
Aku terus menggertakkan gigi, tapi aku tidak bisa berbicara langsung. Aku ingin meronta, tapi aku terlalu takut untuk melakukannya. Haruskah ini takdir yang aku jalani? Tak bisakah aku keluar dari sini.
Aku terus menunduk meski jelas aura Darrel sedang menatapku. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, seketika pikiranku kacau. Hanya air mata yang aku keluarkan setelah sekian lama diam.
"Mengapa... Mengapa harus aku Darrel... Mengapa bukan orang lain saja... Mengapa aku! Mengapa harus aku orang yang kau suka!!!" kataku menangis kemudian teriak pada akhirnya.
Aku masih dalam posisi dimana masih menundukan kepalaku. Tapi, kekacauan ini sudah tidak bisa aku kendalikan lagi.
"Kenapa... KENAPA AKU DASAR GILA!" Teriakku spontan dengan keras, sambil mulai mengangkat wajahku yang penuh dengan air mata.
Entah kenapa tiba-tiba rasa berani ini datang. Aku sudah menahannya terlalu lama, hingga sekarang keluar aku tidak perduli lagi apa yang akan terjadi padaku.
...PLAK!...
Tamparku terhadap Darrel.
"Kenapa! Kenapa! Kenapa harus aku dasar gila!" teriakku sambil terus menampar Darrel berulangkali.
Aku tidak peduli konsekuensi nantinya, aku hanya ingin meluapkan segalanya sekarang.
"Bukankah kau mau membunuhku! BUNUH SAJA AKU!!!" teriakku dengan penuh kemarahan.
Lama-kelamaan aku mulai bosan dengan tamparan. Aku mulai memegangi wajah Darrel kuat, sama seperti dia memegangi ku tadi.
"Lihatlah wajah tampan ini! Kau bisa mendapatkan banyak wanita, tapi kenapa harus aku yang kau siksa!" kataku marah, sambil menampar lagi oafa akhirnya.
__ADS_1
Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Darrel hanya diam, tanpa berekspresi ataupun mengatakan apapun. Sedangkan aku masih sibuk memberontak Darrel, tiba-tiba dia memelukku kuat ke tubuhnya.
"BAJ*NGAN! LEPASKAN AKU SEKARANG" ucapku sambil terus memberontak kuat.
Tidak seperti biasanya Darrel hanya memelukku, kemudian mencium tengkukku. Dia melakukannya meski aku sedang memberontak sebisaku.
Aku mulai kehilangan akal sekarang, Darrel tidak bergeming ataupun merasa kesakitan. Aku mulai kehilangan akal, hingga aku menggigit leher Darrel kuat.
Tidak di sangka, darah mengalir dari sana. Aku menambah gigitanku, tanda lukanya semakin dalam dan darah pun semakin banyak yang keluar.
Tapi tetao saja Darrel hanya memelukku, menahan kepalaku, dan menciumi tengkukku. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan, aku kehilangan akal hingga aku berhenti marah dan mulai menangis deras.
Aku mulai menangis kuat, tidak dirasa aku mulai memeluk Darrel sama seperti dia memelukku sekarang. Aku memeluknya kuat, entah kenapa aku melakukannya.
"Kenapa... Kenapa... Kenapa harus aku dan bukan orang lain saja" kataku putus asa sambil menangis memeluk Darrel.
Aku tidak tau apa yang terjadi padaku, meskipun aku marah pada ujungnya aku akan menangis juga. Aku harap aku bisa menjadi kuat sedikit saja, Tanpa harus ada air mata yang aku keluarkan.
"Karena kau istimewa Dea... Kau itu istimewa, kau harus paham dan harus mengerti apa yang kau miliki" ucap Darrel lembut, sambil mencium leherku dan mengusap rambutku.
Kenapa kenapa sikap hangat Darrel kembali lagi. Cukupkan sampai di sini, aku masih berharap aku dapat keluar dari sini.
"Aku tidak menyangka kau benar-benar melupakan segalanya... Saat kau terus memeluk diriku seperti ini saat aku dulu memukulmu berulangkali" kata Darrel dengan nada lembutnya.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1