Land Of Thorns

Land Of Thorns
Hal buruk bagian 2


__ADS_3

Roderic yang berada di belakang Edgar merasa cukup heran memperhatikan mereka berdua yang tampak diam sejak dari tadi, dan dia langsung berkata.


“Ahem. Bukan kah sebaiknya kita cepat keluar dari tempat ini?”


“Tentu! Sepertinya kamu sanggup untuk berjalan, apa kamu bisa membantuku menggendong anak kecil ini?


Edgar menoleh ke arah Roderic dan memintanya, walaupun badanya kurus Edgar merasa kalau dia setidaknya mampu untuk membantu membawa Celine keluar.


“Apa mereka berdua kenalanmu?”


“Iya, mereka kerabatku dan apa kamu tahu sesuatu yang membuat wajahnya terluka seperti ini, apa itu ulah mereka?”


“Aku tidak tahu itu, orang yang membawa mereka berdua hanya menaruh mereka di tempat ini dan kemudian bergegas pergi saat mendengar peluit panjang yang mereka dengar.”


“Seperti itu ya, baiklah kalau itu yang kamu bilang.”


Mereka bertiga mulai bersiap untuk pergi dengan Edgar yang menggendong Lilia yang masih tidak sadarkan diri dan Roderic … tampak begitu kesulitan menggendong seorang anak kecil. Melihat itu membuat Edgar dan Silvi tampak tidak menyangka kalau dia ternyata begitu lemah.


“Apa kamu bisa melakukan sesuatu Silvi?”


Tanya Edgar yang melihat ke arah Silvi yang membaca gerak bibirnya, Silvi berpikir sejenak dan kemudian tersenyum seperti mendapatkan sebuah ide.


Silvi bergerak ke belakang mereka berdua yang berdekatan dan Silvi terlihat seperti merapal sebuah mantra sambil menyentuh Celina dan Lilia yang sedang digendong mereka berdua.


Roderic merasa cukup heran saat dia menoleh kebelakang melihat Silvi, dan dia kembali melihat Edgar di sebelahnya.


“Apa yang sedang teman wanitamu lakukan?”


“Aku juga tidak tahu, lebih baik tunggu saja.”


Jelas Edgar pada Roderic yang bertanya padanya.


Setelah dari itu, tiba - tiba mereka berdua merasa kalau tubuh yang mereka gedong terasa begitu ringan, mereka merasakan seperti sedang membawa tas ransel yang hanya terisi sebongkah batu kecil.

__ADS_1


“Woah! Bagaimana bisa? Apa wanita itu ahli sihir?”


Merasakan itu membuat Roderic tampak begitu terkejut.


“Kalau yang kamu maksud itu penyihir ... ya, dia seorang penyihir!”


Jelas Edgar pada Roderic yang melihatnya begitu kegirangan hingga melompat - lompat menguji sihir Silvi yang benar - benar membuat beban tubuh yang dia bawa menjadi begitu ringan.


Kemudian Edgar tampak seperti sedang mengingat sebelumnya kalau Silvi menggunakan sihir angin untuk menghempaskan dirinya di udara.


“Benar juga, kenapa kamu tidak menggunakan sihir untuk membawa mereka dengan sihir anginmu?”


Ucap Edgar kembali yang kali ini melihat ke arah Silvi bertanya padanya, pertanyaan itu hanya membuat Silvi tampak cemberut serta mengerutkan alisnya tampak tidak percaya mendengar Edgar mengatakan itu, kemudian Silvi menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


“Kenapa tidak? Apa melakukan itu membuatmu cepat lelah?”


Tanya Edgar kembali pada Silvi yang kemudian menjawabnya dengan tersenyum menganggukan kepalanya serta jarinya menunjuk seperti mengiyakan apa yang dikatakan Edgar itu benar.


Edgar merasa sedikit mengerti walaupun dia tidak tahu perbedaan sihir yang digunakan Silvi.


Karena bagi Silvi jika menciptakan sihir angin untuk membantunya membawa sesuatu sama saja seperti mengeluarkan sihir angin yang dia lakukan untuk menyerang orang lain dan itu akan menguras energi sihir alam yang ada padanya karena dia mengontrol angin itu secara terus menerus.


Sihir yang Silvi gunakan untuk meringankan tubuh Lilia dan Celine itu berbeda dengan sihir angin yang Edgar maksudkan, karena saat ini Silvi hanya menanam sihir pada mereka untuk memancing angin di sekitarnya mendekat hingga membuat tubuh subjeknya menjadi tampak ringan dan tanpa Edgar sadar sihir jenis itu lah yang digunakan Silvi sehingga dia dapat berlari dengan kencang sebelumnya.


Bagi Roderic yang tidak tahu kalau Edgar sedang berbicara dengan Silvi membuat dia melihat Edgar tampak seperti sedang bermonolog dan itu hanya membuat Roderic memperhatikannya tampak aneh.


“Tunggu apa lagi, apa kita tidak segera pergi?”


Roderic kemudian bersikap seakan siap berlari dengan wajahnya terlihat begitu penuh kebanggan serta bersemangat yang dia dapatkan saat melihat sihir itu begitu efektif baginya.


“Iya, kita akan segera pergi.”


Edgar hanya menghela nafas sesaat setelah dia menjawabnya dan melihat Roderic yang kemudian mulai berlari keluar dari ruangan ini tanpa bertanya arah tujuan pada mereka.

__ADS_1


“Hoi! Kamu salah jalan! lewat arah sebaliknya!”


Teriak Edgar kembali dari depan pintu ruangan karena melihat Roderic yang tengah begitu bersemangat berlari menuju arah yang bukan menuju pintu masuk bawah tanah. Hal itu membuat Edgar kembali menghela nafasnya merasa tidak nyaman melihat sikap Roderic yang begitu aneh.


‘Larinya ternyata cepat sekali!’


Pikir Edgar saat dia melihat Roderic yang berlari melewatinya.


Roderic berlari begitu jauh dari mereka membuat Edgar dan Silvi mempercepat lari mereka untuk menyusul, Edgar melihat Roderic tampak begitu bertenaga seperti tidak merasakan lelah membuat Edgar salah berpikir kalau tampaknya Roderic tidak selemah yang terlihat olehnya.


Baru saja Edgar berpikir seperti itu dan mulai menyusulnya. Edgar yang sudah berada di belakangnya menepuk pundak dan memanggil.


“Sepertinya kamu pandai berlari! Tidak usah terburu - terburu, itu akan membuatmu cepat….”


Edgar menghentikan ucapannya dan diam mematung setelah melihat Roderic tampak begitu lelah seperti kehabisan nafas yang kemudian membuatnya tiba - tiba terduduk dengan lututnya menjadi tumpuan. Edgar benar - benar sadar melihat dia memang tidak cocok untuk sesuatu yang berurusan dengan fisiknya.


Roderic yang masih terduduk di lantai itu membuat perjalanan mereka berhenti sejenak, dia tampak begitu kehausan meminta air pada Edgar, walaupun sulit untuk bicara namun Edgar merasa mengerti apa yang dia maksud dengan melihat gerak tangannya, dan meminta Silvi mengeluarkan botol minuman yang dia punya.


“Ini, minumlah … aku pikir fisikmu baik sepertinya dugaanku salah. Apa kamu lupa kalau kamu sebelumnya di sekap di tempat ini.”


Ucap Edgar padanya sambil memberikan botol berisi air minum yang langsung diambil olehnya begitu cepat, hingga tampak tidak memperhatikan Edgar yang sedang berbicara padanya.


Barus saja dia menenggak air itu kedalam mulutnya dan air yang mengalir ke dalam tenggorokannya tiba - tiba tidak lagi dia rasakan, dan membuatnya tahu kalau botol minum itu benar - benar telah habis.


“Ada apa? Apa itu kosong?”


Kata Edgar kembali yang melihat dia tengah menggoyangkan botol minum tersebut dan melihat setetes air yang jatuh ke dalam mulutnya dan kemudian dia menjawab menganggukan kepalanya dan melihat Edgar seperti berharap ada botol minum yang lain.


“Maaf teman, hanya itu yang kami punya … pantas saja itu habis, aku rasa kamu tidak begitu beruntung.”


Edgar kembali berpikir dan mengingat sebelumnya kalau sudah sewajarnya botol minum itu habis, karena sebelumnya botol minum itu hampir di habiskan oleh wanita yang berada di ruangan bawah tanah, dan mendengar itu membuat wajah Roderic terlihat begitu kecewa.


Setelah sejenak beristirahat mereka akhirnya kembali melanjutkan perjalanan karena melihat Roderic yang tampak sanggup untuk mulai berdiri kembali, namun kali ini mereka tidak berlari dan hanya berjalan dengan santai menuju arah pintu masuk jalan bawah tanah yang sebelumnya berpisah dengan Ludi dan paman pemilik kedai.

__ADS_1


__ADS_2