Love In Cruise Ship

Love In Cruise Ship
a polite attitude


__ADS_3

Malam ini langit ensenada cerah. Meskipun bintang-bintang tidak kelihatan begitu jelas karna pendar lampu kota. Angin laut berhembus masih terasa agak panas. Erika memutuskan untuk pergi ke rooftop. Tempat dimana ia bisa menyendiri di malam hari. kalau siang tempat ini sering digunakan untuk menjemur pakaian penghuni apartemen. Disisi lain ada tempat untuk menanam bunga lavender.


Erika suka sekali tempat ini, kadang ia bicara empat mata dengan mauricio tentang masalah-masalah ibunya. Atau bicara empat mata dengan Dolores saat sedang menjemur pakaian bersama. Erika duduk di bangku malas milik tetangganya. Ia meletakkan cangkir wine nya di atas pagar pembatas.


Erika tidak suka mabuk tapi wine yang dibawanya kadar alkoholnya kurang dari 14 % jadi dia tak akan mabuk meminumnya. Wine dengan kadar 14 persen bagus untuk melancarkan peredaran darah dan bagus untuk diet. Ratu Elizabeth bisa panjang umur karena dia senang minum wine. Ia ingat kata Jayden, minum wine sama dengan makan tape ketan, makanan tradisional dari negaranya.


"Tidak baik seorang gadis minum sendirian senorita, " Joe sudah berada di ambang tangga ke roof top.


" Kukira kau pergi dengan mauricio ke striptease club, " jawab Erika enteng.


"Ah, belum tengah malam dia sudah kabur, " Joe terkekeh lucu.


"Kalo begitu kasihan sekali nasibmu, " Ejek Erika, mulutnya yang hendak menyesap wine hanya monyong seperempat, karena gelas wine direbut Joe. Ia mendahului Erika menyesap wine, setelah terlebih dahulu mengambil gelas di tangan Erika.


"Rasanya lumayan, " puji Joe, sambil mencecap cepat sisa anggur di lidahnya.


"Apa kau yang membelinya?" lanjutnya.


"Bukan, " Erika menggelengkan kepalanya membuat beberapa helai rambut tertiup angin sepoi dan menampar wajah Erika dengan lembut.


"Ini seperti wine mahal, tapi bukan, hanya tiruannya tapi rasanya mirip anggur mahal. Pintar orang ini memilih wine. "


"Itu seleranya Mauricio. Walau dia sekarang agak aneh, tapi soal ettiques dia masih ingat. Dan juga memilih wine, dia yang terhebat. Dia bisa save money, membeli barang murah dengan kwalitas seperti barang mahal. "


"Tampaknya sifat Mauricio menular padamu. Hanya saja kau lebih pelit dan pemarah. "


Erika menyikut perut Joe sehingga pria itu mengeluh kesakitan.


" Aku jadi ingat dulu ada orang yang membeli sebuah batu dari Mauricio, katanya batu itu muntahan paus. Dia memberi Mauricio uang banyak sekali sampai cukup untuk membeli sebuah apartemen seperti ini. Tapi beberapa waktu kemudian dia datang lagi dan marah- marah, katanya batu itu palsu. Mungkin hanya kotoran kucing yang sudah membatu bukan muntahan paus asli. Kau tahu Mauricio bilang apa pada pria itu? " Erika memandang Joe dengan wajah lucu, sehingga Joe tersenyum sebelum Erika melanjutkan ceritanya. Tak lupa ia menyisir rambut Erika kebelakang telinga dengan tangannya.


"Maaf sensor, sebelumnya aku tidak pernah menawarkan batu ku padamu. Kau sendiri yang menginginkannya dan memberikan uang banyak padaku. Jadi aku menolak untuk mengembalikan uangmu. Hukum jual beli sudah twrpenuhi.," suara Erika dengan logat seperti Mauricio. Kemudian tertawa.

__ADS_1


"Apakah orang itu meminta uangnya kembali secara paksa?"


"Tidak, dia hanya marah-marah. Bersumpah serapah lalu pergi. Tapi sayang setelah itu uangnya juga hilang. Mauricio mempercayakan uangnya pada ibuku untuk membeli sebuah apartemen sederhana. Tapi seseorang mengambilnya. "


"Siapa? "


"Pria yang kau lihat dulu memukuli ibuku. "


"Ayahmu?"


"Aku beraumpah tidak akan pernah memanggilnya seperti itu. "


"Pardon me. "


"Its ok. "


Joe mengelus2 pun dah Erika.


Joe yang tadi hanya mengelus pundak Erika, menjadi memeluk Erika. Sentuhan kecil yang hangat mendorong mereka untuk berciuman. Lama sekali. Sampai mereka mendengar suara musik dari klab klab malam semakin kencang. Sudah lewat tengah malam.


Joe menarik Erik untuk turun ke apartemen. Lampu di apartemen sudah dimatikan. Dolores sudah tidur pulas di kamarnya. Joe membawa Erika ke kamar Mauricio. Mereka kembali saling mencium, mengelus dn bertukar suhu badan. Ketika Erik berpikir bahwa ia sudah pasrah dan kan terjadi petualangan panas berikutnya. Joe menghentikan ciumannya dan tertawa licik.


"Kelihatannya kau pengen sekali, "


"Ishhh, " Erika menyeringai dongkol.


"Kali ini aku tidak akan melakukannya. Aku mau mandi dan tidur. Kau boleh tidur di sofa. Mauricio tadi bilang aku boleh tidur di kamarnya, " kata Joe sebelum ke kamar mandi.


Dengan dongkol dan mupeng, Erika mengambil bantal dan selimut cadangan lalu pergi tidur di sofa. Sedangkan Joe sudah ada di kamar mandi, nafsunya sudah memuncak, dia berhasil menahannya di depan Erika tapi tidak saat dia di kamar mandi. Ia menumpahkan semuanya disana, lalu mengguyut badannya dengan air dingin.


Saat keluar dari kamar mandi Joe melihat Erika betbating di sofa. tapi ia tahu Erika belum tidur, mungkin hanya pura-pura tidur.

__ADS_1


"Ayo kita lakukan lagi lain kali. Tapi tidak disini. Aku harus menghormati kamar kakakmu dan ibumu yang sedang tidur, " Joe berbisik dan mendaratkan ciuman di dahi Erika. Bibir dingin Joe membuat dahi Erika berkedut.


"Brrgrhrh, " Erika mengeluarkan suara dengkuran.


"Tidak usah pura-pura mendengkur segala, aku tau kamu belum tidur. Posisi tidurmu cantik. Mata tertutup masih bergerak. aku bisa melihat dalam gelap, " Joe berbisik lalu tertawa tanpa suara. Ia kemudian mencium dan meremas pipi Erika beberapa kali. sampai akhirnya Erika membuka matanya. Ia malu sudah ketahuan berpura-pura.


"Tidur sana, ini sudah lewat tengah malam dan besok sore kita harus kembali ke kapal, " kata Erika pada akhirnya.


"Lalu kita bisa bebas melakukan itu, " Joe menggoda lagi.


"Dasar otak mesum, " Erika memukuli Joe dengan bantal. Tapi kemudian ia diam, takut kalau dolores terbangun.


"Tapi kau tadi juga pengen. "


"Mau ku pukul lagi?!"


"Ampun senorita. "


"Mau apa kau? " tanya Erik saat tubuhnya hendk singkat Joe.


"Memindahkan ke kamar Mauricio?. "


"Tidak, tidak usah, Aku mau tidur di sofa aja. Ini nyaman hangat dan membuatku mengingat kenangan bahagia dengan sofa ini, " jelas Erika.


"Ya sudah kalau tidak mau. Tawaran ku hnya sekali ini. Aku akan tidur di kasur dan jangan bilang kalau aku tidk menghormati wanita ya. Kau sendiri yang tidak mau. "


"Sejak kapan kau peduli."


" Aku peduli dengan wanita yang aku suka., "


Kalimat Joe membuat bibir Erika sinis. Tapi hatinya mekar seperti bunga lavender. Ia tidak menjawab dan memutuskan memejamkan matanya. Joe juga tidak menganggu nya lagi. Mereka lelah dn ingin mengistirahatkan rag mereka, berharap mimpi indah menumbangi tidur mereka sampai pagi menjelang. Atau setidaknya sampai saat mereka bangun dan memutuskan kembali ke kapal karena kapal akan sailing dan misi kusus mereka selesai.

__ADS_1


__ADS_2