
Pada malam hari, sebagian besar pasukan Myro telah tertidur sedangkan jumlah pasukan yang berpatroli kurang lebih hanya 50 orang.
Walaupun ada banyak obor api di kamp yang membuat seluruh kamp terang, tapi daerah padang rumput di sekitar masih cukup gelap sebab tidak ada penerangan apapun di sana, oleh karena itu cukup sulit untuk menemukan keberadaan musuh jika mereka bergerak lambat tanpa menyebabkan suara apapun karena kondisi yang gelap.
Di tengah keadaan gelap, para prajurit yang berpatroli terlihat tidak khawatir, bahkan beberapa di antara mereka tertidur karena mereka tidak akan pernah berpikir sudah ada orang yang akan mencoba menyerang mereka padahal mereka baru sampai disini kurang dari sehari. Bahkan mereka berpikir, para prajurit barbar sama sekali tidak mengetahui kedatangan mereka.
Tanpa disadari, cukup jauh dari kamp terdapat sekitar 1000 pasukan barbar lengkap dengan kuda mereka sedang menunggu dengan diam.
Meskipun jaraknya cukup jauh, pemimpin mereka yaitu Ranta mampu melihat pasukan patroli kamp Myro yang terlihat sangat lengah.
Sebuah senyuman muncul di wajah Ranta, ia menepuk pundak orang barbar di sebelahnya "Apakah kau dari Suku Itv? Baiklah, informasi yang kau berikan asli serta sangat berguna mengenai keberadaan musuh! Setelah penyerangan kali ini berhasil, baik dirimu ataupun suku mu akan menerima hadiah. Bagaimana dengan suku lain? Apakah mereka mengirim bantuan? Lagipula ayah sudah setuju untuk menyerang pasukan yang datang ini serta mengambil semua persediaan yang mereka bawa, aku yakin tidak ada suku manapun yang berani menolak keputusan ayah bukan?".
Seorang pasukan barbar dari suku Irvy melangkah maju "Jangan khawatir tuan muda, semua suku sudah memberikan dukungan mereka sehingga kita mendapatkan bantuan 1000 pasukan lagi, jadi ada 2000 pasukan yang kita bawa. Jika bukan karena keputusan menyerang yang tiba-tiba, suku-suku lain pasti dapat menyiapkan pasukan yang lebih banyak lagi".
Ranta menatap orang barbar yang berbicara tanpa kesombongan apapun sebagai anak kepala suku sebab yang berbicara tadi adalah Hulard, penyihir rank 7 serta orang bijak dari Suku Irvy. Jangankan dirinya, bahkan ayahnya sendiri cukup menghormati Hulard dan selalu memanggilnya memakai sebutan tuan.
Bagaimanapun mereka yang berasal dari suku barbar memiliki tubuh kuat sejak lahir, semua pria mempunyai tubuh yang cocok sebagai petarung, ada beberapa wanita juga yang kuat tapi mereka tidak boleh ikut berperang sebab aturan suku barbar yang mengutamakan prajurit pria kecuali beberapa suku tertentu yang mempunyai aturan berbeda.
Karena alasan tersebut, sebagian besar suku barbar kekurangan orang cerdas yang memilih belajar, kebanyakan dari mereka memilih melatih kekuatan mereka supaya menjadi prajurit terkuat suku lalu naik ke posisi kepala suku. Kurangnya orang cerdas membuat mereka yang berpengetahuan di suku barbar sangat dihormati.
__ADS_1
"Tuan Hulard, apa yang akan kita lakukan sekarang?", tanya Ranta hormat.
Hulard tidak langsung menjawab, ia berpikir sebentar sebelum menjawab "Berdasarkan jumlah tenda di kamp musuh, nampaknya memang benar bahwa jumlah mereka kurang dari 700 orang seperti yang dilaporkan orang dari suku Itv tadi. Pasukan patroli mereka juga terlihat lengah serta tidak ada kuda yang berarti mereka semua adalah infanteri, target terbaik dari pasukan kavaleri kita. Oleh karena itu, kita harus menyerang musuh selagi ada kesempatan. Selama tuan muda mampu menang di pertarungan ini dan membawa kembali kepala pemimpin musuh kepada kepala suku, aku yakin kepala suku pasti akan semakin mempercayai tuan muda serta memberikan lebih banyak pasukan. Walaupun begitu aku tidak bisa membuat keputusan, semua keputusan baik menyerang maupun mundur berada di tangan tuan muda".
Ranta mengangguk, ia benar-benar terbujuk oleh perkataan terakhir Hulard "Kau benar Tuan Hulard, aku akan menyerang musuh sekarang sebab belum tentu ada kesempatan sebaik ini lagi di masa depan".
Melihat Ranta terbujuk dengan mudah, Hulard tersenyum meremehkan. Baik kepala suku ataupun anaknya, mereka semua terbujuk dengan mudah oleh beberapa perkataan tipuan. Alasan itu yang membuat Hulard senang tetap tinggal di wilayah barbar daripada pergi ke wilayah lain yang lebih maju, disini ada banyak orang yang dapat ia kendalikan sesuai apa yang ia pikirkan, Hulard sendiri merasa seperti raja.
Tanpa diketahui Ranta bahwa Hulard sedang meremehkannya yang mudah dibujuk, Ranta menarik pedangnya yang setinggi 2 meter, bahkan lebih besar dari tubuhnya sendiri serta menunjuk pedangnya ke arah depan "Seluruh pasukan serang! Biarkan kita tunjukkan kepada orang-orang ini, harga yang harus mereka bayar ketika berani datang ke tanah kita!".
"Serang!".
Setiap kali kumpulan kuda kavaleri ini menghentakkan kakinya ke tanah, mereka akan menyebabkan suara besar serta getaran di tanah layaknya gempa bumi.
Pasukan patroli yang menyadari serangan tersebut akibat suara berisik langsung panik, mereka berteriak-teriak ataupun membunyikan bel untuk membangunkan semua prajurit agar bersiap.
Melihat pasukan Myro yang panik, senyum di wajah Ranta menjadi semakin lebar, ia mengangkat pedang raksasanya tinggi-tinggi "Bunuh semua pasukan musuh, jangan biarkan siapapun pergi dari sini hidup-hidu--".
Tiba-tiba Ranta yang berteriak keras terkejut menemukan kudanya jatuh, lebih tepatnya ternyata ada lubang di depannya yang membuat ia bersama kudanya terjatuh. Walaupun lubang tersebut hanya setinggi 1 meter, mereka yang tinggal sekitar 5 langkah lagi dari pagar kayu kamp musuh harus menghentikan langkah mereka akibat terjatuh.
__ADS_1
Ranta yang berputar-putat di tanah akibat jatuh langsung berdiri, ia menemukan di sekitarnya selain dirinya sendiri, ada banyak sekali pasukan miliknya yang terjatuh.
"Apa yang terjadi disini? Kenapa ada lubang di jalan--", Ranta berteriak penuh rasa marah, namun suaranya berhenti saat teriakan seorang wanita terdengar.
"Cahaya!".
Di mata Ranta, ia melihat sebuah cahaya terang dari tongkat sihir seorang penyihir wanita yang menerangi seluruh area sekitar, padahal tadinya sangat gelap dan hanya ada cahaya obor, namun sekarang keadaan sekitar menjadi terang yang tidak kalah dari siang hari. Wanita yang menggunakan sihir cahaya ini tidak lain adalah Tifari, lalu ada sekitar 500 prajurit yang berbaris tertib di belakangnya.
Di samping Tifari, Myro berdiri dengan Kanson yang menjaga di belakangnya.
Myro mengangkat pedang di tangannya sambil berteriak "Siapkan busur kalian, tarik--".
Pasukan di belakang Myro mulai menarik busur mereka dan mengangkatnya ke langit untuk menembak menuju pasukan Myro.
Melihat persiapan pasukan Myro untuk menembak panah, Ranta mulai panik.
Ia berlari ke belakang dan berteriak "Tidak, aku harus mundur!".
Tetapi sudah terlambat bagi Ranta untuk lari sebab ia terjebak di jurang, Myro melambaikan pedangnya ke depan lalu berteriak "Tembak!".
__ADS_1
Ratusan panah terbang dari kamp Myro menuju pasukan barbar seperti terjadi hujan.