
"Kau... Kau pasti bercanda!" kataku masih tidak percaya dengan perkataan Darrel.
"Sungguh aku tidak berbohong, aku bahkan mengeluarkan darah dari uretra ku seletahnya" kata Darrel sambil menatap ke arahku dengan tatanan kosong.
"Setelah itu aku baru berhenti, meski sangat ingin melanjutkannya" lanjut Darrel sambil memegangi tanganku.
Entah sejak kapan Darrel kini sudah mengikat tanganku kembali. Aku hanya bisa menghela nafas, dan berharap bahwa keluargaku akan menemukanku secepatnya.
"A... Ayo" kata Darrel sambil mengajak ku keluar dari ruangan.
"Kita akan kemana? Biasakah kau melepaskannya? ini sangatlah sakit" kataku sambil menunjukkan tanganku yang terikat tali dengan kuat.
"Kita akan pergi mandi, dan untuk ikatannya maafkan aku tapi aku tidak bisa melepaskannya, nanti... Nanti kamu akan lari jika aku melepaskan ikatannya" kata Darrel terus menyeretku.
'Kabur tentu itu yang akan orang normal lakukan dodol' batinku sambil menatap ke arah Darrel dengan datar.
Untung saja Darrel ada di depanku, jadinya dia tidak bisa melihat ekspresi wajahku yang malas.
__ADS_1
'Tunggu! Apa! Mandi!' teriakku diam saat menyadari apa yang Darrel katakan.
Seketika aku diam kuat, saat Darrel terus menarik diriku. Aku mencoba agar Darrel tidak terus menarik diriku. Dengan kuat aku berusaha menarik tubuhku, agar Darrel tidak terus membawaku.
"Apa? Apa? kenapa... Kenapa kau diam?" kata Darrel setelah lama mencoba menarik diriku.
"AKU TIDAK INGIN MANDI DARREL!" teriakku kuat.
Darrel berhenti dengan menatapku penuh. Setelah itu Darrel perlahan mulai mendekati ku. Entah kenapa aku langsung lemas, dan menundukkan kepalaku.
"Kau tidak ingin mandi ha?" tanya Darrel sambil mengangkat kepalaku.
"Akhhhhh..." pekikku saat Darrel tiba-tiba menjitak dahiku. Aku hanya memegangi dahiku dengan kedua tanganku yang masih terikat.
"Ahhh... Aku malu sekarang Dea sedang berfikir mesum terhadapku, aku... Aku harus apa" kata Darrel sambil mengusap dahiku yang dia jitak barusan.
Aku hanya menatap datar Darrel. Aku masih tidak percaya dengan perkataan, dan tindakan yang Darrel lakukan. Sungguh ini adalah manusia paling absurd yang pernah aku temui.
__ADS_1
"Sebenarnya aku mau memandikan mu saat ku tertidur di pangkuan ku" kata Darrel kembali sambil mengusap kepalaku, kemudian memeluk kepalaku.
"Tapi sepertinya aku tidak bisa melakukannya, karena itu tidak akan bersih, tapi jika Dea menginginkannya aku juga tidak apa-apa jika mandi untuk kedua kalinya" lanjut Darrel sambil mengusap-usap kepala bagian belakang.
...BLUSH.......
Siapa yang tidak paham dengan perkataan Darrel. Tentu saja dia ingin mandi bersama denganku, tapi dia membalikkan seolah akulah yang menginginkannya.
Dengan cepat aku menyingkirkan kepalaku, dari pelukan Darrel. Aku sadar Darrel kini mulai berfikir liar, jadi aku harus lebih berhati-hati.
"Ppffftt, ayo" kata Darrel sambil tersenyum, kemudian menarik tali yang mengikat tanganku kembali.
Sepertinya aku memang tidak ada pilihan lain selain menurut pada Darrel. Hanya helaan nafas yang aku lakukan.
"Kita... Kita sampai" kata Darrel saat kami berdua sampai di pintu berwarna merah.
Ini adalah pintu yang berbeda dari yang lainya. Dimana pintu-pintu yang aku lewati tdi bewarna silver seperti baja, atau bahkan tidak di warnai. Tapi ini adalah pintu berwarna merah, meski tampilannya masih sama seperti... Pintu.
__ADS_1
"Ini... Dia" kata Darrel sambil membuka pintunya.
Aku hanya bisa terkejut, dengan keadaan ruangan yang benar-benar berbeda. Ruangan ini sangatlah indah, dengan ranjang berukuran sedang dan kasur yang sepertinya membal. Juga beberapa kursi meski sedikit aneh, juga pintu yang sepertinya kamar mandi.