
Sesaat aku terbangun dari tidurku. Aku mulai merasakan pegal di seluruh badanku. Tapi aku juga merasakan bebas, aku mulai bisa menggerakkan tubuhku. Untunglah pakaian ku masih utuh, dan semua ikatan sudah terlepas dari tubuhku.
Aku mulai melihat sekeliling, aku mengamati setiap incinya hingga aku menemukan sebuah pintu didalamnya. Aku langsung pergi ke arah pintu tersebut. Dengan perlahan aku membukanya, ternyata itu adalah kamar mandi kecil. Benar-benar kecil, hanya ada satu closet dengan bak sebagai wadah airnya.
Aku mulai mengamati kamar mandi tersebut. Aku lihat kanan kiri setiap dinding, Kemudian lantai, dan kini langit-langit. Aku merasa beruntung karena aku menemukan sebuah ventilasi udara, meski terdapat penutupnya.
Aku mulai menaiki closet, dan mencoba membuka penutup ventilasi yang terbuat dari besi tersebut. Dengan susah payah akhirnya aku dapat membukanya.
Kini aku mencoba naik ke dalam ventilasi. Kalian tau, tidaklah mudah menjadi anak pendek di saat seperti ini. Aku jadi sedikit mengambil resiko dengan melompat dari closet. Akhirnya meski tanganku pegal, jariku masih bisa meraih ventilasi tersebut.
"DEA!" teriak Darrel sambil mendobrak pintu kamar mandi yang telah aku kunci sebelum. Seketika jariku terpeleset, dan aku mulai terjatuh dari sana.
Untung saja Darrel menangkap ku. Dia menatap ku dengan tatapan tajam, dan juga mengintimidasi. Seketika Darrel membawaku pergi ke kasur itu kembali, Kemudian memborgol salah satu tanganku.
__ADS_1
"Tangan yang nakal, harus aku beri pelajaran." kata Darrel dengan tatapannya yang tajam.
Seketika Darrel membuka pakaiannya, dan mulai mengarahkan tanganku untuk memegangi miliknya. Salah satu tanganku terborgol, membuatku hanya bisa mundur sampai senderan kasur saja.
"Apa Dea? Kau hanya perlu memegangnya, bukanlah tadi mukamu sangat memerah saat melihatnya?" tanya Darrel sambil mengarahkan tanganku pada miliknya.
Mukaku merah seketika saat aku benar-benar memegang miliknya. Aku tidaklah tau memang seperti ini rasanya.
Beberapa saat kemudian, benda milik Darrel terlihat membesar. Aku yang semula menatap entah kemana, kini berbalik menatap Darrel yang dengan wajah memerahnya. Sesekali Darrel mengeluarkan suaranya sembari mengadahkan kepalanya.
"Kenapa kau berhenti melakukannya?" tanya Darrel dingin, dengan tatapan lesunya. Napasnya tersenggal, sesekali mengusap wajahku yang ketakutan.
Aku merasa takut, sekarang aku benar-benar hanya bisa memojokkan diriku.
__ADS_1
"Aku akan memberimu pelajaran!" ucap Darrel sambil menarik kakiku kuat.
Tarikan dari Darrel membuatku sedikit kesakitan, karena salah satu tanganku masih di borgol. Aku meringis kesakitan, tapi itu hanya sebentar saat Darrel mulai melepaskan pakaian milikku.
Aku berusaha menarik kakiku, tapi dia terus saja menarik. Bisa sekarang celanaku sudah terlepas, Kini aku setengah naked dengan dalaman yang masih terpakai.
Napasku memburu seketika, saat Darrel mulai menyelipkan tangannya ke dalaman milikku.
"Darrel! Berhenti!" teriakku saat tangannya mulai memasuki milikku.
Rasanya geli, tapi juga sedikit perih. Aku terus merapatkan kaki ku agar tangan Darrel tidak bisa masuk. Deru napasku semakin menderu, saat Darrel mendekatkan wajahnya ke arahku.
"Dea... Tunjukan padaku... Please..." kata Darrel pelan, sambil berbisik ke arahku.
__ADS_1
Darrel mulai melebarkan kaki ku dengan salah satu tangannya. Sedangkan salah satu jari Darrel benar akan masuk. Napasku tersenggal keluar masuk tak beraturan dengan kuat. Aku sampai menadahkan kepalaku ke belakang sambil menutup mataku malu dengan salah satu tanganku. Aku tidak tau apa yang aku rasakan, ini rasanya perih, sakit, tapi juga aku sedikit menikmatinya.