
"Katakan apa yang kau inginkan" ucap Ellis cepat saat mendengar perkataanku.
Aku hanya dia sebentar dengan terus mengelap tubuh Ellis. Sesekali aku menghela nafas saat aku harus mencari kata-kata yang tepat.
"Seperti apa hubungan ku dengan Darrel dulu" ucapku pelan saat sudah selesai mengelap tubuh Ellis.
"Kenapa bertanya seperti itu? Memang dulu kau dengan Darrel memiliki hubungan, hubungan yang sangat erat sampai aku juga iri sejujurnya" jelas Ellis sambil menatap lekat diriku.
Ternyata apa yang di katakan Darrel dulu benar. Aku hanya diam, masih tidak percaya apa yang di ceritakan Darrel dulu itu benar.
"Dea... Apakah kamu baik-baik saja?" ucap Ellis tiba-tiba.
"Ya... Memangnya kenapa?" tanyaku.
"Aku lihat tubuhmu sepertinya penuh dengan perban" jelas Ellis ternyata melihat tubuhku yabg sebagian terbuka.
Memang terlihat jelas banyak balutan perban disana. Aku hanya melihatnya sekilas kemudian menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Kita sama-sama di siksa tapi dengan cara yang berbeda" ucap ku kepada Ellis.
"Setidaknya kau tidak di hamili bukan?"
"Tapi apakah kmu kuat menahan saat tubuhmu di cambuk, kemudian kakimu di siram air keras dan di sayat!" ucapku dengan nada yang sedikit tinggi.
Sampai sekarang Ellis masih menganggap posisiku lebih baik darinya. Dia menganggap aku di perlakukan berbeda, padahal kita di perlakukan sama hanya dengan cara yang berbeda.
"Tapi Darrel mencintaimu... Bahkan dia menghamili ku agar membalas dendam untukmu" kata Ellis masih tidak percaya.
"Dia hanya mencintai tubuhku, saat aku tidak ingin berhubungan dengannya maka ini yang aku dapatkan" jelasku.
Diam... Itulah yang kami rasakan. Hanya diam, memang dari dulu aku dan Ellis tidak pernah akrab, dan sekarang mau tidak mau aku harus bekerjasama dengannya.
"Ini adalah rumah Darrel, jalan melati nomer 72 Jakarta Selatan" ucap Ellis tiba-tiba saat keheningan memangkas antara kamu berdua.
Aku terkejut saat Ellis mengucapkan itu dengan tiba-tiba. Aku tidak tau ini berguna atau tidak, tapi ini juga merupakan informasi yang tidak boleh aku lupakan.
__ADS_1
Tapi ini di Jakarta Selatan, harusnya tidak jauh dengan kampusku.
"Kampusku juga di Jakarta Selatan, meski kampus utamanya ada di Jakarta pusat apakah ini memang kesengajaan?" tanyaku pada Ellis masih tidak percaya.
"Tidak... Ini memang rumah Darrel dari dulu, bahkan dulu kamu kecelakaan di sini. Mungkin sebuah kebetulan kamu kuliah di dekat sini makanya Darrel menculikmu" jelas Ellis.
"Tapi bagaimana kamu tau? apakah kmu melihat jalan menuju ke sini?" tanyaku lebih ingin mengorek informasi lebih dalam.
Ellis diam sejenak, tidak mengatakan apapun. Dia hanya menghela nafas perlahan kemudian mulai menatapku kembali.
"Tidak... Aku tidak sepolos itu, Darrel yang memintaku kemari karena akan membayar ku. Dan dengan secepatnya aku datang ke sini" jelas Ellis.
BOOM...
Otakku masih tidak bisa menerima apa yang Ellis katakan. Membayarnya apakah dia menjual diri? Aku hanya diam sambil terus menatap Ellis tidak percaya. Aku tau Ellis adalah anak bad girl, tapi tidak separah ini.
"Apa? Kau masih tidak percaya? Aku memang datang dengan sendirinya layaknya seorang ja*ang" ucap Ellis lebih merincikan lagi apa yang akan dia lakukan.
__ADS_1
Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. Entah apa yang terjadi dengan keluarga Xaviera hingga anak perempuan melakukan pekerjaan kotor seperti ini.