Love By Psychopath

Love By Psychopath
CHAPTER 15 •LBP• : AWAL CERITA MASA LALU


__ADS_3

"Apakah kamu sering meminumnya?" tanyaku balik.


Hanya anggukan yang Darrel lakukan saat aku bertanya kepadanya. Sambil sesekali meneguk minuman yang dia pegang dengan perlahan. Terlihat Darrel memang bukan dari keluarga biasa, kalian tau cara meminum minumannya terlihat sangat berbeda dari keluarga biasa.


"Kau tau itu tidaklah baik bagi kesehatan tubuhmu, kau mungkin akan merasa tenang dan rileks untuk sementara, tapi kamu akan merasa panas, sesak, cepat marah, tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan lemahnya otot jantung, serta kurangnya daya pikir, dan kesehatan otak" jelasku sambil meminum segelas air putih.


'Heh! kau sudah gila pantas saja kamu semakin gila karena meminumnya' kataku batin sambil terus meneguk air minum.


Darrel hanya tersenyum kepadaku, kemudian meletakkan minuman di tangannya. Tak lama kemudian dia mulai mengikutiku dengan meminum air putih di sebelahnya.


"Sepertinya anda tau banyak tentang minuman Ny. Kaveleri" ucap Darrel setelah minum air cukup banyak.


"Tapi bukan aku yang memulainya, orang tuaku yang sudah mengajariku seperti ini sejak kecil, jadi... Untuk akibat yang kau katakan pasti aku sudah merasakannya sekarang" lanjut Darrel sambil menyodorkan makanan ke padaku.

__ADS_1


Aku langsung mengangkat sebelah alisku. Aku masih mencerna perkataan Darrel, apalagi setelah dia menyebutku dengan sebutan nyonya Kaveleri. Itu adalah hal yang menjijikkan yang pernah aku dengar.


"Kau bisa memilih jalan hidupmu sendiri, kamu mau mengikuti orang tuamu untuk terus meminumnya atau berhenti itu adalah keputusan mu sendiri" kataku dengan santainya.


Entah sejak kapan aku dan Darrel berbincang dengan sangat santai. Aku tidak merasa terintimidasi lagi, bahkan aku tidak merasa risih saat berbicara dengannya. Aku justru melihat Darrel dengan sudut yang berbeda. Aku dulu mengira Darrel memanglah orang gila, tapi aku tidak pernah berfikir kenapa dia bisa bersikap dan berfikir seperti orang gila.


"Aku tau..." kata Darrel sambil melihatku dan tersenyum hangat.


Aku kali ini benar-benar terkesima dengan senyuman Darrel yang hangat. Dia juga bisa bersikap seperti layaknya orang biasa, meskipun aku masih tidak bisa lupa bahwa dia adalah orang yang gila.


"Tentu saja" jawab Darrel dengan santainya.


"Saat kita berciuman pertama kali di kamar mandi kamu bilang sama seperti dulu, bahkan saat itu kamu bilang aku telah melupakanmu, apakah dulu kita mempunyai hubungan tertentu?" tanyaku sambil menunduk karena malu.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dari Darrel membuatku tambah gugup. Tak lama kemudian aku mulai melihat tangan Darrel menggenggam tanganku. Tak lama kemudian aku mulai merasa salah satu tangan Darrel mengangkat kepalaku, hingga menatap kearahnya.


...CUP.......


Kecupan singkat bibir Darrel ke bibirku.


"Apakah kamu akan percaya jika aku bilang dulu kita pernah berpacaran?" tanya Darrel sambil menatap mataku penuh.


Aku mulai membulatkan mata, tidak percaya dengan perkataan Darrel. Aku ingin menjawabnya tapi jari Darrel sudah berada di bibirku, tanda bahwa aku harus diam.


"Tidak ada orang yang tau, karena itu hanyalah imajenasiku... Karena itu adalah mimpiku sebelum mereka menjauhkanmu dariku" ucap Darrel dengan geram, sambil memegangi kuat gelas berisi air putih yang aku minum tadi.


...CRAK......

__ADS_1


Terdengar suara pecahan gelas, yang membuatku langsung memalingkan wajahku ke arah suara tersebut. Aku mulai meneguk salivaku saat melihat tangan Darrel kini penuh darah karena terlalu kuat memegang gelasnya. Beberapa pecahan gelas juga menempel ke jari-jari Darrel.


__ADS_2