
Mengabaikan para prajurit yang jatuh ke tanah, Lokof menyimpan 2 kapak raksasa di belakang punggungnya dan berjalan menuju rumah Myro.
Ketika tiba di belakang Myro, wajah ganas Lokof berubah menjadi senyum lebar, ia berkata tanpa ada kesombongan seorang prajurit seperti sebelumnya "Tuan, rumah buruk macam apa ini? Padahal rumah tuan seharusnya istana raksasa yang terbuat dari emas, siapapun yang membiarkan tuan tinggal disini pasti orang bodoh!".
"Kau yang bodoh!", kata Myro memutar matanya "Lokof, kau pikir aku orang seperti apa? Tidak peduli seberapa kaya diriku, aku pasti menolak tinggal di sebuah rumah maupun istana yang terbuat dari emas".
Lokof mengangguk "Tuan benar, anda selalu rendah hati! Daripada menghabiskan uang untuk hidup mewah bagi diri sendiri, anda selalu mementingkan orang-orang yang mengikuti anda! Oleh karena itu, saya selalu menghormati anda! Bukan hanya saya, ada banyak sekali orang yang menghormati diri anda".
Melihat Myro dan Lokof telah menghilang dari depan rumah, wajah kapten menjadi suram, ia bergumam "Bagaimana mungkin seorang pangeran yang terbuang bisa mempunyai seorang prajurit rank 3 yang begitu ganas? Pasti ada yang aneh disini, aku akan melaporkannya pada yang mulia!".
Tanpa ragu, kapten pergi untuk melaporkan kejadian hari ini kepada Raja Aras IV. Lebih tepatnya Raja Aras IV selalu meletakkan pengawal yang merupakan kaki tangannya ke sisi-sisi para pangeran agar dapat mengawasi mereka. Selama ada yang aneh pada para pangeran, kaki tangannya ini akan segera melaporkan. Karena alasan tersebut, kapten prajurit barusan bergegas pergi menuju istana sebab ia adalah kaki tangan raja untuk mengawasi keadaan dari Myro.
...----------------...
Myro sama sekali tidak memperdulikan kapten pengawal tersebut, bahkan bisa dibilang ia mengetahui bahwa kapten pengawal merupakan mata-mata yang diletakkan raja untuk mengawasinya.
Myro meletakkan 2 gelas air putih di meja tamu "Sebenarnya aku berencana menyiapkan teh, tapi teh sudah habis".
__ADS_1
Lokof mengambil air putih pemberian Myro penuh rasa hormat "Tuan, air putih sudah lebih dari cukup, sebenarnya anda tidak perlu menyiapkan apapun untuk menyambut saya melainkan saya yang seharusnya menyiapkan sesuatu bagi anda! Tapi kenapa tuan repot-repot menyiapkan minuman sendiri? Dimana para pelayan?".
"Sejak siang hari, para pelayan telah kembali ke rumah masing-masing", kata Myro yang duduk di sofa "Bagaimanapun aku dianggap sebagai pangeran terbuang, apabila bukan perintah dari raja maka mereka pasti meninggalkanku sejak lama".
"Brak!".
Lokof memukul meja dengan kemarahan "Para sampah itu, beraninya mereka memperlakukan tuan seperti ini! Tuan, aku yakin kapten pengawal tadi merupakan mata-mata yang disiapkan seseorang agar mengawasi setiap gerakan anda! Selama tuan mengizinkan, aku akan mengubah seluruh orang bodoh yang mencoba mengganggu tuan menjadi mayat, saya harap tuan bisa memberikan perintah anda".
Myro melambaikan tangannya "Jangan teburu-buru, Lokof! Aku telah mengetahuinya dari lama mengenai kapten pengawal yang merupakan kaki tangan milik raja, oleh karena itu kita belum boleh membunuhnya".
"Kenapa?", tanya Lokof bingung. Menurutnya selama Myro setuju, kapak miliknya akan menebas kepala kapten tersebut.
Lokof berpikir sebentar sebelum menjawab ragu-ragu "Apakah yang tuan maksud jika kita membunuh kapten itu, raja akan curiga?".
Sebuah senyuman muncul di wajah Myro, ia berkata "Kau benar-benar cerdas, namun kau hanya jarang mencoba berpikir dulu baru bertindak, Lokof! Lain kali jangan bertindak gegabah melainkan pikir-pikir dulu mengenai keuntungan serta kerugian sebelum bertindak! Kalau kita membunuh kaki tangan raja sekarang, hal tersebut tidak akan membuat aku bebas dari tangan raja melainkan raja akan menjadi semakin curiga. Lagipula pangeran yang terkenal lemah mampu membunuh kaki tangannya, aku yakin raja akan mengirim lebih banyak sosok kuat untuk mengawasi diriku, semuanya pasti menjadi semakin merepotkan".
"Oleh karena itu, selama masih berada di ibukota serta belum mempunyai kekuatan yang cukup, kita perlu terus berhati-hati".
__ADS_1
Wajah Lokof menjadi tegas "Aku mengerti tuan! Lain kali aku pasti lebih berhati-hati lagi".
Myro yang selesai menghabiskan air putihnya meletakkan gelas kosong di meja, ia merasa sekarang sudah cukup gelap yang membuat ia berdiri "Lokof, ada beberapa kamar di rumah ini untuk kau gunakan, 5 hari lagi kita akan meninggalkan ibukota kerajaan. Malam semakin larut, kau bisa istirahat dulu pada hari ini, kita akan lanjut mempersiapkan langkah kita besok".
"Dimengerti, tuan!", kata Lokof yang berdiri sambil memberi hormat.
Myro yang melangkah pergi menuju kamarnya tiba-tiba berhenti, ia berbicara tanpa menoleh kepada Lokof "Maaf atas kejadian sebelumnya, akibat dari keputusan yang aku buat, kau terbunuh di pertarungan melawan pasukan beruang bumi saat kerajaan sedang melaksanakan perluasan wilayah. Seandainya aku mampu lebih tegas lagi waktu itu, kau pasti masih bertahan".
Lokof kaget Myro membicarakan masa lalunya di Lord World yang terbunuh ketika pertarungan melawan pasukan dari kerajaan beruang bumi "Tuanku, semua itu bukan salah anda! Anda berkali-kali menyarankan aku agar pensiun atau menjadi kepala penjaga suatu daerah, lagipula perkembangan kekuatan milikku waktu itu sudah tidak bisa mengikuti kekuatan tuan bersama pasukan tuan. Tetapi aku tetap keras kepala dan berangkat ke medan perang, mengabaikan perintah anda. Jadi tuan tidak perlu merasa bersalah, mati untuk mencapai tujuan anda merupakan sebuah tugas bagiku yang merupakan seorang prajurit di bawah tuan".
Myro sedikit mengangguk, ia berjalan pergi menuju kamarnya.
Melihat Myro yang pergi, Lokof menghela nafas "Apakah tuan masih merasa bersalah pada kejadian kematian diriku? Padahal tuan tidak perlu merasa begitu sebab kematianku sama sekali bukan salahnya, bahkan aku mengatakan hal tersebut kepada tuan sebelum mati. Kuburan para prajurit yang berlumuran darah sepertiku bukanlah suatu kota, melainkan medan perang".
Lokof menutup matanya, ia masih mengingat jelas kejadian sewaktu dirinya berbaring lemah di medan perang mendekati nafas terakhirnya. Jantung pada tubuhnya kosong, Raja Beruang Bumi yang ia lawan berhasil merebut jantungnya di tengah pertarungan lalu memakan jantung tersebut sedangkan Lokof menebas tangan kanan Raja Beruanv Bumi tersebut.
Merasa kesadarannya semakin menghilang, Lokof menemukan Myro yang berlari menuju ke arah dirinya dengan wajah penuh rasa khawatir.
__ADS_1
Walaupun Myro masih jauh, Lokof berbicara lemah karena ia tahu dirinya pasti mati saat Myro sampai disini "Tuanku, jangan merasa bersalah atas kematianku, ini adalah pilihan yang aku ambil sendiri-- Maaf, mulai hari ini, Lokof tidak dapat berdiri di samping tuan lagi".
Lokof membuka matanya setelah mengingat detik-detik sebelum dirinya mati. Memegang 2 kapak miliknya dengan kuat, ia berkata tegas "Kali ini, aku pasti mampu menjadi lebih kuat daripada sebelumnya agar bisa mengikuti tuan selama mungkin!"