Land Of Thorns

Land Of Thorns
Akhir dari permulaan bagian 2


__ADS_3

Memanfaatkan situasi penjagaan Edgar yang tengah kendur, wanita itu dengan cepat membangunkan dirinya yang tengah tersungkur, dia bergerak dengan cepat menghindari Edgar yang mencoba menangkap kakinya disaat dia masih tertindih yang lain ketika dia berada dalam posisi telentang seperti itu.


“Tidak usah mencoba menangkapku, pikirkan lagi situasimu!”


Seru wanita itu merundukan kepala melihat Edgar yang tampak mendangak ke arahnya dan memukul lantai, mendengar suara langkah kaki wanita itu melihat ke arah asap, dan langsung melipat tangannya seraya mengayunkan kepalanya perlahan dan terdengar dia menghela nafasnya. Dia tampak kecewa.


“Aku akui memang sulit mengincar kepalamu, bahkan di saat seperti ini juga. Hanya ada satu hal yang bisa aku beritahukan padamu. Menjauh dari bangsawan yang mendukung bandit ini, kamu tidak akan suka berurusan dengannya. Anggap saja itu sebuah bayaran karena tidak membunuhku.”


Setelah mengatakannya wanita itu langsung melarikan diri dengan cepat sesaat menyadari orang yang berada di balik asap semakin mendekat ke arahnya.


‘Siapa? Aku bahkan masih penasaran dengan bangsawan itu.’


Pikir Edgar yang mendangak masih memperhatikan wanita itu yang semakin menjauh, Edgar kini tampak cemberut selagi melihat mereka yang masih menindih dirinya.


“Apa yang kalian lakukan disini! Kenapa kalian kembali kemari.”


“A-ada bandit tua yang menyeramkan dan serigala yang mengejar kami.”


Roderic menunjuk ke arah asap selagi dia berbicara seperti itu tampak gemetar, dan diikuti dengan Silvi yang menganggukan kepalanya dengan ekspresi wajah yang terlihat meringis seperti orang yang sedang menahan rasa sakit. Edgar tampak heran melihatnya seperti itu.


Grrrrr!


“Argh!”


Suara yang muncul dari seekor serigala yang tiba - tiba keluar dari balik asap, serigala itu langsung menggigit bokong Roredic yang membuat dia menggeliat berusaha melepaskan diri dari hewan yang menggigitnya.


Namun gigitannya tidak terlepas dengan mudah dan malah membuat serigala itu terdiam selagi menatap Edgar dengan tatapan yang tajam tampak mengancam. Melihat itu Edgar berulang kali meraba lantai mencoba mencari pedangnya.


“Bisa kalian bangun! Apa kalian ingin dimakan serigala itu?”


Edgar dengan sekuat tenaga membangunkan dirinya membuat mereka semua terhempaskan hingga hewan itu melepas gigitannya dan dengan cepat Edgar langsung mengambil pedangnya yang tergeletak tidak jauh darinya, Edgar tampak memasang kuda - kuda bersiaga, dia mengacungkan pedang itu ke arah serigala di hadapannya, namun bukannya membantu, dengan cepat mereka berdua bersembunyi di balik Edgar.

__ADS_1


“Hoi! Apa apaan? Setidaknya jangan lupakan mereka berdua kalau kalian ingin bersembunyi.”


Teriak Edgar mengerutkan keningnya melihat mereka berdua selagi jarinya menunjuk ke arah Celine dan Lilia yang masih tergeletak di tanah, begitu dekat dengan serigala itu.


Namun disaat melihat itu Edgar tampak heran, serigala itu mengabaikan mereka berdua yang tengah tergeletak di lantai, bahkan dengan santainya serigala itu melangkahi mereka berdua.


“Apa kamu berhasil menangkap mereka Wild!”


Suara yang terdengar dari balik asap, suara itu terdengar begitu berat. Edgar melihat samar seorang dari balik asap yang menghentikan larinya dan berjalan perlahan semakin mendekat.


“Ksatria Liam? Ksatria Robert? Apa itu benar - benar kalian!”


Seru Edgar ketika melihat mereka berdua yang keluar dari balik asap.


“Siapa pemuda lusuh ini? Apa dia kenalanmu Robert?”


“Tidak, bukannya kamu memiliki banyak kenalan dengan penampilan lusuh seperti itu. Mungkin dia pelangganmu?”


Setelah mengatakan itu mereka berdua tampak diam memegang senjata mereka memperhatikan Edgar, mereka tampak bersamaan menopang dagu dan menatap Edgar dengan tatapan yang semakin tajam. Melihat mereka yang memperhatikan seperti itu membuat Edgar berulang kali menunjuk dirinya sendiri dengan ekspresinya yang tampak tidak percaya.


Liam kini melihat Edgar dengan mata yang terbuka begitu lebar seperti mulutnya, dia menjatuhkan gadah yang dia pegang dan perlahan berjalan menghampiri Edgar, semakin dia mendekat semakin matanya terlihat berkaca - kaca menahan haru. Kedua tangannya meraih tangan Edgar yang tidak bersenjata.


“Ini benar - benar dirimu Pangeran … tidak kusangka dirimu sudah sebesar ini!”


Isak Liam yang mendangak melihat matanya.


“Iya, ini aku! bukankah aku sudah lebih tinggi darimu Ksatria Liam?”


“Itu benar Pangeran, itu benar!”


Diwajah Edgar terlihat senyuman yang begitu ramah menjawabnya. Melihat itu membuat Liam tidak kuasa menahan haru hingga air matanya tampak berlinang membasahi jenggotnya yang lebat. Lalu dengan cepat Liam menoleh kebelakang melihat Robert yang mulai ikut mendekat ke arah mereka berdua.

__ADS_1


“Tidak perlu kamu katakan Liam, aku benar - benar sadar setelah melihat matanya yang benar - benar mirip dengan Ratu Helen.”


Robert menghentikan langkahnya disaat dia berada tepat hidapan Edgar, dia dengan cepat bertekuk lutut merundukan kepalanya, membuat Edgar tampak terkejut mencoba membangkunkannya, namun Edgar mendengar.


“Sebuah kebahagiaan bagiku melihat dirimu kembali, Pangeran ketiga kerajaan Rosen. Edgar von Rosenberg. Kesatria Robert memberikan hormatku padamu Pangeran!”


Teriakan dari robert itu terdengar begitu lirih ditambah dengan suara isakan yang terselip saat dia mengatakannya. Menyadarinya yang terdengar seperti itu Edgar juga melihat tetes air yang terjatuh membasahi lantai dibawah Robert dan itu membuat Edgar kembali pada posisinya dengan senyum di wajahnya tampak diam membiarkan Robert sejenak. Sadar dengan itu Liam ikut mengikuti Robert bertekuk lutut di hadapan Edgar.


Sedangkan, mereka berdua yang bersembunyi di balik Edgar tampak merlirik satu sama lain saat melihat kejadian itu di hadapannya. Edgar tampak tidak sadar kalau mereka berdua masih berada di belakangnya.


“Kamu selalu saja seperti itu Ksatria Robert, aku mohon berdirilah kalian berdua.”


Disaat mengatakan itu Edgar menyentuh lembut pundak Robert dan memperhatikan mereka berdua yang tampak mulai kembali berdiri, lalu terlihat Robert yang tampak terpejam mencubit lembut di sela kedua matanya dan disebelahnya Liam yang terlihat tidak dapat membendung tangisannya, hingga seluruh wajahnya kini tampak begitu basah.


“Hentikan tangismu Liam, wajahmu itu semakin terlihat menyeramkan di hadapan Pangeran.”


Robert mengatakan itu dengan santai selagi dia masih melakukan hal yang sama. Mendengar itu Liam dengan cepat menginjak kaki Robert namun dia menghindar begitu saja secara natural. Liam lalu mencoba memukul tapi kembali dia menghindarinya secara natural, hingga Liam tampak terengah - engah kelelahan.


“Apa salahnya bodoh, sudah bertahun - tahun lamanya kita tidak dapat melihat Pangeran Edgar.”


“aku sempat berpikir bahwa aku akan mati duluan sebelum sempat bertemu dengannya. Tapi lihat dia Robert, Pangeran kecil yang kita kenal kini telah tumbuh dewasa.”


Liam mengatakan itu dengan wajahnya yang tampak kesal melihat Robert dengan tangannya yang tampak bersiap seakan ingin memukulnya kembali.


‘Rasanya terdengar aneh mendengar itu, aku sebenarnya sudah setua dirimu Liam. Kenapa juga kakek tua yang mengenal diriku di kehidupan ini begitu sentimentil.’


‘Jadi kamu sudah setua itu? Apa kamu lupa kalau aku di belakangmu, aku bisa mendengarmu tahu.’


Pikir Edgar yang tampak tersenyum melihat tingkah mereka berdua, tapi senyumnya kini terlihat tampak kaku di saat mendengar Silvi yang menjawab dirinya. Edgar benar - benar lupa kalau mereka berdua masih bersembunyi di belakangnya.


‘Anggap saja itu rahasia kecilku, lagipula itu juga ada hubungannya dengan sihir mistik itu.’

__ADS_1


__ADS_2