
(ⁿote) : Masih lanjutan flashback dan Darrel prov...
_____________________________________________
_________________________________
Setelah kejadian di gudang, aku kini lebih memperhatikan Dea. Anak yang selama ini ternyata satu kelas denganku. Awalnya aku tidak pernah menganggap dirinya, tapi setelah di gudang aku pikir aku mulai tertarik dengannya.
Setelah mencari tau lebih banyak, kini aku sadar bahwa Dea adalah anak yatim-piatu yang tinggal di sebuah panti dekat dari sekolah ini.
SMA ini memanglah sekolah elit, Dea masuk ke sini dengan jalur beasiswa yang dia dapatkan. Sehingga dia masuk dalam kelas pilihan.
Dalam kelas ini terdapat dua golongan, golongan anak-anak pintar karena di sediakan fasilitas serta guru yang lebih baik. Serta golongan anak kaya, yang di masukin orang tuannya karena lelang bangku.
Setelah beberapa hari mengamati Dea, aku berfikir memang anak kelas ini membully dirinya. Tapi yang lebih membully Dea adalah Ellis Xevier, kembaran dari Jared. Memang sodara yang kompak, pikirku.
Sore hari sepulang aku tengah duduk di bangku miliku, untuk menunggu jemputan ku. Hingga suara gaduh di bawah membuatku melihatnya dari balik jendela.
Itu adalah Dea, yang tengah di rundung oleh Ellis dan teman-temannya. Dengan spontan aku langsung berdiri dari bangku miliku, kemudian berlari ke arah luar.
Sayang sekali ternyata di luar pintu Jared dan teman-temannya sudah menungguku.
__ADS_1
"Hallo kawan lama tak jumpa, apakah kamu ingin menyelamatkan pacar kecilmu di bawah?" tanya Darrel sambil mengacak rambutku.
Tak lama setelah itu, Jared kembali membawaku ke atap. Salah satu temannya melemparkan tubuhku kuat hingga menabrak pagar pembatas.
"Ahahaha! Lihatlah! Lihatlah! Dia pacar kecilmu bukan!" teriak Jared sambil terus membenturkan kepalaku ke gerbang pembatas.
Memang awalnya aku tidak melihat apa-apa, tapi setelah Jared berhenti aku mulai melihat Dea dalam keadaan basah.
"Kau harus tau, itu harga yang harus di bayar olehnya karena membantu dirimu!" gertak Jared kembali, sambil sekali lagi menghentakkan kepalaku ke pembatas.
Aku mulai merasakan darah mengalir dari dahiku. Tapi itu tidaklah lama, saat aku mulai tersadar Dea masih di bawah dalam keadaan basah.
Aku berlari dari atap ke bawah, hingga aku berhenti saat melihat Dea sudah berada di kelasku yang sudah dalam keadaan kosong.
Terlihat jelas mata lebam Dea menandakan dia baru saja menangis. Dia sedang membersihkan mejanya dari beberapa sampah, serta merapikan bukunya yang sebagian Halaman sudah berserakan.
"itu harga yang harus di bayar olehnya karena membantu dirimu!" kenangan suara Jared terlintas dalam pikiranku.
Aku mulai mendekati Dea yang sedang membelakangi diriku. Melihatnya masih sesungukan, membuatku sedikit merasa bersalah.
"Dea..." ucapku sambil menepuk pundaknya.
__ADS_1
Seketika Dea berbalik ke arahku. Dengan spontan aku mengeluarkan wajah terkejut ku. Bagaimana tidak bukan hanya tubuhnya yang basah, tapi pipinya juga terluka. Serta tangan kanannya membiru akibat lebam.
"Dea..." Kataku sambil perlahan mengusap pipinya dan memegang telapak tangannya.
Aku tidak tahan melihat keadaan Dea sekarang, jadi aku putuskan untuk tidak memiliki hubungan denganya kembali. Memang aku menyukai Dea, tapi dia lebih baik jika tidak bersamaku.
Dulu Ellis memang kejam, tapi dia akan lebih kejam jika aku bersama dengan Dea karena Jared yang memerintahkannya.
Aku berlari ke arah mejaku, mengambil tas kemudian jaketku yang aku lempar ke Dea kemudian berlari begitu saja.
Aneh sekali tak biasanya supirku tak biasanya selama ini menjemput ku. Aku hanya bisa berlari, dan bersembunyi di gang sempit berharap Dea tidak menemukanku. Aku terus menundukkan kepalaku ke bawah, sambil perlahan duduk dan memeluk kakiku. Tak lama setelah itu aku merasakan tangan dingin menyentuh kepalaku, aku kita itu adalah supirku sehingga aku mengangkat kepalaku ke atas.
"Sepertinya bukan hanya aku yang terluka, iya kan?" tanya Dea sambil tersenyum kepadaku, serta mengusap dahiku yang terdapat bekas darah disana.
"PERGILAH!" teriakku sambil mendorong Dea hingga terbentur di sisi dinding yang lain.
Dea memegangi tubuhnya sebentar kemudian tersenyum kembali padaku. Sungguh aku tidak bisa melihat senyuman itu hilang dan di gantikan tangisan. Aku terduduk lemas, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan agar Dea bisa menjauhiku.
"Pergilah Dea, pergilah aku tidak ingin kamu terluka karena berdekatan denganku" kataku dengan nada yang hampir menangis.
"Hei... Aku sudah di perlakukan seperti ini sejak aku masuk sekolah, kamu pikir mereka akan berhenti membully diriku jika kau menjauhiku? Sejujurnya aku yang ingin bersamamu, kau tau kadang memiliki nasib yang sama bisa membantu seseorang menjalani hidupnya" jelas Dea sambil mengusap kepalaku.
__ADS_1
Aku tersentuh dengan perilaku Dea. Sontak aku langsung memeluknya kuat, sangat kuat. Aku memeluk Dea hingga tidak ada yang bisa melepaskannya dari pelukanku, baik masa sekarang ataupun masa depan.