
" Erika, embarkasi besok kamu punya jadwal buat i95. Jangan lupa id mu dibawa!" Manoj memberitahu Erika, setelah meeting kerja.
"Jam berapa bos?"
"Jam 9," jawab Manoj.
Erika berpapasan dengan Jayden di hall way. Jayden bersiap-siap kerja shif siang di open dek.
"Hei Jayd," sapa Erika.
"Hola! comuestas paisana? "Jayden menjawab dengan logat dilatin-latinkan.
"Logatmu lebih mirip ke italiano bonjorno," Erika terkekeh.
"Eh apa yang kamu bawa?" Erika melihat Jayden membawa buntalan napkin.
"Ini cookies, buat camilan di atas. Aku barusan ambil di crew mess. Kamu mau? Ambilah?" tawar Jayden.
"Tidak trima kasih, kalo kamu ambil di crew mess aku bisa ambil sendiri nanti. Tapi kalo kamu ambil dari lido aku mau, karna di crew mess tidak ada, dan aku jarang pergi ke lido."
"Oh gitu. Ya sudah," Jayden menyimpan lagi napkin berisi cookiesnya.
"Embarkasi depan aku ada jadwal bikin i95. Apakah banyak yang gagal?"
"Tidak, i95 sangat mudah didapat. Bahkan aku dulu di tanyai dalam bahasa Indonesia."
"Apakah orang itu keturunan Indonesia?"
"Tidak, dia orang kulit hitam, tapi temennya ada yang berasal dari Indonesia. Jadi ia belajar dari temannya. Orangnya ramah lho."
"Benarkah? Tapi aku sedikit kawatir. Setelah beberapa bulan di kapal, baru kali ini dapat jadwal."
"Karena peraturan dirubah. Kamu tahu kenapa new hire serinh tidak dijadwalkan buat i95?"
Erika menggeleng. Jayden melanjutkan : " Agar mencegah terjadinya jump ship. Beberapa tahun belakangan banyak crew yang jump ship. Karena suasana kapal tidak enak dan gaji kecil. Kerja terus bagai kuda. Kalau di kapal enak, pasti ga ada yang jump ship. Terutama orang Indonesia, walau gajinya kecil tp kalau suasana kerja enak, mereka ga bakalan jump ship."
__ADS_1
(Jump ship adalah keadaan dimana crew kapal pergi dari kapal, dan memilih tinggal di darat sebagai imigran gelap. Karena gaji di darat jauh lebih besar)
"Oh ya besok aku juga punya jadwal buat i95. Tapi ga terlalu berguna buatku," Jayden menggaruk kepala plontosnya yang tidak gatal.
"Kenapa?"
"Aku sering port manning. Ini sudah sebulan lebih aku ga bisa keluar. Saat kutanyakan pada Housekeeping manager, mereka bilang tidak ada yang menggantikan posisiku port manning. Ya sudahlahh... Padahal aku ingin pergi ke bukit yang ada tulisan Hollywood itu."
Jika crew sedang port manning, maka ia tidak bisa keluar dan harus tetap di kapal. Untuk mengantisipasi jika kapal dalam keadaan bahaya, masih ada petugas yang mengatasinya.
"Kasihan sekali kamu. Jika aku sudah dapat i95 berarti aku bisa keluar mengunjungi ibuku di Ensenda," Erika mengalihkan pembicaraan.
"Oh jadi kamu mau keluar di Ensenada? Kalau mau keluar disana kamu tidak perlu i95. Itu kan port Mexico. Hanya port Amerika yang memerlukan i95 jika ingin keluar," Jayden tertawa.
"Masa?"
"Tentu saja. Kalau tidak percaya tanya sama safety offficer ato hrd, ato siapa gitu," Jayden masih tergelak.
"Tau gitu aku keluar dari dulu ya," Erika menyadari kebodohannya.
"Baiklah, besok ku belikan," Jawab Erika sebelum masuk crew mess.
Erika dan Jayden tidak menyadari kalau Joe berada di belakang mereka, pura-pura membaca pengumuman tapi sebenarnya Joe nguping pembicaraan mereka. Joe tidak suka melihat Erika dan Jayden begitu akrab, dan bahkan bisa tertawa lepas bersama.
...***...
Erika sudah mendapatkan i95, dua hari kemudian port Ensenada, Erika berencana keluar. Ia memaki tank top berwarna putih, hotpans biru, dan topi base ball, sneaker warna senada dengan hotpannya menambah kesan sporty. Erika membiarkan rambut panjang coklat tuanya tergerai dibelakang punggungnya. Kacamata hitam, ia cangkong di tanktop di tengah-tengah dadanya. Tas selempang kecil tak lupa ia bawa.
"Itu mulutmu nanti kemasukan bed bag, melongo begitu," Erika melihat Joe tak sadar sampe mulutnya terbuka melihat Erika tanpa seragam.
Joe segera menutup mulutnya, "Mau kemana antusias sekali?" Joe mengalihkan pembicaraan.
"Mau keluar, emang mau kemana lagi? Masa dengan baju begini mau bersihin rest room," Erika berbicara sinis.
"Awas lho nanti kalo keluar sendiri bisa diculik dan dijual dijadikan penari telanj***ng di klub-klub ecek-ecek yang ada disana," Joe menakut-nakuti.
__ADS_1
"Aku pernah diculik dan hampir dijadikan pela***, Jika mereka melakukan lagi aku tau caranya melarikan diri."
Joe yang tadinya mau menakut-nakuti Erika malah jadi takut sendiri mendengar jawaban Erika. Ia mendadak ngeri membayangkan jika itu terjadi lagi pada Erika.
"Aku ikut keluar!" Joe tidak berpikir lama lagi.
"Kau kan masuk kerja?"
"Hari ini aku libur," Joe segera mengambil id card nya.
Erika beriringan keluar dengan Joe, sepanjang hallway sampe keluar gangway mereka tidak bicara sepatah katapun.
"Trimakasih," kata Erika.
"Karena telah menemanimu keluar? Aku tau kamu sebenarnya takut dan butuh teman," Jawab Joe GR.
"Ah sudahlah," Erika tidak mau berdebat, sebenarnya ia berterimakasih teringat Joe sudah mencucikan baju seragamnya. Walau Joe diam saja, tapi Erika tahu dia yang melakukannya. Apalagi saat Jaydenn cerita, kalau tengah malam ia melihat Joe sedang mencuci seragam wanita di crew laundry. Saat Jayden bertanya, Joe malah marah-marah.
Joe dan Erika berjalan mengitari pier sebelum akhirnya keluar gerbang.
"Aku mau beli kopi di starb*ck disana," kata Joe.
"Ya sana. Tapi aku tidak punya waktu untuk itu," Erika berjalan lagi meninggalkan Joe yang hendak masuk ke gerai Starb*ck. Melihat Erika berlalu, Joe segera menyusulnya, karena pikiran Joe mendadak dipenuhi dengan Erika yang akan diculik jika ia keluqr sendiri.
Dengan langkah kaki yang cepat, Erika ke restoran tempatnya dulu bekerja. Membelikan pesanan Jayden yaitu nasi goreng dan kangkung tofu. Setelah pesanan didapat, Erika berjalan lagi. Joe masih ada di belakangnya, berjalan mengimbangi langkah Erika yang cepet. Cuaca Ensenada sangat cerah, awan-awan berarakan di udara, ramai hiruk pikuk wisatawan dan tamu kapal menambah suasana kota bertambah hangat.
Keringat bercucuran di wajah Joe. Tenggorokannya haus, namun ia tak mau kehilangan Erika. Jalannya cepat sekali seperti ninja, lengaj sedikit Joe akan kehilangan Erika. Erika berjalan lumayan jauh ada 3 kiloan.
"Sebenarnya mau kemana sih?" Joe bertanya.
" Kalau kau tidak suka, jangan mengikutiku."
Joe memutuskan tidak bertanya lagi. Erika menghentikan langkah kakinya di depan supermarket. Dihalaman parkirnya ada beberapa pedagang kaki lima. Erika menghampiri salah satunya. Seorang wanita paruh baya yang berjualan taco dan burito dengan gerobak doronya yang kecil. Ada beberapa pembeli yang sedang mengantri. Melihat Erika datang, wanita itu tersenyum lebar.
"Mamita," seru Erika.
__ADS_1
...***...