Love In Cruise Ship

Love In Cruise Ship
Little Cihuahua


__ADS_3

"Mamita!" seru Erika pada seorang wanita paruhbaya yang sedang sibuk membuat pesanan taco dan burito pada pelanggannya. (mamita:ibu)


"Mi bela senorita," wanita tua itu tersenyum lebar sembari memeluk Erika. Saat semua pelanggan sudah pergi. (mi bela senorita: gadis cantikku)


"Ibu, aku sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu?"


"Ibu juga merindukanmu. Seperti yang kau lihat ibu sehat dan dagangan ibu laris."


Erika duduk di bangku plastik disamping ibunya. Tanpa memperhatikan Joe. Ia berdiri tak jauh dari mereka. Ibu Erika, Dolores Fernandes tak mengetahui kalau Erika datang bersama teman. Ia mengira Joe adalah wisatawan.


"Bagaimana kerjaanmu di kapal? Apakah enak?" Dolores memberikan taco yang sudah ia buat pada Erika. Ia tahu Erika merindukan taco buatannya.


"Tidak seperti bayanganku Bu, tapi aku bisa mengatasinya. Dan yang penting gajinya besar," Kata Erika sambil terkekeh, kemuadian ia batuk, sedikit tersedak taconya.


"Ini enak sekali!" Erika tak berhenti mengunyah.


"Oh iya ibu, aku tak punya banyak waktu. Aku kesini mau memberikan gajiku pada ibu," Erika mengeluarkan amplop coklat dari dalam tas selempangnya dan menyerahkan pada Dolores.


"Tidak Nak. Aku tidak mau. Ini gajimu, jadi simpanlah sendiri."


"Tapi uang ini untuk sewa apartemen Bu," Erika masih memaksa Dolores menerimanya. Dolores tetap tidak mau.


"Uang dari jualan taco dan burito cukup untuk menyewa apartemen dan membeli makanan sederhana. Jika kurang, ada kakakmu Maurico yang mencukupinya. Jadi simpanlah uangmu sendiri," ada rasa takut dalam hati Dolores, jika ia menerima uang Erika.


Erika merasa curiga. Ia tahu ibunya berbohong. Selama ini uang hasil penjualan taco dan burito kadang hanya cukup untuk menyewa apartemen saja. Atau kadang hanya cukup untuk makan. Ia tahu, ibuny masih sering memberikan uang pada ayahnya Lucio, hanya karena takut jika Lucio mengancam akan menyakiti anak-anaknya.


"Apa karena orang itu?" Erika tak mau menyebut ayah atu memanggil nama ayahnya.


"Bukan! Bukan Nak," Dolores menggeleng.


"Ibu masih sering disakitinya?" Erika memandang wajah Dolores. Ia melihat bekas memar yang belum terlalu menghilang. Ada juga memar di tangan Dolores. Dan tak mungkin memar itu karena jatuh.


"Tidak Nak."


"Ibu, aku tau ibu bohong. Aku tidak hidup bersama ibu satu ato dua hari. Tapi hampir seumur hidupku."


Dolores menarik nafas panjang dan bercerita kalau beberapa hari yang lalu memang Lucio datang. Ia meminta uang dengan cara memaksa, memegang tangan Dolores sangat erat sampai meninggalkan memar disana.


"Lalu soal memar di wajah ibu?" Erika terus memburu.


"Ini…" Dolores mengusap pipinya. " Ini, kemaren waktu akan mengambilkan uang buat ayahmu, wajah ibu terantuk pinggiran lemari.

__ADS_1


"Bener?"


"Iya, ibu tidak bohong."


"Lalu berapa uang yang dia ambil?"


"Hanya sedikit," Dolores memandang Erika yang melotot padanya tidak percaya. Dolores berusaha meyakinkan.


"Ai ya ya... anak gadisku ini! Kalau dia ambil semua uang ibu. Ibu ga akan bisa jualan kan?"


(ai ya ya kalau dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih aduh aduh)


"Baiklah Bu. Kali ini aku percaya."


Dolores menarik nafas lega. " Simpanlah uangmu sendiri," katanya.


Karena Dolores tetap tidak mau menerima, akhirnya Erika memasukkan uangnya ke dalam tas lagi. Erika pamit pergi setelah ada pelanggan yang datang.


"Ibu aku pergi dulu."


Joe mendekati Erika, "Sudah selesai?"


"Iya!" Erika terkejut Joe masih ada di dekatnya. Ia benar-benar lupa ia datang bersama Joe.


Erika terkejut lagi. Ia pikir Joe akan menolak dipeluk orang tua berbau keringat dan bertangan kasar. Namun Joe memeluk kembali dan mencium tangan Dolores.


"Ia tidak bisa bahasa latin Bu," Erika buru-buru memenggang Joe dan menjauh.


"Ayo kita pergi membeli minuman?" seru Joe.


" Baiklah aku juga haus." Erika mengiyakan, ia kasian pada Joe. Wajahnya sudah seperti kepiting rebus.


"Tolong belikan ya? plis. Aku mau pergi ke toilet umum di sebelah sana," Erika berlari meninggalkan Joe menuju toilet.


...***...


Saat Joe keluar dari toko membawa beberapa minuman dingin. Ia melihat, tak jauh dari toilet umum. Ada pria berbadan tinggi besar


berusaha memeluk Erika dari belakang. Pikiran Joe jadi tidak tenang. Ia mengira laki-laki itu akan menculik Erika.


"Oh shit!" Joe berlari ke arah Erika dan memukuli pria itu dengan botol minuman dingin.

__ADS_1


Pria itu berusaha menangkis pukulan Joe, sedangkan Erika berusaha menghentikan Joe.


"Hentikan! Hentikan!" Teriakan Erika baru menghentikan Joe.


"Dia mau menculikmu kan?" Joe bertanya sembari merapikan rambutnya yang berantkan.


"Tentu saja tidak. Kau salah paham. Dia yang menyelamatkan aku dulu."


"Jadi bukan penculik?"


"Ya tentu saja bukan."


Setelah menjelaskan pada Mauricio maupun Joe. Erika duduk dalam satu bangku panjang bersama mauricio. Mereka minum dan bercerita. Sedangkan Joe duduk di bangku panjang di sebelahnya. Ia duduk sendiri, kakinya ia selonjorkan di bangku. Joe memilih duduk sendiri karena ia tak tahu apa yang dibicarakan Erika dan Mauricio. Namun ia penasaran dengan apa yang dibicarakan Erika dan Mauricio. Karena ia melihat Erika menangis sesenggukan. Diam-diam Joe merekam dengan hpnya. Kelihatannya sih Joe bermain dengan hp, padahal tidak.


"Primo, aku pergi dulu. Sebentar lagi kapalku sailing."


" Hati-hati."


"Aku menyayangimu," Erika memeluk Mauricio.Mauricio mengusap-usap punggung adiknya.


"Setidaknya aku hanya perlu mengkawatirkan ibu sekarang. Kau sudah punya little cihuahua yang menjagamu."


"Cihuahua?" Erika melepaskan pelukannya, heran. Mauricio mengedipkan mata kanannya ke arah Joe.


"Ah, primo, dia hanya atasanku." dan juga kabin mateku ( tambah Erika dalam hati.


"Terserah kau saja adikku," Mauricio melepaskan Erika pergi.


Hari mulai senja, dan Erika dan Joe bergegas masuk ke pier. Di sebelah ujung pier ada beberapa anjing laut yang berjemur. Walau asli Ensenada tapi Erika belum pernah melihatnya, ia memutuskan melihatnya sejenak.


"Poto dideket anjing laut dulu sebentar."


"Seperti anak kecil saja," walau menggerutu tapi Joe menurutinya juga. Ia menerima hp Erika dan memotretnya beberapa kali. Diam-diam Joe juga memotret Erika dengan hp nya.


Erika mengambil beberapa pose di dekat anjing laut. Antara pier dan anjing laut yang sedang berjemur dibatasi oleh pagar kawat, jadi aman. Letaknya anjing laut juga agak jauh, tapi masih bisa terlihat, karena badan mereka besar dan jumlahnya banyak.


"Ayo buruan! Gangway mau tutup!" seru Joe.


Erika dan Joe kemudian berlari-lari ke arah gangway. Security penjaga gangway sudah melambaikan tangan dan berteriak.


"Ayo cepat! Ayo cepat!"

__ADS_1


Walau deg-degan, Erika dan Joe saling melemparkan senyum puas ketika berhasil ke gangway tepat waktu.


...***...


__ADS_2