
Aku terus mencengkeram jaketku kuat, dimana aku mendengar suara shower yang mengalir dari kamar mandi. Aku mulai tegang entah apa yang akan Darrel lakukan kepadaku. Apakah dia mendengar semuanya? Maka habislah aku.
"Kau sedang memikirkan apa by?" ucap seorang laki-laki.
Dengan cepat aku menatap ke arah sumber suara. Diaman terdapat Darrel disana, yang hanya memakai handuk sekitar pahanya.
'Aku mendengar suara air tapi mengapa dia sudah selesai?' tanyaku batin.
"Kau seperti sudah sangat menantikan aku..." ucap Darrel kemudian datang menghampiri ku.
Nafasku mulai memburu, apalagi saat kamu semakin dekat. Wajah Darrel terus mendekati wajahku, hingga aku mengalihkan wajahku agar tidak mencium nya.
"Tapi bukankah kau harus membersihkan dirimu dulu?" lanjut Darrel tepat di depan wajahku.
Aku langsung saja membuka mataku. Terkejut dengan perkataan Darrel. Dimana aku harus membersihkan tubuhku, jangan bilang aku harus mandi dengannya.
"Apa yang kau pikirkan" ucap Darrel sambil mengusap kepalaku.
Aku terus menunduk karena takut. Sedangkan benar saja Darrel mulai membuka jaketku, dan membopongku ke kamar mandi.
'Tolong jangan kali ini!' teriakku karena tidak bisa berbuat banyak.
...BYUR.......
Suara percikan air yang ternyata sudah penuh di bathtub, saat terkena tubuhku yang sengaja di jatuhkan.
"Dingin...." gumam ku.
__ADS_1
Rasanya menggigil di seluruh tubuhku. Entah jam berapa sekarang, tapi rasanya air saat ini benar-benar dingin.
"Apa yang kau pikirkan..." ucap Darrel terus mengulang kalimat itu.
Kini tubuhku yang hanya di balut perban sudah terlihat. Darrel perlahan membuka perban di setiap tubuhku, sehingga membuat tubuhku naked sempurna.
Beberapa kali Darrel menyirami tubuhku, mulai dari kepala kemudian berlanjut ke tubuhku. Dingin... ini sangat dingin aku berharap ini cepat berakhir, tapi sepertinya tidak akan secepat itu.
"Hach...." suara bersin yang aku tahan.
Ini sungguh dingin, bagaimana Darrel bisa melakukannya kepadaku. Tak lama setelah menyiram tubuhku, Darrel mulai memakaikan shampo dan sabun ke tubuhku. Sekarang ini layaknya seorang orang tua yang tengah memandikan anaknya.
"Wangi kan...." ucap Darrel sambil mencium kepalaku yang masih tertutup busa.
Darrel terus melakukannya hingga dia Selesai kemudian membalut ku dengan selimut, dan membopongku keluar kamar mandi. Tubuhku benar-benar serasa menggigil, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku masih diam sekarang, daripada nanti Darrel marah terhadap ku.
Aku mulai menatap Darrel, dimana dia sedang bersender di tepi ranjang dan aku berada di atasnya sekarang.
"Apa yang kau ceritakan dengan Ellis" ucap Darrel sambil mengalihkan wajahku agar menatap ke arahnya.
"Tidak apa-apa~" jawabku cepat dengan suara bergetar.
Aku sadar Darrel pasti mengetahuinya, dia hanya menunggu waktu yang tepat saja.
...GRAB!!!...
Cekik Darrel tiba-tiba kepadaku.
__ADS_1
"AKH!... A-ku... Ti-dak..." kataku benar-benar terbata karena Darrel mencengkeram nya dengab kuat.
Tak lama setelah itu Darrel melepaskan cengkraman tangannya. Aku hanya bisa menghela nafas cepat, sambil mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Aku terus tertunduk tanpa berani menatap.
"Aku tanya sekali lagi by... Apa yang kau bicarakan dengan Ellis" ucap Darrel lembut di telingaku.
Aku ketakutan, aku tidak percaya dia adalah orang yang dulu aku sayang. Jika aku bisa mengulang masa lalu, lebih baik aku tidak mengenal Darrel saat itu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.