Love By Psychopath

Love By Psychopath
CHAPTER 46 •LBP• : AKHIR CERITAKU


__ADS_3

Beberapa Hari setelah kejadian itu, aku sedang berdiri di balik kaca kamarku sekarang, lebih tepatnya adalah kamar Darrel. Tentu saja aku masih berada rumah Darrel. Tapi bedanya sekarang aku tidak di bassment lagi, melainkan dj kamarnya.


Ellis juga berada di sini. Ellis yang selalu menyiapkan kebutuhanku. Aku dengar, dia mengatakan bahwa Darrel akan membiarkannya keluar jika terus mengawasiku.


"Kehidupan yang tragis" ucapku sambil menghela nafas.


Tak lama setelah itu, setelah sekian lama akhirnya aku melihat seseorang yang berjalan di depan rumah Darrel. Dia terlihat seperti mahasiswa, atau mungkin SMA akhir. Aku terus menggedor-gedor jendela, hingga akhirnya dia menatap ke arahku.


Aku terus berteriak, tapi melihat ekspresinya dia sedikit kebigungan. Aku mempunyai satu cara, aku menghembuskan nafasku ke kaca jendela hingga terbentuk kumpulan uap air disana. Setelah itu ku tuliskan kata "HELP" dengan ejaan huruf besar agar terbaca.


Tapi, sepertinya dia masih tidak paham atau bahkan tak acuh dengan apa yang aku tulis. Setelah aku menulis, dan memberikan isyarat tetap saja dia berlari menjauhi rumah darrel.


"Sialan!!!" teriakku sambil menggedor jendela.


Aku mulai kehilangan harapan. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Aku mulai tertunduk dan terdiam, serta merosotkan tubuhku ke bawah.


"Berakhir sudah bera-"


...BRAK!...


Tiba-tiba pintu kamar terbuka, yang membuatku terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara.


"Dea... Kau harus ikut aku sekarang" ucap Ellis dengan nafas memburunya.


"E-ellis!" teriakku kaget saat tiba-tiba dia menarikku keluar.


"Dengarkan aku Dea, Darrel berkata akan pergi ke luar kota untuk beberapa hari ini adalah kesempatan bagus untuk melarikan diri" ucap Ellis bersungguh-sungguh sambil membawaku menurini tangga.


Aku tidak tau Ellis bisa sefokus ini. Biasanya dia hanya memberiku makan, dan memberikan apa yang aku butuhkan.


Tak lama Ellis dan aku berlari, hingga sampai di halaman rumah Darrel. Ellis dengan cepat melihat ke arah sekitar, kemudian berjalan ke arah gerbang. Tak lama setelah itu Ellis mulai memcoba membukanya, tapi tetap daja gagal.


"Sudah aku duga dia menguncinya" decak Ellis kemudian terus membawaku hingga menuju pagar tembok, yang kira-kira sekitar 2 meter lebih.


"Cepatlah kita tidak ada waktu lagi" ucap Ellis kemudian memcoba membopong tubuhku.


"Ellis! Apa yang kau lakukan!" teriakku kaget dan sedikit meronta.


"Kau harus cepat keluar dari sini! Ini satu-satunya harapan kita! Darrel sedang keluar kota!" teriak Ellis bertubi-tubi kepadaku.


"Dengarkan aku Dea, jika saja kau bisa keluar dari sini maka kau bisa meminta tolong dan juga membawaku pergi" jelas Ellis saat melihat tubuhku kaku dan gemetar.


"Tapi... Kau sedang hamil, dalam kau itu golongan yang di pri-"


"Sekarang bukan waktunya memikirkan prioritas Dea!" sergah Ellis memotong pembicaraanku.

__ADS_1


Matakku membulat seketika, aku tidak pernah menyangka Ellis bisa mengeluarkan ekspresi seperti itu. Meski tanganya sama-sama takut dan gemetar, tetap saja dia mencoba kuat. Sekarang di hadapanku bukanlah Ellis Xavier yang dulu, melainkan Ellis Xavier yang berbeda.


"Kenapa Ellis... Kenapa saat aky sudah menyerah justru kau bangkit" ucapku dengan nada gemetar karena menahan air mata.


...PLAK!...


Tamparan kuat Ellis ke pipiku. Seketika aku membulatkan mata, dan terkejut dengan apa yang terjadi.


"Dengar Dea... Sekarang bukan waktunya menangis, kini waktunya kita untuk pergi. Setelah melihatmu kemarim, aku baru sadar bahwa kata-kata Darrel tidak bisa di percaya, dia bahkan menyakitimu lebih dari yang aku kira" jelas Ellis kemudian membalikan badanku agar membelakanginya.


"Setidaknya... Anggap ini sebagai pembalasan budi dan penebusan dosa" lanjut Ellis kemudian membopongku dengan sekuat tenaga.


Aku kini paham apa yang Ellis inginkan. Sebuah permintaan maaf yang tulus, dengan pengorbanan. Aku pasti tidak akan menyia-nyiakannya


'Ellis aku pasti akan membawamu pergi juga' kataku batin sambil tersenyum.


Aku mulai mencoba meraih tembok dengan sekuat tenaga. Aku terus mencoba meraihnya, meski aku tau itu tidak mungkin tapi aku tetap mencobanya.


"Ah!" teriakku saat jariku akhirnya sampai di ujung tembok.


"AKHH!!" entah kenapa tiba-tiba Ellis berteriak, dan melepaskanku seketika.


...BRUK!...


Jariku yang semula sudah di ujung tembok, hanya memerah kesakitan karena belum cukup menahan beratku.


Aku terkejut apalagi saat Ellis tidak sadarkan diri. Dari kejauhan aku juga melihat seseorang yang memegang pisau, tengah membidik juga ke arahku.


"DARREL!" teriakku saat tau ternyata dia ada di rumah.


Dengan spontan aku berdiri, dan mulai mencoba melompat ke ujung tembok.


"TOLONG! Tolong!" teriakku kuat sambil terus meloncat.


"AAKKHHH!" teriakku saat sadar ternyata sebuah pisau juga telah menamcap di tubuhku.


Aku tidak bisa menyerah sekarang.


'Ellis... Kepercayaan Ellis, pengorbanan Ellis, Sakitnya Ellis, aku harus keluar demi semua itu!'


Dengan tenaga yang masih tersisa aku mencoba berjalan tertatih ke arah gerbang kayu. Sangat kuat dan dalam keadaan terkunci. Tanganku terus menggedor pintu berharap ada yang mendengarnya.


"TOLONG! TOLLONG!" teriakku dengan penuh harapan.


Aku terkalu menghabiskan banyak waktu, hingga aku merasakan tangan Darrel ada di pundakku lalu membalikkan tubuhku.

__ADS_1


"Selamat malam... Sa-yang" ucap Darrel sangat dekat denganku.


...JLEB!...


Sebuah pisau kini Darrel tancapkan tepat di perutku.


"Akh!" kataku sambil memuncratkan darah dari bibirku.


"Aku sudah memperingatkanmu, jika kau berani lari lagi aku benar-benar akan menghabisimu" ucap Darrel dengan nada dinginnya.


Tak lama kemudian, Darrel mulai menopang tubuhku, dan menidurkanku di pundaknya.


"Aku Juga mencintaimu..." ucapku dengan nada dingin.


Hal itu membiat Darrel langsung menatap wajahku tidak percaya. Aku mulai tersenyum, apalagi saat Darrel terjebak dalam jebakanku. Tanganku sudah sampai di pahaku, dimana masih ada pisau yang tertancap di sana.


"Selamat malam..." kataku sambil menarik pisau yang ada di tubuhku, kemudian dengan cepat menamcapkan ke perut Darrel dari belakang.


Itu membiat Darrel benar-benar terkejut. Dia yang semula menopangku kini justru mengikuti ambruk ke arahku.


"Ya... Ya Dea... Setidaknya kita bersama..." ucap Darrel terbata sambil mengecup pipiku sekilas, sebelum benar-benar membenamkan wajahnya di bahuku.


Ah sial... Darrel menindihiku tepat di pisau yang masih menancap di perutku, sehingga membuat lukanya semakin dalam.


"Sepertinya waktuku sekarang..." kataku sambil mulai menutup mata.


...TOK... TOK... TOK......


Terdengar suara ketukan gerbang kayu itu. Aku yang awalnya mulai putus asa, kini mencoba berteriak sekuat tenaga.


"Apa ada orang di dalam..." teriak seseorang dari luar.


"TOLONG!!!" teriakku dengan tenaga terakhirku.


Tak lama setelah itu, aku mulai merasakan dobragan dari gerbang kayu. Dan samar-samar aku juga merasakan genggaman erat telapak tangan Darrel di jariku, sebelum benar-benar lepas karena orang-orang mulai membopongku.


.......


.......


.......


.......


.......

__ADS_1


...TAMAT...


__ADS_2