
Aku hanya diam, benar-benar diam sambil merasakan sensasi yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Aku terus menutup mulutku kuat.
"Da-rel.... Ku-mohon...." ucapku terbata sembari menampilkan wajah yang meminta.
Entahlah, aku juga tidak tau rasa apa ini. Jari Darrel seolah-olah benar masuk ke sana. jarinya memutar, dan semakin lama semakin dalam. Aku mencoba terus menahan, tapi aku bahkan tak bisa mengendalikan tubuhku sepenuhnya.
Seketika Darrel menghentikan aksinya, ini membuatku sedikit bernapas lega. Tapi ini tidak bertahan lama, saat aku rasakan benda kenyal, dan berair mulai menggantikan posisi jari.
Saat aku mulai melihatnya ternyata kepala Darrel sudah berada di bawah sana. Sekarang aku paham apa benda yang kini aku rasakan.
Sedikit berair sehingga membuat tidak terlalu perih seperti tadi. Tapi rasanya lebih liar. Lidah Darrel benar-benar mencoba untuk masuk. Lidahnya mulai bergerilya liar di dalam sana. sesekali Darrel lidah Darrel berhenti untuk mengambil napas dan sesaat melanjutkan aksinya.
Aku hanya bisa mendorong kepala Darrel, yang sepertinya tindakanku ini tidak ada gunanya. Aku kini mulai mengeluarkan air mata. Aku tidak tau apa yang aku rasakan. Ini sesuatu yang tidak benar, tapi kenapa rasanya berbeda.
Tak lama kemudian aku benar-benar merasakan kedutan, pada milikku bertambah kuat. Rasanya akan ada sesuatu yang keluar dariku. Aku seperti akan pipis, hanya saja kini sensasinya berbeda.
__ADS_1
"Darrel! Pergilah! Aku rasa akan keluar! Biarkan aku pergi ke kamar mandi!!" teriakku mencoba untuk mendorong kepala Darrel dan memberontak.
"Cukup diam Dea, atau aku akan membuatmu tak bisa bergerak."
Hanya itu yang Darrel ucapkan, sesaat langsung melanjutkan aksinya. Bukannya berhenti, dia menambahkan kecepatannya, dan mulai memasukan lidahnya semakin dalam. Sesekali Darrel mulai menggigit dan menghisap nya, itu yang membuatku semakin merasakan kedutan.
"Darrel!!" teriakan ku mencoba untuk pergi.
Akan tetapi semuanya terlambat, apa yang aku tahan kini mengalir begitu saja. Sangat memalukan, apalagi saat dia mulai membersihkannya. Sesaat kemudian Darrel mulai mengangkat kepalanya, terlihat wajah Darrel yang penuh dengan cairan terutama bagian mulutnya. Sesekali Darrel menggerakkan jari dan lidahnya, untuk membersihkan cairan tersebut.
Aku mengusap tanganku pelan, tapi itu tidaklah lama saat aku mulai meneteskan air mata. Aku menutup wajahku dengan kedua tanganku, aku mulai menangis kencang saat sadar apa gak yang aku lakukan barusan.
"Tak apa hal seperti itu memang wajar terjadi, aku pikir kamu tau bagaimana cara menikmatinya. Aku senang, ekspresi mu itu sangat natural," kata Darrel yang berbisik di telingaku.
Aku membulatkan mata lantas menampar pipinya keras. Darrel hanya memberikan tatapan dinginnya kepadaku. Tak lama kemudian dia mulai tersenyum dengan lembut.
__ADS_1
Untuk kebanyakan orang senyum adalah tanda akan terjadi hal baik. Tapi tidak untuk Darrel, jika dia tersenyum berarti dia akan melakukan sesuatu.
"Dea... Kau mulai berani ya sekarang?" Tanya Darrel sambil tersenyum dan menarik kedua tanganku.
Dengan cepat Darrel mulai kembali memborgol kedua tanganku. Setelah itu aku dibopong Darrel pergi dari ruangan itu.
Sesekali aku memberontak, bahkan memukul pundak Darrel. Tapi sepertinya sia-sia saja saat Darrel tidak bereaksi apa-apa.
"Kau sudah banyak bersenang-senang, jadi kamu harus mandi sekarang," kata Darrel, sambil membawaku masuk ke dalam ruangan dimana terdapat bathup di dalamnya.
Dengan cepat Darrel menaruh diriku pada bathup dan menyiramku dengan air. Darrel terus menyiramku, hingga semua pakaianku basah. Sekilas dengan jelas terlihat dalaman yang aku pakai.
Aku berusaha menutupinya, tapi Darrel lagi-lagi menahan tanganku di atas. Dengan satu tanganya Darrel membuka bajuku hingga lengan.
"Darrel... Kumohon jangan lakukan, kita memang bukan teman dekat tapi setidaknya kita pernah satu kelas bukan?" rintihku saat Darrel mulai membuka dalaman yang aku pakai.
__ADS_1