
Myro sekarang sedang duduk di ruang tamu kantor walikota yang disebut sebagai balai kota, tempat dimana Myro akan tinggal serta bekerja mulai dari sekarang.
Sebagai rumah paling mewah dan satu-satunya tempat yang terbuat dari batu, rumah ini mempunyai beberapa dekorasi seperti kursi, meja ataupun barang lainnya yang cukup layak untuk ditinggali.
Myro duduk di ruang tamu bersama Lokof, Charles dan Kanson yang berdiri di belakangnya. Lagipula rumah ini sangat terbatas yang membuat sebagian besar pasukan Myro membuat sebuah kamp di samping kota yang merupakan lapangan terbuka. Sebagai kota yang seperti desa, tentunya Kota Akhir sama sekali tidak memiliki barak yang membuat para pasukan Myro perlu membangun tenda sampai waktu yang belum ditentukan.
Pintu ruang tamu terbuka, sosok Kanko terlihat sedang membawa beberapa gelas dan teko yang mempunyai banyak minuman.
Meletakkan gelasnya di depan Myro, Kanko mulai menuangkan teh lalu memberikan masing-masing gelas teh hangat kepada orang-orang yang berdiri di belakang Myro.
Selain Myro, semua orang di ruangan tersebut berdiri. Lagipula identitasnya ada di sana, ia merupakan seorang pangeran sehingga orang-orang tidak berani secara sembarangan duduk bersama Myro.
Setelah selesai menuangkan teh, Kanko berdiri dengan hormat di depan Myro, menunggu perintah selanjutnya.
Myro meminum teh yang hampir tidak ada manisnya sedikitpun sebab gula yang mahal, lalu meletakkan gelas tersebut "Paman Kanko, apakah kau bisa menjelaskan mengenai keadaan Kota Akhir dan wilayah sekitarnya kepada kami?".
Kanko membungkuk ketakutan "Pangeran, saya sebagai pelayan setia kerajaan pasti akan melaporkan semua masalah disini kepada anda! Selain itu, pangeran tidak perlu memanggil saya paman yang terlalu sopan, cukup panggil aku Kanko secara langsung atau pelayan tua! Dapat membantu pangerang menjadi keberuntungan besar bagi pelayan tua ini".
__ADS_1
Myro melambaikan tangannya "Gelar pangeran milikku hanya gelar kosong, tanpa kekuasaan maupun kekuatan sehingga kau tidak perlu bersikap berlebihan. Selain itu, kau telah setia menjaga Kota Akhir bagi kerajaan selama bertahun-tahun, bahkan kau tidak melarikan diri akibat takut terhadap serangan pasukan barbar, aku menghargai semua kesetiaan yang kau miliki. Oleh karena itu, memanggilmu paman adalah sesuatu yang benar, belum lagi umurmu juga lebih tua dariku. Kita akan kembali menuju pembicaraan utama kita, bagaimana keadaan disini?".
Mendengar perkataan Myro, Kanko hampir menangis. Dia selalu bekerja keras serta setia kepada kerajaan, sekalipun dikirim ke kota yang terbuang, Kanko pergi tanpa ragu menuju Kota Akhir yang sangat berisiko terhadap hidupnya.
Tetapi, semua kesetiaannya tidak pernah dihargai, banyak orang meremehkannya yang sama sekali tidak memiliki jabatan penting apapun di kerajaan.
Karena alasan tersebut, ia benar-benar tersentuh terhadap Myro yang tidak meremehkannya, bahkan menghargai semua kesetiaan yang ia laksanakan selama ini.
Kanko menarik nafas dan ada tekad di matanya, tidak peduli apakah Myro berhasil mengembangkan Kota Akhir atau gagal, ia bertekad membantu orang yang menghargai kerja kerasnya sampai akhir.
"Banyak orang yang pernah ditunjuk menjadi penguasa kota ini lalu berusaha mengembangkan Kota Akhir, namun mereka semua berakhir gagal dan melarikan diri menuju kota besar lainnya, mereka menyerah. Karena kekurangan makanan setiap tahunnya, banyak penduduk yang menjual anak mereka kepada pedagang dari Kerajaan Frave sebagai budak".
"Budak?", kata Myro suram.
"Benar, pangeran", kata Kanko mengangguk "Mereka berpikir daripada mati kelaparan disini, lebih baik membiarkan anak mereka menjadi budak. Selain mereka bisa mendapatkan uang, anak mereka umumnya menerima makanan sebagai budak. Meskipun kehidupan budak benar-benar buruk, setidaknya mereka tetap hidup".
Myro tetap suram lalu lanjut berkata "Kenapa Kerajaan Frave terus menerima budak dari Kota Akhir? Padahal mereka dapat mencarinya dari tempat lain bukan? Lagipula orang-orang di kota lain tidak mempunyai keunikan apapun".
__ADS_1
Kanko berkata pahit "Tuan mungkin belum tahu, Kerajaan Frave memiliki nama lain yang terkenal pada orang-orang di wilayah sekitar mereka, salah satunya Provinsi Atrof yaitu mereka dijuluki kerajaan budak. Mereka akan membeli semua budak yang dijual baik dari wilayah mereka sendiri ataupun kerajaan lain tanpa ragu, lalu pedagang menjualnya kepada pemerintah sebagai tenaga kerja maupun menjual kepada penduduk serta bangsawan dengan alasan tertentu".
Myro menjadi tertarik melalui penjelasan Kanko barusan "Kerajaan budak? Seberapa banyak budak yang mereka miliki?".
"Aku tidak tahu jumlah pastinya, tapi berdasarkan perkataan beberapa pedagang Kerajaan Frave yang lewat, 70% orang di Kerajaan Frave adalah budak?", jawab Kanko.
"Apakah mereka gila?", kata Charles yang akhirnya angkat bicara "Jumlah budak yang mereka miliki lebih banyak daripada penduduk mereka sendiri!".
Kanko juga berkata bingung "Aku kurang mengetahui keaslian berita ini sebab aku mengetahuinya hanya melalui para pedagang Kerajaan Frave yang lewat untuk mencari budak di Kerajaan Golden Guardian".
Myro bertanya lagi "Bagaimana mungkin pedagang itu bisa lewat perbatasan? Bukanlah ada prajurit yang berjaga di sana? Sekalipun mereka berhasil melewati prajurit, aku dengar banyak pedagang menolak melewati Provinsi Atrof terutama wilayah sekitar sini yang dekat dari pegunungan markas para bandit. Apakah para pedagang Kerajaan Atrof belum pernah di serang bandit? Kenapa mereka berani datang kesini?".
Kanko terus menjelaskan "Pangeran, melewati pengawasan prajurit perbatasan adalah hal yang mudah selama mereka membayar uang yang cukup dan tidak membuat masalah besar di Kerajaan Golden Guardian maka para penjaga perbatasan akan membiarkan mereka lewat melalui jalan rahasia yang telah disiapkan. Sedangkan bandit, mereka hanya berani menyerang pedagang kecil. Umumnya semua pedagang Kerajaan Frave yang datang adalah kelompok pedagang besar dengan banyak penjaga ahli, para bandit tidak berani menyerang para pedagang besar yang memiliki banyak pengawalan".
Myro menutup matanya sebentar, ia berpikir sebentar "Jadi maksudmu Kota Akhir benar-benar sebuah kota mati tanpa ada sumber daya yang dapat mengembangkan kota, bahkan penduduk menjual keluarga mereka sendiri untuk bertahan hidup dari kelaparan. Aku, seorang pangeran tanpa dukungan diberikan kekuasaan mengelola kota yang terlihat hampir mati, apakah aku benar?".
Kanko berkeringat dingin, ia takut Myro marah lalu menyerangnya. Walaupun takut, Kanko tetap memberanikan dirinya "Memang aneh mengirim seorang pangeran ke kota seperti ini yang tidak memiliki harapan berkembang, namun kenyataannya seperti itu sebab yang mulia sendiri yang memutuskan mengirim pangeran kesini".
__ADS_1