
Aku terbangun dari tidurku, sambil sedikit merenggangkan tubuhku yang sakit khususnya bagian pinggang dan sekitarnya. Aku mulai menutupi wajahku saat aku ingat kejadian itu. Ya kejadian saat Darrel dan aku melakukan hal itu.
Sungguh sangat memalukan, bagaimana bisa aku melakukannya. Itu juga kebodohan ku sendiri karena kurang waspada. Sesekali aku memijat pelipis ku karena rasa pusing. Mungkin itu adalah efek obat yang kemaren Darrel taruh di makananku.
...DAP... DAP... DAP.......
Terdengar suara langkah kaki tentu saja itu adalah Darrel, aku sudah pastikan tidak ada orang lagi selain aku dan Darrel.
...CLEK.......
Terdengar pintu mulai terbuka perlahan, dan benar saja itu adalah Darrel. Dengan senyumannya dan Darrel menuju ke arahku. Aku? Apa yang aku lakukan? Aku hanya meringkuk sambil memeluk kaki. Sungguh ini baru pertama kali menyadari bahwa sikap psychopath di dunia nyata tidak sama dengan psychopath di novel romansa yang aku baca.
Di banyak novel, para spikopat akan menuruti semua yang MC Perempuan minta. Tapi aku? Justru aku yang harus menurut para Darrel, baik sikap dan tindakannya.
__ADS_1
"Ha...." aku mulai menghela nafas saat aku sadar apa yang aku pikirkan.
"De... Dea? Kau... Kau tidak apa-apa" tanya Darrel seperti biasa sambil menyibakkan rambutku yang menutupi wajahku.
'Bagaimana aku bisa tidak apa-apa GILA!' kataku batin sambil membuang mukaku.
Aku hanya bisa terus mengumpat. Aku terlalu takut jika harus mengatakannya langsung kepada Darrel. Tapi aku harus memiliki rencana, tidak ada yang bisa menolong ku sekarang. Aku melihat sekitar, tidak ada ventilasi ataupun sebagainya. Jadi mungkin... Hanya Darrel yang bisa mengeluarkan aku dari sini.
Bagaimana dengan Kaka? Mama? Papa? Mereka pasti kencariku, tapi aku tidak yakin apakah mereka tau aku dimana. Ini benar-benar ruangan yang tertutup, aku bahkan tidak sadar ini adalah siang ataupun malam. Hanya ada sebuah lampu pijar di luar ruangan membuat suasana menjadi tambah remang-remang.
Sontak aku langsung menutup telingaku, sambil malu aku menatap ke arah Darrel. Dengan wajahku yang memerah, pastinya Darrel melihatnya.
"Apa yang kau pikirkan ha?" tanya Darrel sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku.
__ADS_1
Tak lama kemudian aku merasa benda kenyal dan dingin jatuh di dahiku. Tentu saja Darrel mengecup dahiku dengan lembut. Seperti seorang pasangan. Aku ingin menunduk karena malu, tapi Darrel menghentikannya dengan terus menahan kepalaku.
"Aku ada satu tebakkan, mau coba?" kata Darrel berbisik sambil sedikit memeluk kepalaku.
"A... Apa?" kataku terbata karena takut.
"Berapa kali aku keluar karena membayangkan mu tadi malam," Kata Darrel sambil terus berkata di telingaku, kemudian mencium tengkukku.
"MANA! MANA AKU TAU! DAN TEBAKAN MACAM APA ITU!" teriakku langsung menjauhkan kepalaku dari pelukan Darrel.
Tapi setidaknya aku mendapat satu informasi, bahwa ini sudah pagi. Karena Darrel mengatakan tadi malam, jadi kami memang melakukannya di malam hari kemudian Darrel melanjutkannya sendiri.
Darrel hanya tersenyum kepadaku, dia tersenyum seperti wajah bahagia. Tapi ekspresi Darrel bukanlah ekspresi yang terdapat seperti orang biasa, dia adalah ekspresi yang penuh teka-teki.
__ADS_1
"10 kali" kata Darrel kembali.
Aku langsung membulatkan mataku tidak percaya. Aku semakin menjauhkan tubuhku dari Darrel, takut akan pikiran mesumnya. Sungguh lama-lama bukan hanya Darrel yang gila, tapi juga pasti akan gila.