Love By Psychopath

Love By Psychopath
CHAPTER 8 •LBP• : Syukurlah Kamu Tidak Apa-apa


__ADS_3

Darrel berhenti sejenak, setelah aku mengatakannya. Tak lama kemudian dia mulai mendekatkan wajahnya padaku. Hembusan kuat napas Darrel saat wajahnya tepat berada di telingaku.


Napasku memburu, dia adalah orang gila. Aku bahkan tidak mengenalnya, apalagi berbicara dengannya dulu tapi sekarang dia benar-benar sangat menyeramkan.


"Kau melupakanku bukan?" tanya Darrel sedikit berbisik.


Dengan cepat aku langsung menoleh kearahnya. Wajahku dan Darrel saling bertemu satu sama lain. Ini sangatlah dekat, hingga Darrel bisa langsung mencium ku saat kita sedang bertatapan.


Ini ciuman pertamaku, sangatlah aneh. Pertama kali merasakan ciuman oleh seorang Psychopath gila.


Aku mulai menahan napasku. Lidah Darrel sangatlah ahli dalam berciuman. Aku melihat wajahnya yang memerah, tapi masih fokus mencium bibir ku sambil menahan kepalaku.


Tentu saja aku berusaha melepaskan ciuman Darrel, hanya saja itu masih sia-sia. Aku mulai sesak. Aku terus menjambak Darrel agar dia melepaskan bibirnya. Hingga Darrel melepaskan ciumannya, yang membuatku sedikit menarik napas lega.

__ADS_1


"Sama seperti sebelumnya," ucap Darrel sambil menatap ke arahku.


Dengan wajah nanar dan sedikit sedih Darrel mulai menatap ku dengan penuh. Beberapa saat kemudian mata Darrel mulai memerah, dan dia mulai memelukku dengan kuat.


"Dea! Dea! Kau benar-benar melupakan aku bukan? Kenapa?!" teriak Darrel kepada ku.


Aku tidak tau apa yang Darrel katakan, apakah sebelumnya kita pernah dekat sebelumnya. Aku masih bingung, dengan keadaan ku yang masih setengah naked serta badanku yang basah karena Darrel meyiramku, membuat aku sedikit pusing. Apalagi Darrel yang semakin kuat menangis sambil memelukku, membuat rasa pusing itu semakin manjadi saja.


"Darrel...." ucapku panjang, hingga keadaan gelap mulai menutupi mataku.


___________________________


Aku mulai terbangun di atas kasur yang pernah aku tempati. Aku dalam keadaan memakai jaket kebesaran, yang bisa aku pakai sampai lutut. Tapi aku mulai merasa aneh, dan aku sadari ternyata aku tidak memakai dalaman apapun, baik bagian atas maupun bawah. Tapi syukurlah aku tidak lagi di bathtub dengan Darrel, ataupun tanganku yang di borgol.

__ADS_1


Aku melihat sekeliling, sepertinya ini adalah tempat yang sama saat terdapat kamar mandi ternyata aku salah. Disini hanya ada kasur yang aku tempat serta beberapa gardus.


Dengan sempoyongan aku mulai berjalan mendekati sebuah pintu besi, dengan lubang hanya kecil diatasnya itu juga di pagar layaknya penjara. Aku mulai mencoba melihat sekeliling yang aku bisa. Yang aku lihat hanyalah lorong dengan banyak pintu yang sama.


"Apa yang kau lakukan!" teriak Darrel tiba-tiba saat aku sedang melihat sekitar.


Dengan kaget dan terkejut aku langsung terjatuh. Dengan cepat aku kembali ke kasur, dan langsung saja aku memojokan diriku. Aku mulai memeluk kiat kakiku.


Tak lama kemudian Darrel masuk dengan wajah labilnya. Aku melihatnya sekilas, dan dia mulai mengarahkan tangannya padaku. Aku ingat terakhir kali dia melakukannya kepada Ellis. Rambutnya di jambak kemudian kepalanya dibenturkan, itu sangat mengerikan. Tapi sekarang aku merasakan tangan Darrel sudah berada di kepalaku, tidak menjambak hanya menyibakkan rambut ku yang menutupi dahi.


Kemudian dengan pelan tangan Darrel mulai memundurkan rambutku, membuat kepalaku sedikit ikut kebelakang. Saat itulah aku dengan jelas melihat wajah khawatir Darrel. Dengan sedikit napas yang cepat, Darrel mulai mendekatkan dahinya kepadaku.


Sejenak kedua dahi kami saling bertemu, saat itulah wajah Darrel benar-benar dekat denganku. Dengan jelas aku bisa melihat mata, hidung, dan wajahnya. Sungguh karya yang luar biasa, hanya saja tidak dengan perilaku nya. Tak lama kemudian pandanganku beralih pada bibirnya, yang mulai tersenyum lebar.

__ADS_1


"Syukurlah kau tidak apa-apa," kata Darrel dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


__ADS_2