Land Of Thorns

Land Of Thorns
Kembali pulih bagian 3


__ADS_3

‘Sepertinya situasi politik Rosen begitu panas.’


Edgar belum mengerti seluruh detailnya tentang apa yang terjadi di kastil utama, tapi untuk saat ini hanya itu yang terpikirkan di kepalanya.


“Sebenarnya saat ini aku sedang sarapan. Bagaimana jika kamu ikut sarapan bersamaku Albert?”


“Terimakasih, tapi aku menolak Pangeran.”


“Kenapa?”


“Aku ingat ada urusan lain yang harus aku lakukan.”


“Kalau begitu aku tidak bisa memaksamu.”


Dia tersenyum merespon pembicaraan dengan Albert walaupun pertemuan mereka hanya sebentar, Albert mendekat padanya dengan kedua tangan seperti meminta memeluknya. Edgar menanggapinya.


“Albert, apa menjadi tua membuatmu menjadi begitu sentimen.”


“Maaf pangeran, Pria tua ini hanya tidak kuat menahan haru melihatmu tumbuh begitu sehat.”


Edgar terlihat tertawa saat mendapatkan pelukan dari Albert. Memanfaatkan situasi itu Albert berbisik dengan suara pelan memastikan tidak ada yang mendengar.


“Cucuku terlihat begitu sehat, Aku percayakan padamu tolong jaga mereka Pangeran.”


Mendengar itu membuat Edgar terdiam berpikir sebentar, mencari tahu siapa yang dimaksud Albert sebagai cucunya selain dia, Edgar mengingat masa kecilnya saat itu Albert hanyalah pelayan biasa yang bertugas sebagai pelayan pribadinya, yang menemani serta membimbingnya Edgar sudah menganggap Albert seperti seorang kakek baginya. Dia merasa tidak tahu siapa yang dimaksud.


“Kalau begitu aku permisi Pangeran.”


“Izinkan aku mengantarkan tamu ini Tuan.”


Edgar merasa tidak mengerti apa yang akan pelayan itu lakukan,  hanya saja Edgar merasa untuk tidak membuat Albert merepotkan apalagi Albert terlihat setuju dengan permintaannya, Edgar terlihat mempersilahkannya.


“Albert! Sebelum kamu pergi. Apa kamu pernah bertemu seorang penyihir di kota ini?”


Jangankan Albert, Akhsan dan Lilia pun mereka ikut bingung mendengar apa yang ditanyakan Edgar, Sebenarnya sihir bukan sesuatu yang umum di daratan Blume ini, tapi sepertinya Edgar lupa kalau di tahun - tahun dekat ini penyihir masih bersembunyi sebagai organisasi rahasia tidak menunjukan dirinya karena menganggap kemampuan spesial mereka membuat mereka merasa asing dalam bermasyarakat.

__ADS_1


“Lupakan itu.”


“...Oh, aku baru ingat kalau aku sedang mencari pedang untuk latihan.”


Dia dengan cepat menganti topiknya karena merasa konyol melihat mereka menatap dirinya seperti melihat orang gila.


“Untuk hadiah kesembuhanku. Apa kamu bisa membantuku mencarikan pedang yang terbaik Albert?”


“... Baiklah aku mengerti, kamu pasti akan menyukai pedang itu nanti Pangeran.”


Disaat pamit itu Edgar merasa kalau senyuman Albert tidak melihat ke arahnya, Hanya ada Lilia yang ada di sampingnya sembari tangannya melambai mengiri kepergiannya ditambah lagi dengan senyum manisnya yang terlihat begitu jelas.


“Kamu cucunya Albert?”


“Aku pikir Pangeran sudah tahu.”


Edgar mencoba mengingat kehidupan sebelumnya, Dia hanya tahu kalau Albert memiliki anak tapi tidak dengan cucu, belum lagi anaknya tidak tinggal di ibukota membuatnya tidak begitu mengenal dengan anaknya Albert.


‘Tahu gundulmu!’


Dia terlihat cemberut mendengar jawaban Lilia yang selalu seperti itu terlihat bercanda dengan nya, Informasi yang sepenting itu bahkan tidak dia beritahukan kepadanya, tapi jika dipikir baik baik olehnya, mereka memang terlihat mirip dari sifatnya yang seperti itu.


***


Terlihat Albert berjalan di depan teras rumah besar ini dengan Akhsan yang berada di belakangnya masih mengikutinya.


“Bukankah mereka telah melarangmu untuk bertemu dengannya?”


“Melarang apa? Aku tidak punya urusan politik dengan mereka.”


“Apa kamu yakin seperti itu?”


“Aku hanya seorang pelayan yang ingin bertemu dengan tuannya, cara mereka begitu buruk, anak kecil yang baru terbangun setelah 13 tahun koma dan di sebuah rumah tanpa ada seseorang yang dia kenal, itu terlalu kejam.”


“Tapi dia terlihat tidak seperti anak kecil bagiku.”

__ADS_1


“Iya, itu yang membuatku merasa senang dan merasa percuma terlihat khawatir.”


Mereka berbicara seperti itu tanpa menatap satu sama lain saat berjalan di teras yang luas ini, Akhsan masih terlihat dengan ekspresi dinginnya, tangannya bergerak dengan cepat memunculkan sebuah pisau di tangannya dan menodongkan di punggung  Albert dengan santai.


“Tuanmu sepertinya menarik, tapi aku rasa itu tidak bisa menjadi sebuah alasan Albert.”


Albert terlihat berkeringat dingin mendapatkan ancaman seperti itu, ditambah dengan pisau yang ditodongkan membuat punggungnya bisa merasakan besi dingin dari bilah pisau itu rasanya seperti menembus pakaian yang dia kenakan.


“Aku tahu semua tentangmu Albert, atau mungkin kamu ingin cucumu bernasib sama seperti orang tuanya? Itu keputusanmu jika aku melihatmu menampakan diri lagi!”


Pelayan pria itu menyembunyikan kembali pisaunya begitu cepat saat melihat Bibi Melda dan Celine yang masuk dari balik gerbang kayu itu, terlihat Celine tengah berlari ceria membawa keranjang penuh apel yang akan dibawanya ke dapur untuk dibuat pai apel kesukaannya.


“...Aw!”


Celine yang begitu menyukai pai apel membuatnya lari kegirangan hingga membuatnya tersandung di hadapan mereka, matanya terlihat berkaca - kaca dia berusaha menahan diri untuk tidak menangis.


“... Apelnya!, apelnya berserakan, pai apelku.”


Keadaannya yang terjatuh membuat apel yang dibawanya jatuh berserakan dilantai, yang membuat Celine memungutnya, mengumpulkan apel itu satu per satu. Celine merasa tidak menyadari keberadaan mereka karena terlalu fokus dengan pikiran pai apelnya.


“...Ah, Celine! Maaf tuan - tuan anak ini bertindak sedikit ceroboh saat sedang kegirangan.”


Bibi melda yang bersama dengan Celine merasa khawatir mereka akan marah pada Celine, karena melihat ekspresi wajah mereka terlihat begitu mencekam, apalagi ketika dia melihat Akhsan tatapannya begitu dingin.


Akhsan hanya terdiam melihat hal itu terjadi dengan masih berwajah dingin. Sedangkan Albert terlihat membantunya mengumpulkan buah yang terjatuh kembali kedalam keranjang yang dibawanya.


“...Tidak apa, anak kecil memang terkadang ceroboh karena tidak memperhatikan sekitarnya.”


“Bersihkan dirimu dan obati lecet itu, tidak baik jika nantinya itu membekas. Jangan lupa cuci apel itu dulu agar menjadi pai apel yang nikmat ya.”


Terlihat Albert mengedipkan mata memberikan isyarat pada Celine bahwa semuanya baik - baik saja, dan dia mengusap matanya dengan sarung tangan yang dia bawa, Albert terlihat  mencoba menghiburnya.


“Terimakasih kakek!”


Albert melihat senyuman Celine hingga membuatnya lupa akan rasa takut yang sebelumnya dia rasakan dari ancaman Akhsan yang masih ada di dekatnya. Karena Albert merasa urusannya sudah selesai dengan Akhsan, membuat Albert tidak berkata apapun dan pergi meninggalkan Rumah besar ini.

__ADS_1


‘Sepertinya aku membuat kesalahan yang buruk telah menerima pelayan itu.’


Itu yang ada di pikiran Edgar saat mengintip mereka dari sudut sempit jendela ruangannya. Saat ini Akhsan masih berdiam diri Albert hingga dia benar - benar pergi menjauh dari rumah ini.


__ADS_2