
2 hari berlalu dengan cepat, sebagian besar luka di tubuh Myro telah pulih, ia juga sudah mulai berlatih seperti normal lagi.
Myro yang sibuk berlatih memutuskan untuk berjalan ke pinggir lapangan dan mengambil minum sambil terus mengawasi prajuritnya yang berlatih, terutama prajurit baru dari kelompok bandit.
Medan perang melawan pasukan barbar benar-benar membuat mereka semakin tajam, walaupun di sisi lain jumlah korbannya juga tidak sedikit yaitu mencapai 40 orang.
Bagaimanapun mereka sebagai bandit sering bertarung melawan bandit lain ataupun pengawak yang menjaga karavan, masalahnya medan perang jauh berbeda dari semua pertarungan yang mereka lakukan selama ini.
Oleh karena itu, perang kemarin benar-benar mengubah mereka semua yang berhasil bertahan hidup menjadi seorang prajurit.
Sekarang apa yang paling mereka perlukan yaitu berlatih lebih banyak lagi supaya membentuk kemampuan mereka menjadi lebih kuat lagi.
Lokof juga berjalan ke samping Myro, ia membersihkan keringatnya memakai handuk "Untunglah tuan pulih dengan cepat, aku sempat khawatir sewaktu tuan kehilangan kesadaran".
"Terima kasih, Lokof", kata Myro sambil tersenyum "Kalau dipikir-pikir aku belum melihat Tifari sejak kemarin, selain itu dimana Charles? Aku jarang melihat dia berlatih, apakah ia masih tidur?".
Lokof menggelengkan kepalanya "Aku tidak mengerti 2 orang itu, Tifari nampaknya selalu pergi ke tempat para tahanan sejak kemarin, sedangkan Charles, ia selalu begitu. Padahal Kanson yang merupakan rank 7 selalu rajin berlatih, tapi Charles selalu menghilang setiap kali waktu latihan di mulai, aku tidak tahu apa yang sebenarnya ia pikirkan".
Myro tiba-tiba memikirkan sesuatu "Apakah mungkin Charles memiliki semacam latihan rahasia sehingga ia selalu mencari tempat tanpa orang lain untuk berlatih?".
"Benarkah? Tuan, kalau begitu apakah kita perlu mencari untuk melihat latihan rahasianya?", tanya Lokof dengan mata bersinar. Ia sama sekali tak tertarik dengan uang ataupun kekuasaan, seperti suku barbar yang lain, Lokof hanya tertarik dengan kekuatan.
__ADS_1
Myro menggelengkan kepalanya tegas "Lupakan, setiap orang punya cara mereka sendiri untuk menjadi kuat. Jika Charles memilih merahasiakannya maka kita tidak akan mencari tahunya. Jangan lupa, ia sudah banyak membantu kita sampai sekarang, jangan membuat masalah baginya".
Mendengar keputusan Myro, Lokof mengangguk tegas "Aku mengerti tuan, aku akan menghargai Charles dan tidak mengganggunya".
Lokof memang tertarik menjadi kuat seperti barbar lainnya yang siap menggunakan berbagai cara selama mampu bertambah kuat, namun ia mempunyai 1 hal yang membedakannya dari barbar lain yaitu kesetiaannya pada Myro. Karena alasan tersebut, ia mengutamakan perintah Myro dibandingkan menjadi kuat.
"Tunggu, Lokof! Sejak kapan kau juga menjadi petarung rank 4?", kata Myro yang meletakkan botol minumnya di lapangan rumput, ia terkejut menemukan kekuatan Lokof yang naik 1 rank "Apakah kau juga seperti aku yang naik rank sewaktu berperang 2 hari yang lalu?".
"Kekuatan tuan telah meningkat, selain itu ada Tifari yang kuat menjaga di sekitar tuan. Karena alasan tersebut, bagaimana mungkin aku beristirahat dan membuat aku semakin tertinggal?", kata Lokof tersenyum bangga "Meskipun kekuatanku tak meningkat sewaktu perang seperti anda, tapi aku naik rank saat berlatih kemarin malam. Dengan meningkatnya kekuatanku, aku bisa semakin baik melindungi tuan".
Myro tentunya senang terhadap peningkatan kekuatan Lokof, lagipula semakin kuat Lokof maka keamanan Myro menjadi semakin baik lagi.
Ketika mereka sedang sibuk berbicara, sebuah suara wanita yang lembut terdengar "Tuan, ternyata anda ada disini! Aku menemukan anda tidak ada lagi di tenda anda tadi pagi sehingga aku yakin tuan sedang berlatih mengingat anda sering berlatih setiap paginya".
Tifari terkejut mendengar perkataan Myro, lalu ia tertawa kecil yang membuat para prajurit menghentikan latihan mereka. Walaupun tertutup oleh tudung jubahnya, kecantikan Tifari tetap sulit disembunyikan. Bahkan saat ia tertawa kecil membuat banyak orang menjadi terpaku hanya menatap dirinya sebab senyuman Tifari menambah kecantikan di wajah dinginnya.
Mengabaikan tatapan semua orang, Tifari berkata "Tuan, apakah anda pikir aku orang yang seperti itu? sekalipun aku melakukan eksperimen sihir, kenapa aku membutuhkan manusia sebagai alat eksperimen? Aku bukan penyihir penyembuhan maupun penyihir mayat hidup yang memerlukan manusia sebagai bahan eksperimen mereka".
"Lalu, kenapa kau terus pergi ke tempat para tahanan setiap hari?", tanya Lokof penuh dengan rasa penasaran.
Tifari mengambil sebuah kertas dan menyerahkannya kepada Myro " Sebelum aku mulai menjelaskan, aku harap tuan melihat ini dulu".
__ADS_1
Myro mengambil kertas yang diberikan oleh Tifari sebelum mulai melihatnya, ia menemukan bahwa kertas tersebut merupakan sebuah peta "Peta wilayah barbar?".
Menghadapi pertanyaan Myro, Tifari mengangguk ringan "Tuan benar, apa yang aku berikan tadi merupakan peta wilayah barbar yang baru aku buat. Tetapi berbeda dari peta yang lainnya, peta ini membutuhkan semua informasi yang tuan butuhkan".
"Informasi yang aku butuhkan?", kata Myro penuh rasa tertarik, ia mulai mengamati peta yang ada di tangannya sebelum menyadari ada banyak sekali tulisan pada peta.
Setelah memahami apa maksud tulisan tersebut, Myro berkata dengan menatap ke arah Tifari penuh rasa terkejut "Apakah peta ini juga menuliskan lokasi wilayah masing-masing suku? Darimana kau mendapatkan informasi ini, lalu apakah informasinya akurat, Tifari?".
Setiap bulannya, suku-suku barbar tingkat rendah serta menengah sering mengalami perubahan, ada suku yang hancur dan ada juga suku baru yang muncul.
Oleh karena itu, setiap kali kerajaan mencoba membuat peta wilayah barbar, semuanya menjadi sia-sia sebab suku barbar yang selalu berubah juga menyebabkan wilayah mereka ikut berubah. Jadi Tifari yang memegang peta terbaru tentunya menarik perhatian Myro.
"Tuan bisa yakin, semua informasi pada peta tersebut akurat sesuai keadaan wilayah barbar terbaru", kata Tifari "Sedangkan cara aku mendapatkannya, tentunya ini semua adalah hasil dari menanyakan secara baik-baik yang aku lakukan pada para tahanan?".
"Apakah benar bertanya baik-baik?", kata Myro menolak percaya, bagaimanapun tidak peduli seberapa buruknya disiplin pasukan barbar, mereka tentunya akan tetap diam jika mengenai rahasia suku mereka kecuali ada sesuatu yang membuat mereka perlu mengungkapkannya.
Tifari tetap tersenyum "Benar tuan, semuanya dengan cara baik-baik, mereka memberikan kita informasi secara jujur tanpa membutuhkan imbalan apapun".
Myro berhenti mencari tahu lebih lanjut mengenai cara Tifari menemukan informasi ini, lagipula apa yang paling penting yaitu ia berhasil mendapatkan informasinya, sedangkan cara mendapatkannya maka Myro tidak keberatan berpura-pura tak mengetahuinya.
Di medan perang, tentunya interogasi memakai kekerasan sering kali dibutuhkan untuk mendapatkan informasi yang mereka perlukan.
__ADS_1
Menatap peta yang ada di tangannya, Myro tersenyum senang "Dengan adanya peta ini, pekerjaan kita akan menjadi lebih mudah ke depannya. Beritahu semua orang untuk berkumpul, kita telah cukup istirahat selama beberapa hari ini, sekarang waktunya bergerak!".