
“Hanya perasaanku saja atau kalian juga merasakan tempat ini terasa begitu dingin?’
Tanya Roderic pada mereka yang berjalan di depan, dengan tubuhnya terlihat gemetar karena merasakan hawa dingin yang seperti menusuk kulitnya.
Edgar dan Silvi menoleh kebelakang secara bersama melihat dirinya yang masih gemetar, mereka berdua merasa heran karena tidak merasakan hawa dingin seperti apa yang Roderic katakan.
“Tidak. Sepertinya dia juga tidak merasakan dingin yang kamu maksudkan.”
Jawab Edgar menanggapinya.
“Serius? Lihat … aku saja bisa melihat udara yang keluar dari nafasku.”
Langkah mereka kembali terhenti dan dengan serius memperhatikan sesuatu yang membuktikan kebenaran apa yang dikatakan oleh Roderic, mereka benar - benar melihat udara yang keluar saat dia bernafas seperti yang biasa terjadi ketika suhu disekitar lebih dingin dari tubuh.
Walaupun melihat itu Edgar masih tetap merasa heran karena dia sama sekali tidak merasakan dingin dan bahkan dia tidak melihat udara yang keluar seperti itu ketika dia bernafas, dan ketika dia melihat Silvi pun dia tetap tidak melihat apapun, termasuk Lilia dan Celine yang digendong mereka. Itu hanya terjadi pada Roderic semata.
“Kenapa itu terjadi padamu? Padahal kami benar - benar tidak merasakan dingin atau apapun. Apa mungkin kamu sakit?”
Ucap Edgar masih terlihat heran melihat kejadian itu.
“Tidak, aku rasa itu tidak mungkin, jika aku demam atau sejenisnya aku akan lebih memilih diam di ruangan itu walaupun aku tahu bangunan ini berbahaya nantinya jika hancur, karena aku akan begitu lemah di kondisi seperti itu.”
Entah kenapa Roderic menjalaskan itu begitu lugas, dengan percaya diri dia mengutarakan sisi lemahnya pada mereka.
Kejadian ini sudah cukup aneh namun mendengar dia mengatakan itu dengan begitu percaya diri membuat Edgar merasa semakin aneh lagi, dan dengan seketika setelah mendengar apa yang dia katakan membuat Edgar dan Silvi hanya terdiam dan melihat satu sama lain merasa ada yang salah, walaupun hanya Edgar yang mendengar tentunya.
“Baiklah … kalau bukan itu. Tapi kenapa itu hanya terjadi padamu?”
Tanya Edgar kembali padanya melihatnya semakin menggigil seperti itu membuatnya merasa cukup kasihan terhadapnya.
“Aku juga tidak tahu, mungkin teman wanitamu yang seorang penyihir itu tau sesuatu … bahkan mereka yang sedang kita gendong saja tidak merasakan dingin, coba pikirkan apa mungkin ini termasuk sihir?”
Mereka tidak merasakannya, tapi apa yang Roderic rasakan saat ini benar - benar terasa semakin dingin hingga terasa seperti menusuk tulangnya, bahkan bibirnya yang kurang cairan itu terlihat semakin begitu kering.
__ADS_1
“Kalian tidak tahu tapi aku sungguh merasakan kalau saat ini aku seperti berada di puncak gunung tinggi yang bersalju.”
Kembali Roderic katakan pada mereka dengan suaranya yang mulai terdengar gemetar merasakan dingin, dan disaat yang sama dia membaringkan Celine yang dia gendong ke lantai. Kemudian dia dengan cepat mencari apapun di sekitarnya dan menemukan hiasan dari kulit beruang yang lalu dia gunakan untuk menutupi seluruh tubuhnya. Cukup aneh bagi Edgar yang melihat dia karena kulit beruang itu begitu besar yang bahkan membuat wajahnya selalu tertutupi.
“Apa kamu tahu sesuatu nona penyihir?”
Tanya Roderic kembali saat dia menyingkap bagian kepala kulit beruang yang menutupinya dan dia melihat Silvi sedang menopang dagunya dan perlahan mengangguk, dengan matanya sedang melirik kesana kemari. Roderic tidak tahu itu kalau dia sedang mendengar para Roh peri berbicara padanya.
“Apa yang mereka katakan?”
Edgar yang melihat Silvi seperti itu membuat dia spontan mengerti apa yang sedang Silvi lakukan.
“Mereka? Siapa yang kamu maksud mereka?”
“Roh peri, aku rasa dia sedang berkomunikasi dengan mereka.”
“Roh peri? Itu gila. Dimana mereka? Aku pernah membaca sesuatu tentang makhluk legenda tersebut … aku tidak melihat apapun, mungkin dia cuma berkhayal.”
Ucap Roderic yang menjawab tampak tidak percaya karena tidak melihat apapun di sekitar Silvi seperti apa yang dimaksudkan Edgar dengan sosok Roh peri yang dia katakan.
“Dia penyihir!”
Tegasnya singkat yang membuat Roderic terdiam memikirkan itu.
Sontak di waktu yang sama Silvi melebarkan kedua matanya dan dengan cepat dia menyentuh Edgar.
‘Reaksi sihir! Ini efek dari dari artefak itu. Kita harus cepat Edgar!’
Seru Silvi yang masih begitu terkejut.
‘Sebentar. Tapi itu tidak menjawab kenapa hanya dia yang terpengaruh efek itu?’
‘Dia tidak memiliki sihir yang melindunginya!’
__ADS_1
Mendengarnya sejenak membuat Edgar memikirkan hal itu, dia ingat kalau Silvi merasakan sihir mistik dari dirinya, lalu Lilia dan Celine sedang terperanguh sihir alam yang sebelum nya di tanamkan oleh Silvi pada mereka.
“Kalau begitu kita harus cepat, Silvi coba gunakan sihir yang sebelumnya kamu gunakan itu pada Roderic. Aku rasa kita harus mulai berlari kembali!”
Ucap Edgar berulang kali melihat mereka berdua.
Walaupun merasa tidak mengerti tapi Roderic mengikutinya, dia mulai membopong Celine yang sebelumnya masih tergeletak di lantai dan mereka bertiga mulai berlari.
Silvi yang berada di belakangnya menyentuh tengkuk leher untuk menanamkannya sihir alam seperti yang sebelumnya dia lakukan. Tapi apa yang dilakukan Silvi membuat Roderic menggeliat membuatnya melepaskan diri dari sentuhan Silvi.
“Bisakah kamu lakukan itu tanpa menyentuhku?”
Ucap Roderic yang matanya terlihat melirik kesana kemari begitu cepat dengan pipinya yang tampak merona namun Silvi tidak memperdulikan itu dan dengan terpaksa Silvi langsung mencengkramnya begitu kuat, membuat dia bergidik hingga menjulangkan lehernya tinggi.
‘Tenanglah, berlari seperti ini membuatku sulit mengontrol sihir ini!’
Ucap Silvi padanya di dalam pikiran yang membuat Roderic mendengar itu membuatnya dengan cepat menoleh ke arahnya dan kemudian melihat Edgar yang ada di sebelahnya.
“Hey, Edgar! Apa kamu barusan bicara padaku?”
“Tenanglah! Mungkin itu Silvi yang berbicara denganmu lewat pikirannya.”
“Seperti itu caranya berkomunikasi? Itu sungguh gila!”
Mendengar itu membuat Roderic dengan seketika melupakan perasaan yang sebelumnya dia rasakan dan kini matanya terlihat berbinar - binar seperti seorang anak kecil yang pertama kali melihat hal yang menakjubkan baginya.
‘Nona bagaimana caramu bisa melakukan komunikasi dengan cara seperti ini? Sihir seperti apa yang kamu lakukan? Apa ada sebuah trik khusus?’
Tanya Roderic dalam pikirannya. Dia masih melanjutkan memberikan begitu banyak pertanyaan pada Silvi yang bahkan membuat Silvi kewalahan untuk menjawabnya dan karena itu dia merasa kesulitan berkonsentrasi untuk menggunakan sihirnya.
Dari hanya melihat Silvi yang menggigit bibirnya dengan mata terpejam dan mengerutkan keningnya membuat Edgar sadar kalau dia sedang merasakan seperti apa yang sebelumnya dia rasakan ketika berbincang dengan Roderic, itu benar - benar terasa tidak begitu nyaman.
“Hoi Alkemis! Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan dengannya, tapi aku cuma mau bilang kalau sihir anginnya pernah membuatku terpental begitu jauh!”
__ADS_1
Apa yang Edgar katakan padanya benar - benar begitu efektif membuat Roderic membuka matanya begitu lebar memperhatikan Edgar dan dia tampak menelan ludahnya sendiri di waktu yang bersamaan.