Love By Psychopath

Love By Psychopath
CHAPTER 29 •LBP• : KEADAAN ELLIS


__ADS_3

Maaf banget baru up😭✊


akhir-akhir ini mt/nt eror membuat saya harus menunggu review lama, belum lagi skrip yang sebelumnya di tolak setelah nunggu 1 Minggu review. Makasih yang udah mau tunggu 😭✊.


_____________


_______________________


Darrel hanya tertegun melihatku, dia masih tidak percaya dengan apa yang aku lakukan. Dengan pipi yang masih memerah, Darrel menahan tengkukku dan mulai menciumku balik.


"Darrelsshh...." kataku mencoba berbicara dimana Darrel benar-benar tidak melepaskan bibirku.


Aku mulai kehabisan nafas, sedangkan lidah Darrel terus bermain di dalam mulutku dengan cepat. Sungguh permainan yang luar biasa, membuatku sadar bahwa aku juga tidak bisa menandinginya.


...*****.... *****... *****.......


Tiba-tiba terdengar bunyi alarm entah dari mana. Setelah bunyi itu, Darrel langsung melepaskan ciumannya dan mulai mendengkus kecewa.


"Waktu yang salah bukan" kata Darrel sambil beranjak dari tubuhku.


Aku melihat Darrel sekilas, terlihat disana terdapat jam digital dengan alarm yang berbunyi tadi.


"Aku harus keluar by, bukan waktunya sekarang untuk kita bersenang-senang" kata Darrel sambil mengecup keningku.


Aku merasa memanas di bagian pipiku. Tapi aku hanya diam, aku tidak berbicara apapun hanya menunduk dan tersipu malu. Terlihat sekilas senyuman Darrel sebelum dia benar-benar keluar dari ruanganku.


...BLUSH........


Saat aku sadar apa yang telah aku lakukan. Aku mulai menutupi wajahku dengan bantal, dan cekikikan sendirian karena tidak kuasa menahan kesenangan.


"Memang... Mungkin aku memang menyukainya" kataku pada diriku sendiri sambil menatap pintu dimana Darrel keluar tadi.

__ADS_1


Tak lama setelah itu, aku putuskan mandi dan berendam di bathtub untuk menenangkan pikiranku. Sekali lagi pipiku mulai memanas saat aku mengingat kejadian aku dan Darrel saat di kamar mandi.


"Apa yang kau pikirkan Dea" ucapku pada diri sendiri, sambil membenamkan tubuhku penuh masuk dalam bathtub.


Lama sekali Darrel tidak kesini. Sejujurnya aku merindukannya. Aku terus menatap jam yang entah dari kapan ada disini. Jam itu menunjukkan pukul 5 lebih, mungkin sore karena tidak mungkin ini ada pagi hari.


Dengan gelisah aku menunggu Darrel, hingga terdengar suara langkah kaki yang cepat mendekati ruanganku. Itu adalah Darrel, yang kembali dengan wajah khawatirnya.


"Dea... Ada sesuatu yang ingin tunjukan kepada mu" kata Darrel sambil menggandeng tanganku, dan membawaku pergi dari ruangan ini.


Langkah Darrel begitu cepat, hingga sampailah kita di sebuah ruangan yang. Darrel membuka kunci ruangan tersebut. Seketika aku membulatkan mata, saat melihat keadaan Ellis saat ini. Tubuhnya kering kerontang, dia hanya bisa berbaring di sebuah ranjang sempit. Bahkan di wajahnya mulai tampak keriput.


"K... Kau! Apa... Apa yang kau lakukan Darrel!" teriakku saat masuk dan terkejut melihat Darrel.


"Aku... Aku tidak melakukan apapun sungguh, mungkin dia seperti itu karena aku tidak cukup memberinya minum" ujar Darrel kembali sambil menatap asal.


Sontak aku langsung membulatkan mata. Aku lupa keadaan Darrel sebenarnya. Jika dia bisa melakukan ini pada Ellis, dia juga bisa melakukannya kepadaku.


"Li... Lihatlah dirimu sendiri" ucap Darrel kepada Ellis, sambil sesekali memegang tubuhnya.


"Apa ini? Kau hamil?! Dalam keadaan seperti ini? Kau pikir aku akan mengampunimu?" lanjut Darrel sambil terus memegang Ellis.


Deg....


Deg....


Deg....


Detak jantungku seolah berhenti, aku semakin bungkam saat mendengar perkataan Darrel. Bahkan dia menyiksa bayi yang bahkan sedang di kandungan Ellis.


Aku tersadar pintu yang tadi kami gunakan untuk masuk tidaklah di kunci. Ini adalah kesempatan ku. Aku tidak boleh menyia-nyiakannya.

__ADS_1


Dengan perlahan-lahan aku berjalan ke arah pintu, dan berlari kencang saat sudah keluar. Aku terus berlari meski entah berlarian kemana.


"DEA! DEA! BERHENTI! ATAU AKU AKAN MEMBUNUHMU!" teriak Darrel sambil ikut berlari mengejar ku.


Aku sudah tidak tahan, banyak resiko yang harus aku alami. Tuhan... Berikanlah aku jalan, kumohon.


Sesaat setelah itu aku menemukan tangga yang menuju ke atas.


BUNKER! teriakku dalam hati mengingat perkataan Darrel. Jika benar ini adalah bunker, pasti membutuhkan tangga untuk naik ke atas bukan.


'Aku menemukannya! Aku menemukannya!' teriakku batin karena kegirangan.


...BRUK!...


Sesuatu yang keras membentur kepala belakangku. Hingga aku terjatuh, dan mulai merasakan darah mengalir dari situ. Kesadaran ku mulai berkurang, dan remang-remang aku melihat wajah seseorang.


"Jika kamu melakukannya lagi, aku benar-benar akan membunuhmu" ucap Darrel sebelum aku benar-benar tidak sadarkan diri.


.


.


.


.


.


.


[AUHT : Lebih hargai penulis dengan like dan komennya ya, karena itu merupakan apresiasi tersendiri bagi saya]

__ADS_1


__ADS_2