
Myro mengabaikan ejekan Ranta, ia memegang pedang yang sudah patah tersebut dan menebas ke arah Ranta.
"Slash!".
Karena Ranta sama sekali tidak siap sehingga Myro berhasil menebas tangan kanannya memakai pedang yang telah patah tersebut. Namun seperti apa yang dikatakan Ranta barusan, pedang yang patah Myro sudah tak mampu untuk melukainya lagi.
Seseorang dari prajurit Myro melemparkan pedang miliknya tanpa ragu "Pangeran, gunakan pedang milikku!".
Myro siap mengambil pedang tersebut, tapi Ranta langsung mengangkat pedangnya "Kau pikir aku akan membiarkan kau mendapatkan senjata baru lagi?".
Tepat ketika Myro hampir menangkap pedang yang dilemparkan orang lain, Ranta menebas menuju Myro.
Di tengah pilihan antara menghindari pedang Ranta maupun mengambil pedang yang dilemparkan kepada dirinya, Myro memilih menghindari serangan Ranta tanpa ragu.
Apabila ia memilih menghindar maka Myro gagal menerima senjata baru, masalahnya jika Myro memilih mengambil senjata, pedang Ranta pasti telah membunuhnya.
Oleh karena itu di antara pilihan hidup serta mati, Myro tentunya memilih tetap hidup.
Setelah berhasil menghindar, Myro mencoba melompat mundur untuk menjaga jarak dari Ranta serta mendekati pasukannya untuk mendapatkan senjata dari mereka.
Tetapi Ranta yang melihat semua itu tentunya tahu apa yang akan direncanakan oleh Myro, karena alasan tersebut ia mengejar Myro yang menjauh "Jangan berpikir bahwa aku akan memberikanmu kesempatan! Hari ini, kau akan mati di tanganku!".
Sebelum Myro mampu mendekati pasukannya, sebuah pedang raksasa muncul di atas kepalanya yang membuat Myro melompat ke samping lagi.
Walaupun Myro terus mencoba mencari celah, Ranta sama sekali tidak memberikan kesempatan sedikitpun pada Myro yang membuatnya semakin terdesak.
__ADS_1
Baik Myro maupun Ranta berkeringat, mereka terlihat kelelahan sebab 1 orang dari tadi berusaha terus menghindar sedangkan 1 orang lainnya sibuk mengejar.
Menghela nafas berat, Ranta berlari menuju Myro lagi.
Kali ini Myro yang mencoba melarikan diri memutuskan untuk berhenti menghindar, kalau terus seperti ini maka tinggal masalah waktu sampai ia dikalahkan.
Oleh karena itu, Myro memutuskan menahan pedang raksasa Ranta memakai pedang patah miliknya.
Melihat Myro yang tetap berdiri diam di tempat, bahkan mencoba mengangkat pedang patahnya ketika ia menebaskan pedang raksasa miliknya, Ranta tertawa mengejek "Kau gila, bukankah aku telah bilang bahwa pedang patah milikmu sama sekali tidak dapat digunakan lagi? Atau kau mungkin sudah terlalu putus asa sebab tak ada peluang menang melawan ku? Terserah, aku tidak perlu tahu alasanmu sebab kau ditakdirkan mati di tanganku hari ini".
"Tang!".
Baik Lokof, Kanson maupun Charles yang telah bersiap lari membantu Myro menghentikan langkah mereka.
Semua orang menatap ke arah pertarungan Myro melawan Ranta penuh rasa terkejut. Mungkin di antara semua orang, Tifari adalah satu-satunya orang yang tersenyum seakan-akan telah menduga semua ini akan terjadi "Tuan akhirnya melakukan serangan balik! Bukankah aku telah mengatakannya dari awal, tugas kita sekarang adalah percaya pada tuan sampai keadaan benar-benar berubah menjadi hidup dan mati. Lihat, pengalaman melawan pemimpin barbar ini merupakan sesuatu yang berharga bagi tuan untuk meningkatkan kekuatannya".
Lebih tepatnya tadi Myro berada di depan Ranta, tapi dengan waktu 2 detik ia sudah berada di belakang Ranta dengan pedang patah di tangannya yang tertutup oleh darah.
Ranta berdiri diam di tempat selama beberapa detik sebelum memuntahkan seteguk darah, ia menundukkan kepalanya untuk menemukan sebuah luka tebasan pedang besar di tubuhnya.
Menatap ke arah Myro yang berdiri di belakangnya, Ranta dengan darah yang mengalir jatuh dari mulutnya berkata penuh rasa tidak percaya "Sebenarnya apa yang kau lakukan?".
"Yang aku lakukan?", kata Myro lalu mengayunkan pedangnya sehingga seluruh darah yang ada di pedang jatuh ke tanah yang membuat pedang Myro bersih kembali "Apa yang aku lakukan tadi adalah berjalan tepat di depanmu, menebas perutmu memakai pedang patah milikku, menghindari pedang besar milikmu dan yang terakhir berdiri di belakangmu, itu adalah apa yang aku lakukan tadi".
"Tidak mungkin! Aku seharusnya bisa melihat gerakan milikmu selama kau menyerang ku, namun barusan aku sama sekali tak melihat--", Ranta yang akan melanjutkan perkataannya berhenti karena ia menemukan sesuatu yang berbeda dari Myro "Tunggu, aura milikmu itu, kenapa kau memiliki kekuatan rank 4? Apakah selama ini kau menipuku dengan berpura-pura menjadi prajurit rank 3?".
__ADS_1
Myro menggelengkan kepalanya "Aku sama sekali tidak menipumu, sejak awal kita bertarung aku hanya prajurit rank 3. Namun tepat sebelum pedangmu tadi akan menebas ku, kekuatanku meningkat hingga mencapai rank 4. Semuanya terjadi karena aku bertarung melawan mu, nampaknya aku perlu berterimakasih sebab pengalaman yang kau berikan kepadaku adalah alasan kenapa aku berhasil mencapai rank 4".
"Bagaimana mungkin?", kata Ranta memuntahkan seteguk darah lagi, kekuatan di tubuhnya tidak mampu memegang pedang raksasa itu lagi sehingga pedang tersebut jatuh ke tanah dan ia berlutut ke tanah.
Jangan lihat Myro yang hanya memberikan 1 tebasan kepada dirinya, tetapi sebenarnya tebasan Myro barusan memberikan akibat yang fatal pada dirinya.
"Padahal kesempatan meningkatkan rank selama pertarungan itu sangat jarang, sekitar 1 dari 10.000 pertarungan, bagaimana mungkin kau begitu beruntung--".
"Brak!".
Tubuh Ranta jatuh ke tanah sebelum bisa menyelesaikan kata-katanya. Meskipun mereka yang menggunakan kemarahan tidak merasakan sakit, bukan berarti mereka tidak dapat terbunuh. Selama mereka menerima serangan fatal yang membunuh, maka orang yang memakai kemampuan Kemarahan tetap akan mati.
Myro menjatuhkan pedangnya yang sudah patah ke tanah, lalu tubuhnya juga jatuh ke depan sebab kehabisan tenaga.
"Kerja bagus tuanku, anda tadi terlihat sangat hebat".
Sosok Tifari muncul di depan Myro yang menangkap tubuhnya sehingga menghentikan Myro dari terjatuh.
"Maaf merepotkan mu, Tifari. Namun untuk sekarang aku merasa sangat lelah, apakah aku boleh menyerahkan sisanya kepadamu?", tanya Myro yang hampir kehilangan kesadarannya, pertarungan melawan Ranta tadi menghabiskan banyak sekali energi Myro.
Bukan hanya energi, kalau ia tak mencapai prajurit rank 4 tadi, mungkin orang yang akan terbunuh bukan Ranta melainkan Myro.
Meskipun begitu seperti yang Myro katakan tadi, ia perlu berterima kasih kepada Ranta.
Alasannya yaitu selain membuat Myro mencapai rank 4, Ranta juga memberi Myro pelajaran yaitu teknik bertarung seperti teknik pedang, tombak, panah, perisai serta senjata lainnya memang berguna, setidaknya hal tersebut membuat Myro berada di atas prajurit normal lainnya pada pertarungan.
__ADS_1
Tetapi hari ini Myro belajar bahwa kemampuan unik seperti Kemarahan, sihir dan yang lainnya juga penting yang akan mempengaruhi kemenangan.
Melihat Myro yang akan tertidur, Tifari tersenyum "Tuanku, anda boleh beristirahat, sisanya biarkan saya bersama pasukan yang lain menyelesaikannya".