Love By Psychopath

Love By Psychopath
CHAPTER 27 •LBP• : MEMELUK DARREL


__ADS_3

Mataku mulai terbangun perlahan. Kepala ku sedikit pusing, mengingat aku tidak bisa melihat apapun tadi. Tapi sekarang tidak lagi, aku mulai melihat sekitar dengan dada bidang Darrel tepat di depanku.


Saat melihat wajah Darrel, entah kenapa dengan cepat aku langsung memeluknya kuat. Membenamkan wajahku di dada bidang milik Darrel. Aku terisak kuat, tapi aku juga bersyukur karena aku sudah tidak sendirian lagi.


Dengan cepat aku menangis, dan tambah memeluk kuat tubuh Darrel yang di depanku. Saat aku menangis, aku merasakan sebuah usapan do belakang kepalaku. Entah kenapa usapan itu sangat pelan, membuatku tambah merasa rileks dan nyaman.


"Maafkan aku by..." kata Darrel sambil mengusap kepala belakangku, dan mencium puncaknya.


"Kenapa kamu tidak bilang, bahwa kamu takut kegelapan?" lanjut Darrel sambil menjauhkan kepalaku dari dada bidangnya.


Tentu saja setelah itu Darrel langsung melihat mata sembabku. Dia mulai mengangkat salah satu alisnya, kemudian memegang tengkukku perlahan-lahan. Tak lama setelah itu, Darrel mulai menciumku. Ciuman itu sangatlah lembut dan dalam, sesekali Darrel memasukan lidahnya ke dalam mulutku hingga aku merasakan sensasi yang berbeda.


Aku yang sebelumnya hanya diam, kini mulai berani membalas lidah Darrel yang terus bergerak di dalam mulutku. Aku kini membalasnya dengan mengikuti irama lidah Darrel. Aku juga memeluk kepala Darrel, agar lebih dekat denganku.

__ADS_1


Cukup lama kami berciuman, hingga aku merasakan sesak karena menahan nafas. Tapi sepertinya Darrel masih belum puas, saat kami melepaskan ciumannya Darrel kembali menciumku dengan gerakan yang sama. Hingga beberapa kali berulang, barulah Darrel benar-benar melepaskan ciumannya.


"Maafkan aku, aku tidak tau. Andaikan aku tau aku akan melihat lampunya terlebih dahulu" kata Darrel mengusap pipiku.


"Ini siang atau malam? Mengapa tidak ada cahaya matahari yang masuk?! Seberapa lama lilin ini akan terus menyala Darrel! itu pasti akan padam juga" kataku dengan sedikit meninggi karena ketakutan.


"Kita sedang di bunker rumahku by, tidak akan ada cahaya dan tidak akan pernah" kata Darrel dengan nada yang dingin.


Darrel hanya diam, tak lama kemudian mencoba melepaskan pelukanku. Entah kenapa tapi aku terus memeluk Darrel kuat, sungguh meski sudah banyak lilin di sini aku tidak ingin sendirian.


"Lepaskan Dea, aku hanya akan pergi sebentar untuk memperbaiki listriknya" kata Darrel terus mencoba melepaskan pelukanku.


Aku hanya menggelengkan kepalaku, yang masih kuat menempel di dada bidangnya. Tak lama setelah itu aku menangis, entah kenapa tapi ketakutan ini tidak membiarkan Darrel untuk pergi.

__ADS_1


"Jangan tinggalkan aku Darrel, kumohon jangan tinggalkan aku. Rasa takut ini benar-benar bisa membunuhku" kataku dengan sesungukan.


Darrel memang tidak melepaskan pelukanku, tapi dia kembali mengangkat wajahku agar menatap ke arahnya. Aku melihat wajah bingungnya, akibat rasa keras kepalaku.


"Baiklah" ucap Darrel dengan nada yang sedikit mendengus.


"Tapi sebelumnya aku harus menutup matamu dahulu" ujar Darrel kembali sambil mengambil kain di dalam nakas.


"Da... Darrel apa yang akan kau lakukan!" ujarku terkejut saat Darrel akan menutup mataku dengan kain itu.


"Tenanglah aku tau kau memang takut akan kegelapan, tapi jika kau tidak ingin sendirian maka kau harus menutup matamu... Dea" kata Darrel.


Aku hanya bisa pasrah, aku mengikuti perkataan Darrel. Ini sangatlah gelap, tapi saat aku merasakan tangan Darrel rasa takut ini sedikit berkurang. Tak lama setelah itu, aku merasakan tangan Darrel ada di punggung dan lututku. Ternyata Darrel tengah menggendongku. Aku memang tidak melihat apa-apa, tapi saat memelukku Darrel kuat dan mendengarkan detak jantungnya aku mulai baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2