nafas panjang serta tertunduk melihat Lilia yang tampak baik - baik saja karena pisau itu menancap di dinding. Itu benar - benar hampir mengenai dirinya.


“Syukurlah pisau itu tidak tepat sasaran.”


Spontan kata itu keluar Edgar katakan saat dia sedang mengatur nafasnya lalu dia mulai berjongkok di hadapan Lilia. Edgar mencabut salah satu pisau itu dan memperhatikannya dengan seksama.


‘Sebuah keberuntungan atau memang dia sengaja melakukan ini, tapi kenapa?’


Pikir Edgar saat dia memperhatikan pisau - pisau yang tertancap di dinding itu.


Di belakangnya terlihat kepulan asap itu mulai menipis berkat sebuah sihir angin yang Silvi hembuskan, anginnya membuat asap itu terpencar keluar ke segala penjuru ruangan hingga perlahan asap itu semakin menghilang dari dalam ruangan.


Disaat itu juga terlihat Roderic yang berdiri tegak sejajar dengan tembok tempat dia bersandar selagi mengangkat Celine yang di angkat begitu tinggi dengan kedua tangannya,  terlihat dia menutup giginya rapat - rapat dengan matanya yang terbuka lebar dia melihat kesana kemari hingga akhirnya pandangannya tertuju pada Edgar. Dia mulai menghampirinya.


“Dimana dia? Apa kalian sudah mengalahkannya?”


Tanya Roderic pada Edgar selagi dia berjalan mendekat ke arahnya.


Edgar tidak langsung menjawabnya, tapi dia menoleh ke arahnya dengan kerutan yang terlihat jelas di keningnya dia tunjukan serta dengan bibirnya yang terlihat cemberut itu, Edgar mulai mengucap.


“Aku sudah memintamu untuk memberitahukan pada Silvi kalau kalian harusnya pergi dari tempat ini dan membawa Lilia!”


“Tidak usah berteriak seperti itu, sebelumnya aku sudah memberitahukan apa yang kamu pinta padanya.”


Ucap Roderic yang spontan menghentikan langkahnya, dan saat dia mengucapkan itu terlihat jelas udara yang keluar dari nafasnya.


“Lalu kenapa Silvi malah membantuku bertarung dengan orang itu?”


“Dia bersikeras ingin membantumu, walaupun aku mencegahnya tapi apa yang bisa aku lakukan, bertarung sepertimu saja aku tidak bisa. Tapi bukankah pada akhirnya kita semua berhasil selamat.”


Jelas Roderic yang kini mendekatinya, berusaha meyakinkan Edgar.


“Selamat? Lebih tepatnya hampir. Lihat itu!”


Edgar menunjuk menggunakan pisau di tangannya untuk menunjuk pisau - pisau yang tertancap di dinding itu, membuat Roderic ikut melihat, dia sadar kalau itu benar - benar terlihat begitu dekat mengancam nyawa Lilia.


“Oh tuhan! Dia benar - benar beruntung, apa itu benar - benar sebuah pisau?”


Ucap Roderic secara tiba - tiba keluar dari mulutnya begitu saja, dia tampak tidak percaya melihat apa yang ada di hadapannya.


Mendengar itu membuat Edgar langsung melihatnya, dengan tangannya yang memegang pisau itu, dia terlihat seperti mendah dengan mulut yang terbuka menahan untuk tidak mengatakan sesuatu.

__ADS_1


Roderic yang melihat Edgar memperhatikannya seperti itu, membuat dirinya tersadar dan langsung menjepit bibirnya dengan sendiri begitu erat hingga terutup rapat. Sejenak dia diam.


“Maaf, itu reflek.”


Ucap Roderic singkat, dia lalu kembali menjepit bibirnya sendiri rapat - rapat.


 Edgar menggelangkan kepalanya, dia menarik nafas begitu dalam dan menutup matanya sejenak. Edgar mencoba tenang.


“Setidaknya kamu benar, alhasil semuanya masih selamat. Kenapa aku masih dapat melihat udara yang keluar dari mulutmu? Apa sihirnya tidak berfungsi?”


Lirik Edgar pada Roderic dan di waktu yang sama terlihat Silvi berlari ke arah mereka berdua saat dia selesai menghilangkan seluruh asap dalam ruangan.


 “Sepertinya tidak, aku masih merasakan dingin. Aku bertaruh kalau orang misterius itu juga merasakan dingin sepertiku.”


“Kenapa kamu yakin dengan hal itu?”


“Hunuskan pedangmu kearahku sebentar … yah, ini dingin. Lalu coba kamu sentuh bagian logam pedangmu itu.”


Roderic menyentuh pedang itu dengan jarinya lalu dia menujuk ke arah pedang Edgar membuat Edgar mengikuti apa yang dia katakan, saat menyentuhnya Edgar baru sadar kalau besi yang dia sentuh itu benar - benar begitu dingin.


 Sebelumnya dia tidak merasakan itu karena dia hanya memegang bagian gagang pedang yang bagian itu tertutup kulit hewan jadi dia tidak merasakan kalau pedangnya benar - benar dingin.


“Kamu benar, itu terasa begitu dingin … Lalu apa hubungannya dengan orang misterius itu merasakan dingin?”


“Aku melihat ketika dia melempar pisau itu, kebiasaan dia ketika melempar pisau itu dia pasti akan memegang bagian logam pisau lalu melemparnya.”


“Jadi maksudmu, karena dia selalu seperti itu dia semakin lama merasakan dingin di tangannya.”


“Ya, jika aku jadi dia. Aku tidak mau keluar di musim dingin ketika bersalju dan terlalu sering menyentuh peralatan dari logam, itu hanya akan menghancurkan tanganku nantinya. Mungkin itu alasan nya mengapa dia tidak tepat sasaran dan dia kabur dari kalian.”


Jelas Roderic pada Edgar yang membuat Edgar menopang dagunya, dia terdiam memikirkan itu, jika yang Roderic bilang kalau dia merasakan suhu dingin ruangan ini seperti bersalju maka tidak hanya manusia yang merasakan itu, tapi juga benda yang tidak mengandung sihir pasti akan merasakannya.


‘Syukurlah temanmu selamat, sebelumnya aku melihatmu terlihat kesal pada Roderic, mohon jangan salahkan dia karena aku yang bersikeras untuk membantumu.’


Ucap Silvi dalam pikiran ketika menyentuh pundak Edgar, lalu dia ikut berjongkok menoleh ke arah Edgar dan melihatnya sambil menunjukkan senyum manis.


‘Aku hanya merasa sedikit kesal karena aku takut mereka nantinya ikut terluka, orang misterius itu adalah pembunuh bayaran dan aku adalah targetnya. Aku yakin dia pastinya tahu tentang Lilia dan Celine dan aku tidak mau mereka ikut terlibat.”


‘Pantas saja dia seperti ingin membunuhmu. Maaf karena aku tidak tahu hal itu.’


Silvi cemberut dan menggelengkan kepalanya saat dia mengatakan itu.

__ADS_1


‘Aku tidak menyalahkan kalian, maka dari itu aku memintamu, bisakah kamu menolongku membawa mereka berdua keluar dari tempat ini bersama dengan Roderic.’


Ucap Edgar dalam pikirannya yang seketika itu dia melihat ke arah sekitar bergantian melihat ke arah mereka yang di dekatnya.


Sejenak Silvi diam tidak menjawab, saat Edgar masih memperhatikan sekitarnya. Silvi semakin mendekat dan saat Edgar kembali menolehnya dia melihat wajah Silvi berada tepat di hadapannya.


‘Lalu apa kamu mau pergi sendirian untuk menyusul Ludi dan Paman pemilik kedai itu? Bagaimana jika kamu bertemu dengan pembunuh Itu lagi?’


Jawab Silvi yang masih begitu dekat menatap mata Edgar.


‘Menurut Roderic tubuhnya mungkin telah mencapai batas, karena dia juga manusia biasa yang merasakan suhu dingin akibat reaksi sihir itu.’


Selagi mengatakan itu Edgar mencoba menjauhkan wajahnya, dia merasa tidak nyaman melihat Silvi yang selalu seperti itu tanpa sedikitpun merasa malu melakukannya.


‘Baiklah, aku akan membawa mereka keluar dan setelah itu aku akan menyusulmu untuk mencari benda pusaka milik Roh angin. Tidak masalah?’


‘Tidak ada, aku masih tetap akan membantumu dan melihat - lihat jika aku menemukan artefak itu, tapi mencari yang lain tetap menjadi prioritas untukku.’


Edgar mengatakan itu selagi mendorong Silvi menjauh darinya.


“Kita akan berpisah disini. Apa ada cara untuk menghentikan alatmu itu jika aku menemukannya nanti Roderic?”


Ucap Edgar kembali yang kini mendangak melihat ke arah Roderic yang masih berdiri di dekatnya.


“Cara menghentikannya itu … adalah tidak menggunakannya.”


“Hanya itu?”


“Iya, aku membuat alat itu menyerupai sebuah kalung dan yang bisa aku bilang hanya jangan membuat kalung itu putus, karena akan membuat energi sihirnya semakin tidak stabil dan … boom! Sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi.”


Jelas Roderic pada mereka yang membuat mereka berdua memperhatikan dengan seksama dan seketika terkejut ketika Roderic menganggetkan mereka.


Edgar beranjak berdiri, kemudian dia terlihat menggaruk belakang kepalanya.


“Intinya aku hanya harus melepaskan alat itu dari siapapun yang memakainya kan.”


Mendengar Edgar yang tampak mengerti maksudnya itu membuat Roderic hanya menganggukan kepalanya mengiyakan.


“Aku titip mereka berdua pada kalian, dan aku harap kalian tidak mendapatkan masalah saat keluar dari tempat ini.”


Ucap Edgar pada mereka. Dia melihat mereka berdua menjawab bersama dengan menganggukan kepala.

__ADS_1


Edgar tahu kalau mereka paham akan situasinya apalagi Roderic yang tahu kalau dia hanya sebuah beban saat melihat Edgar dan Silvi yang sebelumnya bertarung dengan pembunuh bayaran itu. Dengan sendirian juga akan membuat Edgar menjadi lebih cepat untuk mencari Ludi dan paman pemilik kedai selagai mencoba mencari artefak itu.


Mereka mulai berpisah, Edgar dengan sekejap berlari begitu cepat menuju jalan yang sebelumnya di lalui Ludi, dan melihat kebelakang melihat mereka yang juga mulai bergerak menuju jalan bawah tanah.


__ADS_2