
Untuk sesaat aku merasakan kehangatan Darrel, tapi untuk selanjutnya aku merasakan perilaku Darrel yang sepertinya biasnya. Aku mulai menyenderkan tubuhku di tepi bathub, untuk sedikit merilekskan diri.
Beberapa saat kemudian aku mulai bergegas untuk mandi. Sesaat selesai mandi aku baru sadar, jika aku tidak membawa pakaian kedalam kamar mandi.
"Sial aku lupa membawa pakaian ke dalam" umatku sambil mengambil handuk kecil kemudian melilitkannya ke tubuhku.
"Untunglah tadi Darrel bilang harus menunggunya di ranjang, jadi aku bisa mengganti pakaianku sejenak" lanjutku sambil bergumam, dah bersiap untuk keluar.
Saat aku keluar, betapa terkejutnya aku dengan Darrel yang sudah bersender di ranjang dengan keadaan masih bugil. Bagian pinggang dan kaki Darrel memang tertutup selimut, tapi bagian tubuhnya terpampang dengan sangat jelas.
"Apa yang kau lakukan! Kau bilang akan pergi sebentar!" kataku terkejut.
"Aku memang sudah pergi... Hanya sebentar" kata Darrel dengan santainya.
"Kemarilah aku akan menceritakannya, sungguh tapi kamu harus kemari dan bersamaku" lanjut Darrel sambil menepuk-nepuk sisi ranjang di sebelahnya.
Aku hanya menghela nafasku, mana mungkin aku menolaknya setelah usahaku tadi. Saat aku menghampiri Darrel, dengan cepat dia langsung menyibakkan selimutnya.
__ADS_1
Aku malu sehingga memalingkan wajah segera. Hingga aku sadar Darrel tidak sepenuhnya naked, hanya saja dia memakai handuk kecil di pinggangnya.
Aku mulai menurut dan duduk sambil bersender di sebelah Darrel. siapa sangka dia langsung memelukku dari belakang, membuat diriku langsung dekat dengan dada Darrel.
Pipi merah ku tidak bisa aku sembunyikan lagi, apalgi setalah Darrel mencium puncak kepalaku.
"Jadi aku harus mulai dari mana" kaya Darrel sambil memelukku dengan salah satu tangannya.
...FLASHBACK AND DARREL PROV......
Darrel Kaveleri, itu adalah namaku. Anak tunggal dari keluarga Kaveleri, bukan berarti aku mendapatkan banyak kasih sayang. Justru karena aku laki-laki jadi orang tuaku sudah mendapat penerus perusahaan, membuat mereka makin fokus terhadap pekerjaan mereka.
"Maaf kan mama sayang, mama ada acara di luar kota sekarang, coba tanya papamu saja" kata mama langsung pergi keluar begitu saja.
Aku sedikit mendengus kesal kemudian mencari papa, yang ternyata sudah memegang teleponnya dari tadi.
"Halo! Kenapa kau tidak bisa lalukan hal semudah ini saja!" teriak papa sambil berjalan keluar.
__ADS_1
"Pa sekarang aku-"
"Anto! Urus dia!" kata papa cepat kepada asisten nya.
Ya seperti hari-hari biasanya. Aku adalah anaknya yang rajin dan menurut (Dulunya). Aku miliki ketakutan, jika aku gagal orang tuaku pasti akan menekan diriku lebih dari saat ini.
Sampailah kita di salah satu sekolah elite di Jakarta. Aku bersiap masuk, sedangkan Anto mulai mengurus administrasi nya. Aku duduk di kursi paling belakang, dekat jendela.
Awalnya semuanya berjalan baik-baik saja, tapi setelah putra keluarga Xavier mendatangiku. Aku memang jarang di publish di publik, jika aku adalah Keluarga Kaveleri sehingga tidak banyak yang mengenalku.
"Heh! Putra Keluarga Kaveleri?!" ejek Jared Xavier tepat duduk di depanku.
"Sejak kapan keluarga Kaveleri punya anak se-dungu ini" kata Jared kembali sambil mengacak kepalaku kemudian tertawa keras.
Aku hanya menatap Jared diam, meskipun aku tau sekarang semua mata tertuju padaku.
"Hei! Kau dungu atau bisu! Tidak di ajari bicara oleh ibumu!" kata salah satu teman Jared.
__ADS_1
Aku mulai merasakan aura membully dari mereka. Tapi aku hanya diam benar aku anak keluarga Kaveleri, tapi aku seperti bukan anak mereka.