Love By Psychopath

Love By Psychopath
CHAPTER 44 •LBP• : TERIKAT


__ADS_3

Samar-samar aku mulai terbangun dari pingsan. Aku merasakan tubuhku yang sudah tidak bisa aku gerakan. Rasanya sama saat aku pertama kali kesini, tapi dengan poisis yang berbeda.


Aku di dudukan di sebuah kursi, dengan tubuhku yang naked. Aku terikat kuat di bagian kaki, badan, serta tangan yang terikat ke belakang. Ini bukankah tali, melainkan seperti sabuk panjang berwarna hitam. Mulutku juga tertutup lakban, membuatku tidak bisa bersuara meski sudah berusaha berteriak.


Aku terus menggerakkan kursi yang terbuat dari kayu ini. Mencoba melepaskan dengan sekuat tenaga. Pokoknya aku tidak boleh menyerah, atau kakiku bisa menjadi taruhannya.


...BRUK!...


Suara kursi yang terjatuh di lantai. Seketika tubuhku meremang. Aku mulai memulihkan tenagaku kembali, apalagi saat melihat bayangan orang orang di luar pintu.


Aku awalnya tidak percaya, tapi sekitar ada dua orang disana. Saat aku terjatuh tadi, aku melihat bayang-bayang yang terpantul di lantai. Dari penilaian ku benar maka ada kemungkinan aku biasa keluar.


Aku terus berusaha menggerakkan maju kursi yang terjatuh ini, bersamaan dengan tubuhku yang terikat. Tapi... Sepertinya semuanya sia-sia saat melihat salah satu bayangan mulai pergi dan tidak kelihatan.


'Tidak! Jangan pergi! Ada orang disini' teriakku batin sambil mencoba terus melepaskan diri.


Tak lama setelah itu, aku mulai melihat bayangan satu mulai mendekati ke arah pintu. Mataku membulat, jika dia masuk itu kemungkinan adalah si psikopat.


"Ah?! Kau sudah sadar" ucap seseorang dengan nada bass-nya.


Aku tau sesuatu tidak akan berjalan dengan baik, apalagi saat aku mulai berlari dan Darrel mulai menangkap ku kembali.


"Apa yang kau lakukan, hingga terjatuh seperti ini... Sayang" ucap Darrel sambil mendudukkan kembali kursi seperti semula.


Darrel sengaja duduk di depanku, dengan tatapan dingin dan senyuman smriknya.

__ADS_1


"Sangat di sayangkan jika bibir ranum ini di tutup lakban" ucap Darrel kemudian membuka lakban yang ada di mulutku.


"lihatlah... Bibir pink ini menjadi layu karena terlalu lama di lakban, maafkan aku sayang" ucap Darrel sambil sedikit memajukan wajahnya ke wajahku.


Aku tau apa yang akan Darrel lakukan. Mungkin dia akan menciumku ataupun sebagainya. Saat itu aku langsung memalingkan wajahku untuk menghindari Darrel, saat akan menciumku.


"Ck!" decak Darrel saat melihatku memalingkan wajah.


Seketika aku menghela nafas lega, Apalgi saat Darrel mulai berdiri dan berjalan ke belakang ku. Tapi jantungku mulai berdegup kencang kembali, saat aku mendengar suara perkakas di dalam ruangan ini.


Tak lama aku merasakan tangan Darrel berada di pundakku. Setelah itu dari arah belakang, mengusap leher bagian depan. Aku juga mulai merasakan deru nafas Darrel di telingaku, tanda wajahnya sangat dekat dengan kepalaku.


"Sayangnya aku berencana untuk memotong kakimu, bukan lehermu. Bayangkanlah jika aku memotong lehermu sekarang, apakah kamu masih bisa memalingkan wajahmu sekarang?" ucap Darrel, sambil tiba-tiba menodongkan sebuah gergaji di leherku.


Tapi itu tidak berselang lama, hanya beberapa saat. Saat itu Darrel langsung duduk di depanku, salah maksudku Darrel duduk tepat didepan kakiku.


"Baiklah mari kita mulai" ucap Darrel sambil memegangi kaki kiri ku.


"Jangan bodoh! Apa-apaan!" teriakku mencoba menggerakkan kaki yang di pegang Darrel.


"Kau! Kau! Kau curang! Kau mengunci gerbangnya!" teriakku kuat sambil meronta.


Tidak terasa air mata mulai mengalir dari mataku. Aku tidak terima, jika kakiku harus di potong.


"Kumohon... Biarkan aku pergi..." ucapku sambil terus merintih.

__ADS_1


"Ish ish ish..." kata Darrel sambil menggeleng, dan menggerakkan gergaji yang di tangan kanannya.


"Satu pertanyaan... Mana yang lebih baik, atas mata kaki atau bawah lutut" ucap Darrel sambil menempatkan gergaji di kakiku.


"NO! DASAR ANAK ANJING! LEPASIN BEGO!" teriakku panik dan frustasi.


"No! Darrel! No!" teriakku tambah kencang saat Darrel lebih menekan gergajinya, di kaki kuri ku.


"DASAR ANAK DAKJAL!" teriakku spontan saat Darrel mulai menggerakkan gergajinya.


Itu bisa menahannya sebentar. Saat Darrel langsung menatap ku Dengan ekspresi terkejutnya. Tak lama setelah itu senyuman lebar mulai terukir di bibir Darrel, dan dia mulai tertawa kencang.


"AHA... AHA... AHAHAHA, Dea Dea Dea Dea Dea..." tawa Darrel kuat, sambil mengucapkan namaku berulangkali dan menggeleng antusias.


"Darimana kau tau teriakkan kedua orang tuaku di saat aku melakukan pada mereka juga, mungkin kamu memang di takdir kan untuk mati dengan cara yang sama"


.


.


.


[Auth: Bhaks Mina... menurut kalian cocok gak sih kalo ni novel sad ending. Dimana MC wanita di bunuh Ama MC pria, tapi aku masih ragu kasian bed si Dea😭. Komen plis... sad or happy ending nih]


__ADS_1


__ADS_2