
(ⁿote) : Masih lanjutan flashback dan Darrel prov...
_____________________________________________
_______________________________
"Lihat nama belakang mu terdapat Kaveleri bukan berarti kamu bisa menyamar menjadi anak orang kaya" salah satunya lagi menimpal dengan menekan nametag yang aku gunakan.
"Biar aku lihat dulu, ini asli atau palsu" kata yang lainya sambil mengambil nametag milikku.
"Kembali... Kembalikan" kataku sambil sedikit terbata karena takut.
Setelah mendengar suaraku, mereka langsung tertawa keras.
"Kau bicara! aku kira kau bisu!" kata yang lainya.
"Kumohon cepat kembalikan" kataku memohon sambil mencoba mengambil nametag milikku.
"Cepat ambilah maka kau akan mendapatkannya" ujar anak itu sambil mengangkat tangannya tinggi.
Aku mulai mencoba merebut kembali nametag mulutku, dengan lebih intensif. Beberapa tawa mereka semakin keras, bahkan kadang mengejekku kuat.
__ADS_1
...PLAK.......
Tamparku tak sengaja, membuat pipi anak yang mengambil nametag ku memerah.
"Ma... Maaf aku tidak sengaja" kataku terbata.
"Cih! Bawa dia keluar!" teriak anak tersebut.
Beberapa anak kemudian membawaku ke atap, dan memukuliku disana. Meski hasilnya babak belur tapi aku mendapat nametag ku kembali.
Aku kembali dalam keadaan lebam. Aku melihat ayahku di meja makan, karena ini adalah makan malam. Dia sama sekali tidak melihat lebamku bahkan saat aku di depannya. Aku makin ragu apakah aku itu adalah anaknya.
Setelah makan malam selesai, seperti biasa aku belajar hingga larut malam. Sesaat setelah aku akan tertidur aku mendengar ketukan pintu dari arah luar.
Dia adalah asisten rumah tangga disini. Tapi dia yang paling dekat denganku, karena aku di rawat olehnya sejak kecil. Dia adalah bibi tua yang sudah memiliki 3 orang anak, semuanya sama-sama sudah dewasa.
"Tentu saja bi" Kataku pelan.
Tak lama setelah itu, bibi Maria mulai masuk dan menutup pintunya. Dia mengusap wajahku yang lebam dengan pelan.
"Apakah kamu bertarung Nang?" tanya bibi Maria.
__ADS_1
"Aku di pukuli bi, karena nametag ini" ucapku sambil menunjuk nametag yang ada di atas mejaku.
Bibi hanya melihatku dengan iba, dia merasa kasian. Bagaimana putra dari keluarga yang cukup berpengaruh bisa di perlakukan seperti ini.
"Maafkan bibi Nang, anda tau tuan tak memperbolehkan bibi masuk sebelumnya" jelas bibi Maria sambil mengusap salep di wajahku.
Aku tau bibi Maria tidak akan berbohong. Memang di rumah ini tidak ada yang boleh menggangu waktu belajarku, itulah peraturan yang tidak tertulis di rumah ini.
Entah kenapa mulai saat itu aku menjadi target bullyan Jared dan teman-temannya. Itulah hal terburuk yang terjadi selama masa awal sekolah.
Seperti biasa, aku di bawa pergi ke dalam gudang untuk mereka pukuli. Hari ini alasan mereka memukuliku adalah karena bekas lukaku sudah tidak ada.
Sambil sedikit sesungukan, aku memojokan diri di gudang. Hingga pintu gudang terbuka menandakan bahwa ada seseorang masuk. Seperti biasa aku menyeka air mataku, dan bilang aku baik-baik saja. Itulah yang selalu aku katakan, dan sialnya mereka percaya.
"Ini... Itu, luka seperti itu akan meninggalkan bekas lama jika dibiarkan begitu saja" kata orang tersebut, lebih terdengar seperti gadis sambil memberikan salep kepadaku.
"Ini bukanlah salep yang mahal, tapi ini akan membuat lebamnya berkurang dan... Akan sedikit memberikan sensasi dingin pada lukanya" lanjut anak itu kembali sambil mengusapkan sedikit salepnya kepadaku.
Aku menatap wajah anak itu dengan penuh. Dia adalah anak yang cantik dan lembut, meski terlihat beberapa lebam pada dirinya juga.
'Dea' ucapku batin saat melihat nametag milik gadis tersebut.
__ADS_1
Tapi yang membuatku terheran-heran adalah, nama gadis itu adalah Dea hanya Dea tanpa marga ataupun nama belakang.