
Hari ini sea day terakhir sebelum mencapai home port di Long beach, pantai barat Amerika. Ada badai dan gelombang tinggi, membuat kapal terombang ambing.
"Ship rocking!" Su berjalan serong ke kanan serong ke kiri mengikuti gerak kapal.
"Are you ok? me caput," Erika memegangi kepalanya yang pusing.(caput: ambyar)
"Me also. Drink this, you'll feel better," Su memberikan sesaschet tolak ang*n cair.
"What is this?" Erika heran dengan saset yang diberikan Su. Ia belum pernah minum itu.
"Herbal drink from Indonesia. Good for sea sick. I've tried it. And its work."
"Dari mana kamu beli ini. Arifudin memberikan padaku. Kamu bisa membelinya di Philipine store yang ada di pier. Satu box sekitar 8 ato 10$ . Besok aku juga mau membelinya."
Erika segera merobek kemasan dan meminumnya. Rasanya aneh, hangat, semriwing dan sedikit pahit tertinggal ditenggorokannya. Tapi pusingnya sedikit reda.
"Gracias Su," Erika berterima kasih.
"Denada," Su membalasnya.
Mereka berdua kembali bekerja di Public area. Banyak tamu yang muntah di mana-mana. Jadi Erika dan Su harus berkeliling lebih sering. Membawa bucket berisi rags, chemical, red bag, blue dan obsorb.
Gelombang laut bertambah besar menjelang siang. Erika kembali merasa pusing disertai mual. Tapi ia belum bisa muntah. Hanya tertahan ditenggorokan. Sedangkan perutnya seperti diremas-remas. Ia kemana-mana membawa red bag, untuk berjaga-jaga kalau ingin muntah tapi rest room masih jauh.
"Kenapa? Caput?" tanya Jayden setelah clock in dideket staircase aft.
"Rasanya aku mau mati," kata Erika memegangi kepalanya. Ia juga mau clock out di mesin yang sama yang digunakan Jayden, jam kerja nya telah berakhir.
"Ini belum seberapa. Kalau di Bahama ombaknya bisa mencapai 100km/jam. Kapal besar aja bergoyang. Apalagi kapal kecil kayak gini." (Kapal Happy Star adalah kapal kecil berkapasitas 2000 penumpang. Kalau kapal besar penumpngnya bekisar 4500 orang)
"Benarkah?"
"Iya, kamu baru di dek 5, coba kamu ke open dek, ombaknya seperti mau menimpamu. Mungkin aku juga muntah nanti," Jayden menunjukkan red bag di kantong kanan celananya yang berada di paha.
"Kalo di open dek mungkin aku sudah pingsan," Erika bertambah pusing.
"Makanlah dulu, nanti kalo kamu muntah ada yang dimuntahin, itu lebih baik. Dari pada nggak makan perutmu akan lebih diremas-remas." pesan Jayden.
Sampai di crew mess, Erika hanya memakan beberapa sendok smash potato dan sosis. Ia tak kuat untuk menghabiskannya, lalu ia mengambil pisang dan apel hijau sebelum kembali ke kabinnya. Di kabin ia melihat Joe belum pergi. Namun Erika tak peduli. Ia merasa ada yang mau keluar dari mulutnya, segera ia ke kamar mandi, dan memuntahkan makanan yang baru saja di makannya ke dalam kloset. Erika naik ke bed atas, karena oleng dan pusing membuatnya tergelincir, dengan sigap Joe menangkap tubuh Erika dan membantunya naik ke bed atas.
Belum ada 5 menit, Erika turun dan masuk kamar mandi lagi. Ia tak peduli Joe ada di kamar mandi, selesai kencing. Erika langsung memuntahkan kembali isi perutnya, tidak peduli Joe belum memflash toiletnya. Joe terkejut ia masih memegang "itunya" saat Erika mendorong tubuhnya menjauh dari toilet. Joe tapi tidak berniat menggoda Erika, dengan cepat ia memakai celananya kembali. Erika bahkan keluar dari kamar mandi dulu dari pada Joe. Ia kembali berusaha naik ke bed dan kembali tergelincir, Joe pun menangkapnya lagi. Erika tidak berterimakasih atau mengucapkan sesuatu. Ia tidak sanggup melakukkannya. Ia hanya menarik selimit dan mencoba untuk tidur.
"Aku sedikit terlambat, kalian mulailah kerja tanpa meeting," Joe menelpon Runner siang hari. Runner siang bukan Jayden, Jayden bekerja di open dek, bukan di public area.
Joe merasa tak bisa meninggalkan Erika sendirian. Wajah Erika yang pucat seperti vampire tidak bisa diajak bercanda sekarang. Tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan pada Erika. Tubuh Joe yang tinggi membuat ia tak perlu repot naik tangga untuk melihat Erika, Ia bisa melihat Erika dengan berjinjit saja. Lalu menyerahkan tumbler berisi kopi panas pada Erika.
"Mungkin sesuatu yang panas akan membuatmu lebih baik," Joe berkata dengan lembut hingga Erika menerima tumbler Joe.
__ADS_1
Isi kopi tinggal setengah tumbler, dan perut Erika rasanya seperti diremas-remas lagi, tergesa ia ke toilet lagi dan berusaha mengeluarkannya tapi hanya kopi yang keluar. Lalu dengan asal ia mengambil pisang dan apel di atas meja yang tadi ia bawa dari crew mess, memakannya dengan tergesa. Ia ingat pesan Jayden.
"Dalam keadaan sea sick kamu masih bisa makan?" Joe heran dengan tingkah Erika.
"Setidaknya kalo aku muntah ada yang dikeluarkan, dari pada tidak makan, rasanya lebih sakit perut. Kenapa masih disini, bukannya kamu harus kerja?" Erika tidak mau berdebat.
"Aku hanya memastikan saja kau tidak muntah di bedku."
"IsIshhhh," Erika kesal namun sekali lagi ia tidak mau berdebat.
Erika memutuskan naik ke bed dan berusaha untuk tidur, 15 menit berlalu, Joe mendengar dengkuran halus dari bed atas. Joe memastikan Erika sudah tertidur dan ia pergi. Setiap jam sekali Joe datang mengecek keadaan Erika. Joe sendiri heran kenapa ia otomatis pergi ke kabinnya setiap 1 jam sekali.
"Hai bro, jam segini baru masuk kerja?" sapa Martin saat Joe menutup pintu kabinnya.
"Gadis itu menyusahkan saja."
"Gadis? Erika? Kenapa?"
"Dia muntah terus."
"Apa kau sudah menghamilinya?"
"Tentu tidak, dia sedang sea sick."
Martin tertawa," Apa kamu tertarik dengan gadis itu?"
"Kalau begitu aku akan mengajaknya berkencan. Dia pasti tidak sanggup untuk menolakku, aku akn hotel direktur disini, posisiku lebih tinggi darimu."
"Tidak bisa. Aku tak mau dia membuat repot di kabin dengan gaun yang akan di gantung secara sembarangan. Make up segudang berserakan dimana-mana jika dia berkencan dengan," Joe mulai terpancing dengan ucapan Martin.
"Kalo begitu aku akan menyuruhnya pindah kabin, supaya kamu tidak terganggu."
"Tidak bisa, aku tidak mengijinkanmu mengencaninya."
"Kenapa memangnya?"
"Karena aku atasanmu!!!"
Wajah Joe tampak kesal, ia pergi meninggalkan Martin begitu saja.
"Katanya tidak tertarik, tapi kenapa dia kesal saat aku mau mengajak Erika kencan," Martin tersenyum getir.
Joe bertemu dengan Erika kembali, sejam sebelum Joe masuk shif malam. Ia baru saja kembali dari bar, Martin mengajaknya minum di bar untuk meredakan pusing karena sea sick. Joe heran Erika ada di kabin sejam lebih cepat, baru jam 10 malam. Joe mendengar Erika muntah-muntah lagi di toilet. Saat keluar dari kamar mandi, Erika kaget melihat Joe sudah duduk di bednya. Ia juga merasa sangat malu karena saat ini tubuhnya hanya berbalut sehelai handuk. Erika tadi sengaja cepat-cepat mandi agar tidak ketahuan Joe, karena tadi ia muntah dan mengenai seragamnya. Tapi sekarang di hadapannya sudah ada Joe.
"Mau menggodaku?" seringai Joe licik.
Joe mendekati Erika, dan Erika mundur perlahan sambil mempererat kedua tangannya mencengkram handuk. Joe melangkah maju, dan Erika mati langkah sampai di pojok kabin. Joe memegang kedua tangan Erika, hendak melepaskan dari handuk, Erika semakin mencengkram erat.
__ADS_1
Tenaga Joe yang lebih kuat membuat Erika kalah. Joe membuka kedua tangam Erika dan memberikan 2 bungkus tablet di masing-masing tangan Erika.
"Itu pil sea sick. Minumlah! Aku tadi mengambilnya di medikal room."
"Se sea sick?" pikiran Erika yang sudah kemana-mana, menjadi terkejut. "Ternyata dia tidak melakukan harassment," batin Erika.
Joe mengambilkan air mineral dan memberikan pada Erika, langsung menyuruhnya minum tablet sea sick. Setelah Erika meminumnya, Joe kembali menyeringai nakal.
"Apa kamu sungguh-sungguh mau menggodaku?" tanya Joe.
"APA?!" Erika berubah kesal wajahnya, melihat Joe menyeringai licik.
"Itu handukmu melorot," jawab Joe dengan santai.
Erika melihat handuknya sudah jatuh ke lantai tanpa ia sadari. Pikirannya tadi masih fokus dengan apa yang akan di lakukan Joe. Berarti dari tadi Joe melihat tubuhnya yang polos. Buru-buru Erika memakai handuk dan kembali ke kamar mandi.
"36 B! " seru Joe.
Erika lama sekali di kamar mandi. Sampai Joe tidak mandi saat akan mulai kerja, ia hanya mencuci muka saja. Ia tidak memaksa Erika keluar, ia tahu Erika mungkin masih merasa malu dan tak mau keluar jika dirinya masih ada di kabin. Saat ini Joe puas melihat Erika malu.
Sekitar 2 jaman, Joe kembali ke kabin. Ia tidak melihat Erika di bednya. Ia membuka kamar mandi dan menemukan Erika, tidur jongkok. Kepalanya diletakkan di kloset yang tertutup, tangan kiri Erika memegang seragam yang basah, dan tangan kanannya memegang shower yang mati. Tubuh Erika masih terlilit handuk.
"Jadi sedari tadi belum ganti, malah tidur disini. Tablet sea sick secepat itu berpengaruh," Joe geleng-geleng kepala, ia mengangkat tubuh Erika dan membaringkannya di bed atas. Handuknya terlepas, Joe hanya dapat menelan salivanya.Ia segera menutupi tubuh Erika dengan blangket. Lalu ia mengambil seragam Erika yang basah dari kamar mandi dan mencucinya di crew laundry.
"Bos, sedang apa disini?" tanya Jayden melihat Joe sedang menyetrika seragam cewek.
"Justru aku yang harus tanya, sedang apa kau disini? seharusnya kau di publik area."
"Aku ngambil rags bos. Sekalian mengecek seragamku masih ada tidak."
"Tentu saja ada, emang siapa yang mau ambil seragammu."
"Eh, bos jangan salah ya. Disini banyak mafia boss, ku pernah kelilangan seragamku saat aku lupa tidak mengambil cucianku." jayden ngeles.
"Mana ada yang seperti itu."
"Ada bos."
"Itu seragam siapa bos? Apa bos punya side job nyuci baju?"
"Ah, berisio kamu. Sana segera kembali kerja. Atau aku akan menyuruhmu menyampo semua publik area hah!"
Jayden segara kabur melihat bosnya mulai marah. Selesai mencuci seragam Erika, Joe kembali ke kabin. Meletakkan di lemari. Joe tahu Erika hanya punya satu setagam night shift, makanya setiap hari Erika mencucinya. Sebelum pergi Joe melihat Erika, selimutnya sudah tersingkap, memperlihatkan area sensitifnya. Joe segera menutup curtain bed atas.
"Tampaknya aku harus melampiaskan di kamar mandi," batin Joe.
...***...
__ADS_1