
Saat ini pasukan Myro yang baru tiba di padang rumput wilayah barbar segera membangun perkemahan, mereka semua mulai memasak makan siang dan berencana beristirahat disini sampai besok pagi.
Myro yang sedang mengawasi pekerjaan semua orang berhenti ketika melihat seorang penyihir wanita berjubah putih yang sibuk menatap ke arah depan kamp, tidak diketahui apa yang ia pikirkan.
Tanpa ragu, Myro berjalan mendekati wanita penyihir tersebut dan berdiri di sampingnya.
Jika dari jauh maka cukup sulit untuk melihat wajah wanita penyihir ini sebab hampir seluruh wajahnya tertutup oleh tudung, bahkan sulit untuk melihat ekspresi wajah miliknya.
Namun setelah berdiri di sampingnya, Myro dapat melihat wajah penyihir wanita ini dengan jelas yaitu ia mempunyai rambut berwarna perak panjang serta mata perak yang bersinar terang layaknya bintang.
Wajahnya sendiri cukup cantik untuk membuat banyak bangsawan maupun pejabat berbaris mengejarnya.
Myro tahu tidak sopan untuk menatap wajahnya terlalu lama sehingga ia kembali menatap ke arah depan "Apa yang kau pikirkan, Tifari?".
Penyihir wanita ini merupakan salah satu pengikut Myro di Lord World, Tifari sang Penyihir 4 elemen. Saat memanggil Tifari, roda putar menunjuk ke arah perunggu karena kekuatan yang ia miliki merupakan penyihir rank 7, setara dengan Kanson walaupun Myro yakin selama mereka bertarung memakai kekuatan penuh, Kanson bukan lawan Tifari.
__ADS_1
Apalagi Tifari menguasai 4 elemen sihir, padahal sebagian besar penyihir hanya menguasai 1 elemen, mereka yang menguasai 2 elemen disebut berbakat, penguasa 3 elemen disebut jenius, sedangkan yang menguasai 4 elemen adalah monster.
Belum lagi 2 dari 4 elemen sihir milik Tifari merupakan elemen yang langka, oleh karena itu dari segi kekuatan sendiri Tifari di atas para penyihir rank 7 lainnya.
Tifari yang sibuk berpikir berkata penuh rasa hormat "Tuan, anda bersama pasukan anda terlalu lengah. Aku tahu dibandingkan para barbar, kekuatan anda dan pasukan anda berada di atas mereka, tapi aku sarankan tuan selalu berhati-hati sebab hidup tuan merupakan yang paling penting. Terutama kita sekarang sedang berada di wilayah musuh, baik dari segi medan ataupun jumlah pasukan, musuh berada di atas angin. Jika kita berada di Kerajaan Golden Guardian, aku tidak akan mengatakan hal ini, tetapi biarkan aku sekali lagi mengingatkan, kita berada di wilayah musuh".
Myro menatap Tifari penuh rasa tertarik, di Lord World sendiri Tifari dikenal sebagai pahlawan yang cerdas. Ia bukan cerdas mengingat buku, melainkan menebak masa depan dan pikiran seseorang. Bahkan beberapa orang menganggap Tifari sebagai penyihir 5 elemen, alasannya yaitu hampir semua tebakan Tifari tentang masa depan akurat.
"Jadi, menurutmu apa yang perlu kita lakukan sekarang, Tifari?", tanya Myro.
"Selain itu aku sarankan tuan membangun parit di sekitar kamp secepat mungkin, mereka pasti menyerang malam ini. Dengan bantuan gelapnya malam, mereka pasti tidak akan pernah menyadari bahwa ada parit di depan mereka. Belum lagi sekali kavaleri maju, maka mereka akan sulit untuk berhenti, parit tersebut akan menjatuhkan mereka bersama kuda mereka. Tidak peduli terlalu tinggi, paritnya cukup untuk membuat mereka terjatuh dari kuda. Sedangkan pagar kayu, meskipun kurang kuat, setidaknya dapat menghentikan daya serangankavaleri, paling tidak memperlambat mereka sampai kita siap menyerang balik".
"Sebenarnya aku lebih menyarankan kita mundur ke pegunungan lagi lalu menunggu mereka menyerang dari sana, bagaimanapun kavaleri sangat dirugikan pada pegunungan yang mempunyai jalan bergelombang serta pepohonan padat, namun waktu kita sekarang terlalu singkat sehingga tidak cukup untuk membangun kamp sementara yang baru. Selain itu di pegunungan, ada kemungkinan barbar menolak menyerang kita sebab tahu mereka akan dirugikan di sana. Oleh karena itu aku menyarankan rencana pertama, membangun parit serta membuat pagar kayu di sekeliling kamp".
Myro sangat terkejut, dengan waktu singkat, Tifari sudah membuat rencana yang begitu detail "Rencanamu memang bagus, namun kenapa kau yakin musuh akan menyerang malam ini? Jika musuh tidak menyerang, kamp yang kita bangun akan sia-sia dan hanya menghabiskan tenaga. Jangan lupa, besok pagi kita akan meninggalkan kamp ini serta menuju tempat selanjutnya, kita akan menyerang beberapa suku rendah di sekitar sini".
__ADS_1
Wajah dingin Tifari menunjukkan senyum percaya diri yang mampu menjatuhkan banyak pria dan tidak akan ia tunjukkan kepada orang lain kecuali orang-orang di dekatnya "Tuan, apakah anda meragukan sihir ku?".
Setelah itu Tifari menunjuk ke arah matanya penuh rasa bangga. Myro bukan orang bodoh, ia langsung mengerti maksud perkataan Tifari.
Kemungkinan besar Tifari menggunakan sihir seperti mata elang atau sihir lainnya yang membuat ia dapat melihat jauh dibandingkan mata manusia normal, kemungkinan besar selama melihat jauh tersebut, Tifari menemukan sesuatu seperti pasukan musuh yang bergerak maupun hal lainnya.
"Apa yang kau lihat? Apakah mata-mata musuh?", tanya Myro tertarik, ia mencoba melihat sekitar namun tidak menemukan jejak apapun.
Tifari mengangguk "Beberapa waktu yang lalu, ada seorang barbar yang datang bersama kudanya mengawasi kita dari jarak yang jauh. Bahkan aku pun tidak dapat melihatnya apabila bukan karena bantuan sihir ku, ia bersembunyi memanfaatkan rerumputan setelah meninggalkan kudanya cukup jauh dari sini. Pada awalnya aku berpikir pasukan barbar hanya mereka yang menyerang orang lain tanpa strategi atau apapun melainkan hanya menyerang, tetapi sepertinya aku salah. Mereka bisa mengirim mata-mata terlebih dulu sebelum menyerang yang telah membuktikan sebagian kecerdasan mereka, kita tidak boleh meremehkan pasukan barbar ini atau pihak yang akan kalah akan menjadi pihak kita".
Myro perlu mengakui bahwa sebuah keberuntungan besar memanggil Tifari, apabila ia tidak ada disini maka Myro bersama pasukannya mungkin belum menyadari pasukan barbar akan menyerang malam ini. Tanpa persiapan apapun, mereka pasti mengalami kerugian akibat serangan kejutan dari pasukan barbar, tidak menutup kemungkinan mereka akan terbunuh disini.
"Aku mengerti, aku akan memberitahu pasukan untuk bersiap, terima kasih, Tifari", kata Myro yang bergegas menuju pasukannya untuk mempersiapkan semua saran Tifari tadi.
"Anda tidak perlu berterima kasih tuan, sebagai pengikut anda maka sudah menjadi tugas saya memberikan anda saran yang membantu", kata Tifari sambil menatap ke arah Myro yang bergegas pergi memberitahu semua pasukannya.
__ADS_1