Love By Psychopath

Love By Psychopath
CHAPTER 42 •LBP• : KEMATIAN ORANG TUA DARREL....


__ADS_3

[Auth : Hallo semua!!! gini aku kasih wanti di awal, bukan karena adegan yang memang semakin gila tapi di eps ini juga ada part banyak sekali kekerasan dan menunjukkan sisi Darrel yang sebenarnya. So jngn kalian tiru ya... Apalagi yang sedang halu dan lagi keadaan nya kurang baik Ama ortu. okeh! JANGAN KALIAN TIRU!]


.


.


.


Darrel terus memeluk dan mengusap rambutku dengan lembut. Aku tidak bisa merasa nyaman, dan tidak boleh merasa nyaman atau aku yang akan menjadi korban.


"Kau bertanya kepada Ellis bukan? Bagaimana orang tuaku meninggal" kata Darrel sambil setengah berbisik ke telingaku.


Aku hanya diam, pelukan Darrel benar-benar kuat. Apalagi aku telah membuang tenagaku saat marah tadi.


"Akulah yang memutilasi mereka...." ucap Darrel sambil menahan kepalaku agar tidak bergerak sama sekali.


Mendengar perkataan Darrel membuat jantungku berontak seketika. Aku terus berusaha sekuat tenaga agar lepas dari pelukan Darrel. Tapi itu semua sia-sia saja.


Meski tubuhku dapat bergerak, tapi kepalaku sama sekali tidak bergeming. Aku tidak tau apa yang Darrel lakukan agar bisa sekuat ini.


"Kenapa kau terkejut by... Harusnya kau sudah menyadari" ucap Darrel kembali dengan lembut, sambil menjilat telingaku kemudian menggigitnya.


'PSYCO!' ucapku batin sambil terus memberontak.


"Pergilah! Pergi! Jauhi diriku dasar gila!" kataku kembali sambil mencoba melepas kepalaku, tapi hasilnya tetap saja tidak bisa.


Aku terus memberontak berusaha sekuat tenaga. Darrel mengetahui semua yang aku bicarakan dengan Ellis. Dan sekarang tamatlah riwayat ku. Tapi jika di pikir kembali, mungkin lebih baik mati daripada harus hidup bersama seorang psychopath disini.


"Sshhh... Kau ingin mengetahuinya bukan? Akan aku ceritakan sekarang, kamu tidak perlu berterima kasih karena aku melakukannya dengan senang hati" ucap Darrel seorang menenangkan diriku, sambil terus mengusap rambutku.


...FLASHBACK AND DARREL PROV.......


Sudah satu bulan sejak kepindahan Dea, tapi aku masih belum bisa melihat wajahnya. Dea juga sangat tertutup di sosial media, membuatku tidak bisa melihat wajahnya meski hanya virtual saja.

__ADS_1


"MAH! Ayok kita jemput Dea!" kataku dengan marah kepada mamaku.


Beberapa hari belakangan ini, memang aku sedikit emosi. Aku sudah benar-benar tidak tahan menunggu kapan bisa mengetahui dimana Dea. Andai saja mereka membolehkan aku keluar pasti aku akan ke Bandung sekarang.


...PLAK!...


Terdengar kasar tamparan yang begitu kuat, di pipiku.


"kamu apa-apaan! Dasar anak gak guna! kamu gak tau mama lagi arisan sekarang!" ucap mama sambil merah dan membentaku.


"Kembalikan ajalah mah motorku itu! Aku akan pergi dan tidak akan mengganggumu!" teriaku tidak kalah kerasnya dengan mama kala itu.


...PLAK!...


Tamparan kedua yang benar-benar keras sekarang. Membuatku tambah menggertakkan gigi dan menambah emosi.


"DASAR ORANG TUA!" ucapku sambil melayangkan tanganku ke arah mama.


...BUGH!...


"KENAPA! KENAPA! KENAPA!" teriakku terus sambil memukul-mukul wajahnya berulang kali.


Tak lama setelah itu, papa ternyata datang dan meleraikan aku dengan mama.


"KAU ANAK GILA!" teriak papa sambil mengangkat tubuhku yang ada di atas mama.


...BRUGH!...


Suara tubuhku yang membentur dinding kamar terdengar sangat berat.


"GILA LEBIH BAIK KAMU MENINGGAL SAJA!" teriak papa kembali sambil mulai mengambil barang-barang di sekitarnya.


...PRANK!!!...

__ADS_1


Terdengar nyaring suara vas yang melayang ke arah kepalaku. Seketika aku mulai merasakan darah mengalir, tapi bukannya kesakitan aku sungguh sadar darimana aku mendapat jiwa yang brutal.


Aku menatap laki-laki tua itu dengan penuh sinis. Senyuman mulai terukir di bibirku dimana aku mengetahui wajah ayahku yang sebenarnya.


"Masih bisa ketawa! Dasar anak gila!" teriak papa, kemudian mengambil kaki kursi dimana sudah lepas sebelumnya.


...BUGH! BUGH! BUGH!...


Terdengar suara antara kaki kayu itu dengan tubuhku berulangkali. Bukannya merasa kasian, papaku justru menjambak rambutku dan mulaj merarikku ke kamarku.


"Malam ini jangankan untuk makan malam, untuk minum saja kau tidak akan aku berikan" ucap papa lalu menutup pintu dengan kuat dan menguncinya.


Aku hanya menatap pintu yang sudah tertutup sambil tersenyum getir. Aku sebenarnya malas melakukannya, tapi aku bisa melakukan rencana terakhir untuk mengakhiri semuanya.


Pada malam ini, pembantu di rumah ini memang tidak ada. Setiap akhir tahun, keluargaku memang mengizinkan pembantu untuk mengambil cuti. Mereka mengira akan di pandang baik oleh media, tapi mungkin mereka akan berfikir dua kali jika mengetahui malam ini adalah malam terakhir mereka.


Pfffttt.... Tawaku pelan saat rencanaku benar-benar sudah matang. Aku mendeteksi kunci pintu kamarku, dengan kunci ganda yang ada di dalam kamar. Dan untuk kamar papa dan mama tercintaku, aku menggunakan sidik jari mereka untuk mengetahui code masuknya.


Anyway kalian tanya bagaimana dengan cctv-nya. Benar aku telah membuatnya tidak berfungsi satu minggu yang lalu. Aku hanya tersenyum sambil mengusap kepalaku, dan menyanjung diriku sendiri betapa pintarnya aku.


"Selamat malam... Dan selamat tinggal...." ucapku sambil mengangkat gergaji yang sudah aku siapkan.


Malam berlalu dengan cepat, dimana bahkan aku tidak sempat meyingkirkan potongan tubuh mereka. Jadi aku memutuskan untuk menunggu guru privat ku datang, dengan menambah wajah ketakutan.


Sungguh drama yang menyenangkan, apalagi saat ternyata pamanku Theo Walcott membantuku dalam menyuap para polisi itu.


Sejak saat itu, aku mulai di ajari oleh pamanku. Bersama dengan anaknya bagaimana menjadi seorang yang dapat bertahan, meski kau hanya anak buangan.


...FLASHBACK AND DARREL PROV END.......


.


.

__ADS_1



__ADS_2