Love By Psychopath

Love By Psychopath
CHAPTER 9 •LBP• : MAKANAN....


__ADS_3

Jantungku benar-benar berdegup kencang. Aku harap Darrel segera menjauhkan wajahnya. Sepertinya Darrel paham dengan apa yang aku inginkan, hingga dia hanya berdiri menjauh dariku kemudian pergi.


Aku merasa sedikit tenang, setidaknya aku aman untuk sekarang. Tapi tak selang beberapa lama, langkah kaki mulai terdengar kembali. Bisa di pastikan itu adalah Darrel, karena tidak mungkin ada orang lain disini. Benar saja itu adalah Darrel, dia mulai membuka pintu dengan membawa nampan di tangannya.


Terlihat sepertinya lezat, saat nampan itu di taruh di depanku


"Makanlah," ucap Darrel sambil sedikit menyuapiku.


Jujur aku merasa sedikit ragu, tapi aku juga lapar. Aku tidak tau jam berapa sekarang. Hanya saja aku mulai was-was jika Darrel tidak memberikan sesuatu pada makannya.


"SUDAH AKU BILANG MAKAN DEA!" teriak Darrel sambil menyuapiku dengan kasar.


Entah rasa apa ini, ini adalah seafood makanan kesukaan ku. Aku tidak bisa menolak saat makanan itu sampai di mulutku, tapi aku sedikit takut. Apakah kalian tau diantara kelaparan dan ketakutan, maka rasa laparlah yang akan menang.


Aku tidak tau ini hanya kebetulan atau memang sudah di rencanakan. Aku suka seafood khususnya udang dan cumi, dan sekarang yang aku makan adalah makanan kesukaan ku.

__ADS_1


Dengan lahap aku makan dari sumpit berwarna merah yang Darrel berikan. Sesekali aku melihat Darrel hanya senyum tipis. Itu adalah senyuman mengerikan, tapi aku sekarang tidak mempedulikannya.


"Sepertinya kau sudah cukup bertenaga sekarang," ucap Darrel membuatku langsung menatap kearahnya.


Bunyi suara nampan yang Darrel banting ke lantai. Aku hanya masih terdiam kaget, dengan sebagian makanan belum aku telan. Tanganku langsung bergetar melihat senyuman Darrel berubah menjadi tambah lebar.


Cekikan Darrel tiba-tiba pada leher belakangku, membuatku langsung tengkurap di kasur.


"UHUK... DAR... LEPAS!" teriakku terbata sambil terdesak, karena sebagian makanan belum aku telan.


'SIAL! AKU TIDAK PAKAI ****** *****!' batinku berucap saat sadar aku memang hanya memakai jaket kebebasan, tanpa menggunakan ****** *****.


Darrel mengusapnya perlahan, hingga dia berhenti di sebuah lubang milikku. Aku merasa sedikit geli saat Darrel mulai memasuki jarinya lagi. Tapi anehnya seperti itu bukan tempat yang sama, saat Darrel melakukan untuk pertama kalinya.


"Kau... Kau tidak pernah melakukannya bukan? Aku akan mengajarimu dengan perlahan" kata Darrel.

__ADS_1


Aku bukankah anak kecil yang tidak paham dengan perkataan Darrel. Dengan cepat aku langsung berusaha memberontak, tidak ingin keperawanan ku di ambil oleh seorang yang gila seperti Darrel.


"NO DARREL!" teriakku saat Darrel sudah memulai aksinya.


Hanya saja aku sedikit bingung Darrel hanya mencekal leherku, tapi kenapa yang lemas adalah seluruh tubuhku.


"Hah..." entah kenapa aku mengeluarkan suara seperti itu.


Aku mulai merasakan hal yang aneh terhadap tubuhku. Badanku lemas, bahkan terangsang hanya dengan sentuhan-sentuhan kecil. Aku rasa suhu bandanku juga mulai memanas, membuatku sedikit lemas.


"A... Aku rasa obatnya sudah bekerja" kata Darrel terbata.


'Ah ****! Harusnya aku paham tidak boleh percaya pada makanannya!' kataku batin saat sadar apa yang Darrel katakan.


Entahlah perlahan-lahan tubuhku semakin lemas saja. Itu tidaklah dibandingi dengan sentuhan-sentuhan Darrel yang mulai intensif. Seketika aku merasa benda keras mulai berada di bagian intimku.

__ADS_1


"Aku... Aku tak menyangka kau selama ini menjaganya untuk, aku... Aku merasa terharu," ucap Darrel sambil semakin memasukkan benda keras itu ke intimku.


__ADS_2