
Aku menatap Darrel dengan penuh nanar, sedangkan Darrel hanya tersenyum bahagia di depanku. Tak lama setelah itu Darrel mulai mengusap kepalaku, dan bersiap untuk membopongku.
"Darrel apa yang kau lakukan!" teriakku karena Darrel mulai mengangkat ku.
"Ayo kita pulang masuk, aku tidak ingin kamu kedinginan di luar" kata Darrel sambil menyeimbangkan tubuhku, kemudian meniup wajahku.
'Alkohol' kataku batin karena tercium.
"Apa- Apa yang kau pikirkan" kata Darrel sambil mendekati wajahnya ke wajahku.
'Gila! Dasar orang gila!' kataku batin sambil berusaha menjauhkan diri dari Darrel.
"Pergi... Pergilah, biarkan aku pergi. Aku tidak ingin bersama orang yang psikopat seperti mu!" teriakku sambil mencoba menjauhkan wajah Darrel dengan tanganku.
__ADS_1
Aku terus berusaha, tapi semuanya gagal. Tidak ada jawaban dari Darrel, jika di lihat lagi wajahnya semakin menyeramkan saja. Tak lama setelahnya itu, seringai mulai muncul di bibirnya Darrel.
"Apakah... Apakah kamu mencoba melawan? Oh... manisnya" kata Darrel sambil tersenyum lebar, kemudian justru memeluk ku tambah kuat.
Uh... seketika memar di tubuhku meremang. Aku mulai menangis dan menetaskan air mata. Entah apa yang harus aku lakukan, pelukan Darrel benar-benar kuat bahkan membuatku kehilangan tenaga.
Seketika perlawanan terhenti, saat itu juga kepalaku langsung aku senderkan ke pundak milik Darrel. Kepalaku pusing, tenggorokan ku sakit, perutku lapar, belum lagi luka dan memar yang membuatku sudah tidak ada tenaga untuk menahannya.
Hanya hembusan nafas cepat, tanda aku tengah berusaha menahan segala rasa sakitnya.
"To... Uhuk... Uhuk..." bahkan aku tidak bisa merintih minta tolong karena terlalu kering di dalam.
Darrel kemudian membawaku masuk kembali lagi ke dalam ruangan. Membawaku ke kasur, kemudian menyenderkan tubuhku ke tembok. Sesaat setelah itu Darrel mulai berdiri, dan mengunci pintu kembali.
__ADS_1
'Sudah apakah sekarang sudah berakhir?' tanyaku batin saat sudah tidak ada kesempatan untuk pergi lagi.
"Lihat kau sangat kusut, tubuhmu panas, dan juga penuh luka. Apa yang kau lakukan selama aku tidak ada?" ucap Darrel kemudian mulai mengeluarkan sesuatu dari kantong plastik yang dia bawa.
"Minumlah, aku hanya pergi sebentar untuk membelinya" lanjut Darrel sambil memberikan sebotol air mineral kepadaku.
Karena sudah sangat kehausan, tanpa pikir panjang aku mulai mengambil dan meminumnya. Rasanya lidahku mulai bekerja kembali, dan tenggorokan ku mulai tidak sakit lagi.
Selama aku minum, Darrel juga mulai membuka sesuatu Darrel kantong plastik itu. Dia mengambil sepertinya tisu basah, kemudian mengelapnya ke bagian luka di kakiku.
Dia mengelapnya dengan perlahan-lahan, meski sakit itu hanya perih aku masih bisa menahannya. Perlahan darah yang ada di kaki kananku mulai hilang, kemudian di ganti dengan perban yang baru oleh Darrel.
Selanjutnya berlanjut ke tubuhku, dimana terdapat memar di situ. Darrel sepertinya mengelap tubuhku yang naked, dengan tisu basah. Hampir semuanya hingga terlihat aku seperti sudah mandi. Kemudian mengoleskannya dengan beberapa salep, dan mulai membalutnya dengan perban kembali.
__ADS_1
"Sudah... Maafkan aku telah membiarkanmu dalam keadaan seperti ini. Harusnya aku merawatmu bukan meninggalkan mu disini" ucap Darrel sambil mengusap tubuhku yang telah dia perban.
"Apakah aku juga sudah membuatmu marah? Aku hanya ketakutan, kau memperlakukan Ellis seperti itu, aku takut jika kau juga melakukan hal yang sama kepada ku" ucapku pelan sambil meneteskan air mata.