
Deg....
Deg....
Deg....
Jantungku benar-benar berdetak dengan kencang. Sangat kencang hingga aku sesak, dan merasakan detakann ya perlahan-lahan.
Entah apa yang aku pikirkan, Sungguh? Hidup bersama seorang psikopat yang membunuh kedua orang tuanya. Tidak ada jaminan dia tidak akan membunuhku nanti.
Aku terus memberontak, apalagi setelag mendengar perkataan Darrel. Tapi kenapa! Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhku untuk saat ini, apalagi jika aku harus keluar dari sini.
"Kenapa kau tidak bisa diam..." ucap Darrel dengan nada datarnya.
Itu semakin membuatku takut saja, aku tidak ingin bersama Darrel lagi, aku ingin keluar dari sini.
"Keluarkan aku bodoh! Aku tidak ingin disini!" teriakku terus bertambah kencang, sambil menangis dan memberontak sebisaku.
Tapi haruskah aku diam, aku sudah tidaklah tahan. Aku tidak tau mana yang lebih baik, antara hidup bersama seorang psikopat yang bisa membuatku terbunuh dengan kelakuan nya. Atau harus terus berusaha, dengan pada akhirnya akan di bunuh juga. Tidak ada yang benar-benar baik bagiku.
"Kau ingin keluar bukan? Mari kita keluar!" ucap Darrel dengan nada yang meninggi di akhir.
Tak lama setelah itu, Darrel mulai mengangkat ku pergi. Aku tau ini tidaklah akan berakhir baik, dimana aku terus memberontak tapi tetap saja tidak ada hasilnya.
"Kau mau membawaku kemana! Kumohon lepaskan aku! Aku ingin pulang sekarang! Pulangkan aku sekarang!" teriakku terus menerus sambil memukul-mukul Darrel yang tengah membopongku di pundaknya.
Aku rasa benar-benar sudah berakhir sekarang, aku tidak mempunyai harapan. Jika seseorang Darrel di biarkan, hidup... Hanya ada kesakitan tidak ada yang namanya rasa romantis atau belas kasihan.
__ADS_1
Darrel terus membawaku ke atas, meskipun aku hanya memakai satu handuk yang melilit tubuhku. Darrel hanya diam dan terus membawaku menaiki tangga.
Tak lama, Darrel membawaku ke dalam sebuah kamar. Tentu saja Kamar di rumah Darrel, atau... kamar di atas bassmant rumah Darrel.
Kamar ini serasa tidak asing sebelumnya, ada sebuah rak penuh buku, meja belajar yang sangat bersih dan rapi, Serta satu set kursi di balkon kamar.
Terlihat jelas ini bukanlah kamar untuk usia Darrel, ini justru lebih terlihat seperti kamar seorang pelajar.
"Apa kau mengingatnya" ucap Darrel tiba-tiba membuyarkan lamunanku.
Seketika aku menoleh ke arahnya dengan wajah yang terkejut serta takut. Tanganku bergetar, keringatku keluar, aku tidak tau apa yang harus aku lakukan selain benar-benar harus memohon keluar.
"Apakah kau mengingatnya? Dimana kita pernah berciuman disini, kau terus lari ke bawah, dan tertabrak... Apakah kau bisa mengingatnya?" tanya Darrel beruntun sambil mengusap dan mengelus rambutku.
Aku hanya menunduk takut, sambil terus menahan nafasku. Bagaimana tidak aku benar-benar sudah Sangat dekat dengan Darrel, apalagi tubuh kami yang sama-sama hanya terlilit handuk.
Entahlah... Aku mencium aroma kebebasan, tapi jika aku gagal kedua kakiku yang di pertaruhkan.
"Apa yang kau pikirkan, hanya 10 detik 10 de-tik" ucap Darrel kembali kemudian mendorongku keluar kamarnya.
"APA YANG KAU PIKIRKAN! AYO CEPAT LARI KELUAR!" teriak Darrel sangat kuat membuatku langsung berlari tanpa berfikir lagi.
Entahlah aku tidak tau... Aku hanya berlari menggunakan handuk, tapi kakiku juga di pertaruhkan di sini.
"10.... 9...." terdengar Darrel mulai menghitung dari atas kamar, sedangkan aku sudah sampai membuka pintu.
Aku sudah di halaman rumah sekarang, aku sangat bersyukur aku bisa menghirup udara segar. Dengan menambah kecepatan aku langsung berlari ke arah gerbang yang akan di depanku. Gerbang kayu dengan yang besar dan tinggi, membuat orang tidak bisa melihat arah dalam rumah.
__ADS_1
Tapi kesenanganku tidak berlangsung lama, saat aku menyadari gerbangnya terkunci. Aku terus mendobrak keluar, dan menarik sekuat tenaga tapi tetap saja sepertinya gerbang ini telah ditutup.
".... 3.... 2.... 1...." terdengar kembali suara Darrel yang tengah menghitung, membuatku tambah kuat menggedor-gedor gerbang kayu ini.
"Aku sudah memberimu kesempatan, tapi kenapa kau tidak pergi? Apakah sangat menyenangkan bagimu untuk aku sakiti?" kata Darrel perlahan mulai mendekatiku.
"KAU PEMBOHONG! KAU CURANG!" teriakku kuat sambil terus menggedor gerbang.
"TOLONG! TOLONG! SESEORANG TOLONG AKU!" teriakku kuat sambil terus mendobrak pintu dengan tubuhku.
...BRUGH!...
Hantaman kuat kepalaku ke gerbang kayu, membuatku hampir tidak sadar seketika. Dengan sisa-sisa kesadaran ku, aku merasakan tubuhku sedang di geret sekarang. Aku merasakan handuk yang aku gunakan sudah terlepas sepenuhnya, membuat tubuh naked ku terseret di pafing ini.
Entah kenapa aku masih tidak saja menyerah, aku dengan penuh harapan tinggi masih menahan seretan Darrel dengan jariku yang sudah melemas. Bahkan jariku mulai berdarah-darah karena menahan tubuhku.
"To-long... A-ku~"
.
.
.
.
__ADS_1