Love In Cruise Ship

Love In Cruise Ship
Drama kecil housekeeping


__ADS_3

Kapal Happy star berjalan pelan. Entah berapa knot. Hari ini cuaca cerah tanpa badai atau ombak besar. Hiruk pikuk para tamu berada di public area. Suasana liburan sangat terasa menyenangkan bagi tamu. Dan bagi crew housekeeping. Pasalnya bar 2,5 Nikita kena diare. Dia harus diisolasi. Masalah diare di kapal tidak bisa dianggap remeh.Karena jika 1 orang kena,seluruh orang di kapal juga bisa kena. Tapi tidak dengan hotel steward dan crew lain, mereka sibuk. Public area member tidak ada kerjaan kusus. Mereka hanya maintenance public area, kadang-kadang mamagayo di rest room atou di stairacase antara public area dan crew area.


Martin adalah hotel direktur yang ramah. Saat seaday begini, ia suka berkeliling menyapa para tamu, sesekali memberikan voucer coffe shop. Para tamu akan senang sekali dan merasa terhormat. Para crew juga tak luput dari perhatian Martin. Bercakap ringan akan membuat semangat mereka menyala melalui hari yang sibuk.


Erika melipir dari elevator ke elevator lainnya. Ia rajin mensanitize elevator dengan cairan firex. Tangannya kasar dan mengelupas. Hand glovesnya sudah bolong sejak beberapa hari yang lalu. Tapi ia tidak minta yang baru. Setiap kali minta yang baru, tailor selalu banyak alasan. Tailor selain bertugas menjahit,ia adalah penguasa barang-barang housekeeping departemen. Ia yang membagi-bagikan sabun sampai s8kat toilet ke crew.


"Nanti bolong lho," suara Martin mengagetkan Erika. Ia dari tadi mengelap elevator tapi pikirannya entah kemana.


"Gloves saya memang sudah bolong,"sambung Erika.


"EH, sir...good morning,"kata Erika saat menyadari itu suara Martin bukan suara Kadek, patner kerjanya.


"Kenapa ga minta ganti hand glovesmu?"


"Sudah minta tapi nggak dikasih. Katanya habis," Erika berkata jujur


"Ayo ikut, kumintakan,"Martin menanggapi dengan serius.


"Eh tidak usah sir, tidak perlu repot. Nanti saya minta lagi."


"Ikut!" Nada bicara Martin memerintah, Erika hanya bisa mengekor di belakang Martin.


Di hallway Erika dan Martin berpapasan dengan Joe. Joe yang curiga lalu ikut mengekor.


"Ada apa dengan dia?" tanya Joe pada Martin.


Martin tersenyum sinis, untuk urusan Erika, Joe akan ikut campur dalam hal kecil


"Hanya mengantarnya mengganti gloves," jawab Martin.


"Ini urusan kecil, aku akan mengantarnya, ke linen room. Hotel direktur tidak perlu susah payah mengantar," jelas Joe.


"Tapi aku memaksa," Martin terus melaju menuju linen room.


Joe dan Martin berdebat kecil sepanjang jalan. Langkah mereka lebar - lebar. Erika harus mengimbanginya dengan sedikit berlari. Ia berjalan di belakang kedua orang jangkung itu. Manoj melihat ketiganya berjalan dengan tergesa, niatnya untuk ke pergi ke housekeeping office. Segera ia uarungkan dan menyusul mereka, ia takut Erika kena masalah. Karena Erika adalah anak buahnya. Kalo Erika kena masalah yang pertama dipanggil pasti dirinya karena dirinya adalah atasan langsung Erika.

__ADS_1


"What happend?" tanya Manoj.


Erika hanya mengangkat bahunya sambil mengimbangi langkahnya.


"Kau membuat masalah dengan mereka?" tanya Manoj.


"Tidak," Erika mengangkat bahunya lagi.


"Lalu kenapa kau mengikutinya?"


"Aku hanya mau minta hand gloves."


Erika dan Manoj berbicara sendiri. Sedangkan didepan mereka Martin dan joe juga masih berdebat seru. Tak memperhatikan Erika dan Manoj. Suasana tegang menyelimuti keduanya.


Sampai di linen room. Mereka sukses membust tegang linen manajer dan laundry manajer, dikira kedua manajer itu akan kena sapo dari hotel direktur.


"Ada apa sir?" tanya linen manajer, ia mengok pada manoj. Manoj mengangkat kedua bahunya seperti Erika tadi.


"Tidak apa. Aku hanya ingin minta hand gloves untuk gadis ini, "kata Martin.


"Sudah ku bilang anda tak perlu repot sampai ke sini untuk meminta gloves," seru Joe. Ia bersikap polite pada Martin. Padahal kesalnya sudah di ubun-ubun. Seandainya hanya berdua saja, ia pasti sudah akab menggampar Martin.


"Iya, gloves gadis itu sudah bolong dan aku tak nyaman melihatnya mondar mandir di depan kantorku memakai gloves bolong."Martin beralasan.


Linen manajer menjadi takut dan berteriak


Pada tailor.


"Aku cuna mau memastikan kalian punya ga gloves. " potong Martin.


"Sudah ku bilang anda tidak perlu repot. Urusan kecil seperri ini biar kami saja yang menanganinya. Iya kan Manoj," Joe meminta bantuan Manoj.


"Yes sir. Biar kami yang menanganinya."


"Kalian yang menanganinya? Sejauh ini kalian yang menanganinya tapi apa? Gadis ini sudah minta beberapa kali dan dia tidak berhasil mendapakannya. Gloves itu penting untuknya. Seharusnya dia selalu punya PPE yang layak." (PPE:personal protect equipment)

__ADS_1


Linen manajer seperti kebakaran jenggot. Ia sudah memesan beberapa box hand gloves untuk persediaan houskeeping departement untuk beberapa cruise bisa bisanya tidak ada. Jelas dia yang harua bertanggung jawab, hotel stewardess ini hanya korban. Ia berteriak pada tailor marah. Semua pasti ulah tailor hingga dia kena getahya.


"Tailor?"seru linen manajer.


"Di mana gloves yang aku pesan kemarin?" tanya linen manjer.


"Sudah habis sir, tinggal ini," ktanya tailor. Ia menunjukkan hand gloves selen. Kanan semua.


Martin, Joe, Manoj dan Erika mengikuti linen manajer masuk ruangan tailor. Sedangkan laundry manajer melipir pergi ke ruangan laundry. Tak lupa water tight door ia turunkan.


"Masak banyak hanya tinggal ini," linen manajer geleng kepala. Ia mencoba membuka-buka tumpukan baju permak tailor. Ia tahu tailor menyembunyikannya. Memang selama ini dia tahu tailor mafia tapi dia diam saja. Tapi kalo ada masalah sperti ini tentu dia tak ingin jadi orang yang disalahkan.


Joe juga ikutan memeriksa. Dan ia menemukan 1 pak gloves dibawah kardus tisu roll.


"Ini apa?" Joe tak ingin memarahi tailor. Ia hanya fokus pada Erika.


"Mana punyamu?" Joe bertanya pada Erika. Ia menyerahkan kedua glovesnya yang bolong. Lalu Joe membuangnya ditempat sampah dan menyerahkan. Sepasang pada Erika. Pakailah.


Joe melemparkan sisanya pada Manoj. Manoj reflek menangkapnya.


"Simpan di gudang public area," kata Joe.


Martin melipat tangannya memperhatikan drama housekeeping.yang terjadi di hadapannya. Linen manajer memarahi tailor habis-habisan di depan semua. Ia tahu tailor yang mafia. Ia jual belikan hand gloves pada cabin steward.


Erika begidik. Tailor melotot ke arahnya. Pasti tailor mengira ia yang menyaponya pada hotel direktur. Mereka bubar jalan. Meninggalkan linen manajer yang masih marah pada tailor.


"Bekerjalah kembali,"suruh Manoj pada Erika.


"Lain kali lebih perhatikanlah anak buahmu!"nasehat Martin pada Manoj. Ia menepuk punggung Manoj.


"Yes sir," Manoj pamit pergi menyusul Erika ke public area.


"Dan kau ngapain disini. Bukankah jam kerjamu belum mulai!" kata Martin pada Joe.


"Ngomong gitu sekali lagi kupecat kau sekarang juga!" seru Joe kesal. Ia meninggalkan Martin begitu saja.

__ADS_1


Martin tergelak. Sahabatnya telah berubah. Bahkan untuk drama kecil tentang gloves ini Joe mendalaminya juga.


\*\*\*


__ADS_2