
Erika terbangun karena merasa ada yang menindih perutnya. Ternyata tangan itu milik Joe yang tidur di sebelahnya.
"Aaarrgggg!"
Teriakan histeris membuat Joe bangun.
"Apa kita sudah melakukannya?" tanya Erika frustasi. Ia mendapati tubuhnya memakai bathrobe yang sudah berantakan.
"Menurutmu?" Joe membiarkan Erika memutuskan sendiri.
Erika membuka blangket dan mendapati bed sheet ternoda dengan warna kecoklatan seperti darah yang sudah mengering. Sebenranya itu darah Joe yang kena peniti name tag Erika.
"Jadi kita benar sudah melakukannya?"
"Pikir aja sendiri."
"Aku tidak ingat sama sekali."
"Apa mau bukti? Kau bahkan mencakar tangan dan badanku," Joe menyodorkan hpnya lalu Erika melihat Ia yang pertama kali mencium Joe. Dan Erika tidak berani melanjutkan apa yang ditontonnya. Untung bagi Joe karena ia belum menghapus bagian Erika muntah😃
"Apa kau lagi?" Joe tersenyum licik.
"Tentu saja tidak."
"Kalau begitu aku akan melaporkanmu ke HR (human resoursce) dengan tuduhan harassment."
"Aku...akuu...." Erika buru-buru masuk ke kamar mandi.
"Karna kau telah menodaiku, aku akan balas dendam nanti," Joe membuka pintu kamar mandi yang tak bisa dikunci.
"Arrrggg," Erika berteriak frustasi. Ia menyemprot Joe dengan shower toilet.
Joe tak bisa menahan tawanya dengan rambut yabg basah.
Pagi hari bangun dengan suasana tidak enak, pasti sepanjang hari dia akan sial. Saat sampai di crew mess untuk sarapan,antrian sudah mengular. Erika hanya kebagian oat saja. Untung kismus dan yogur masih ada, jadi ia bisa sarapan. Saat mau duduk, tidak ada tempat duduk yang kosong. Setelah memutari crew mess 2 kali, akhirnya Erika bisa dapat t4 duduk di samping Jayden. Jayden juga lemas dan hampir ketodura di sela menghabiskan omelet dan nasi gorengnya.
"Morning!" sapa Erika membuat Jayden kaget menjatuhkan garpunya.
"Kenapa? Lemes begitu."
"Biasalah kerja malam bin badan lemes melulu. Kau juga kelihatannya malammu sungguh liar?"
Giliran Erika yang tersedak yogurtnya. "Maksudnya apa coba?"
__ADS_1
"Kau kan semalam mabuk dan kelihatanyya kabinmatemu sangat senang. Kenapa nggak bilang kalau bosku itu kabinmatemu. Jangan-jangan selama ini saat aku menjelek-jelekkan bosku kau mengatakan pada orangnya."
"Tentu saja tidak."
"Tapi darimana kau bisa tahu aku semalam mabuk?" Erika menggelengkan kepalanya yang masih pusing.
"Tentu saja aku tahu senorita. Aku yang menggendongmu dari smoking area ke kabin. Tapi kau malah mencoba menjambak rambutku sepanjang lorong. Kau juga memukul dan mencakariku," Jayden memperlihatkan luka diatas kmatanya yang membiru. Juga bekas cakaran di tangan Erika.
"Jadi aku melakukannnya padamu?"
"Tentu saja. Kalau aku mau, aku bisa saja melaporkanmu ke HR, kau bisa dipulangkan sebelum akhir kontrakmu senorita."
"Kau akan melakukannya?"
"Tidak. Kalau aku niat dari awal aku ogah mengantar ke kabinmu?"
"Trimakasih. Dan maaf ya, aku nggak ingat telah mencakarmu,"
"Lupakanlah, lain kali kalau minum di kabin aja. Suruh kabin matemu mwngawasimu jangan sampai keluyuran kemana-mana."
Jayden pergi dan memberikan jeruk pada Erika. Kata Jayden bagus untuk mengobati rasa tak enak.
Hari ini port day, hampir semua tamu pergi keluar. Manoj, supervisor housekeeping untuk public area juga tidak memerintahkan Erika untuk melakukn spesial cleaning. Erika hanya rajin sanitize disetiap kaca dan metal tiap 15 menit sekali. Dan rasany sangat capek karena harus menghindari petinggi housekeeping yang kadang suka main perintah aja.
"Martin, kau membuatku kaget saja."
Martin tertawa melihat tinglah Erika
"Kau sedang apa? Menghindari bosmu ya?Akan kulaporkan nanti."
"Eh jangan. Bisa-bisa aku dapat banana."
"Ayo ke office ku saja, akan kutelpon supervisormu. Kusuruh kau membwraihkan officeku," Martin menelpon Manoj dan 2 menit kemudian ia menyuruh Erika masuk ke kantornya.
Martin tak benar-benar menyuruh Errika membersihkan seluruh ruangannya. Ia malah menyuruh Erika duduk saja.
"Duduklah dengan santai. Temanilah aku ngobrol."
Erika mengangguk dengan kikuk.
"Jangan kaku begitu, kita hanya berdua jadi bersikaplah biasa."
"Aku takut kalau tiba-tiba ada orang yang masuk."
__ADS_1
"Tenang saja. Mereka akan masuk setelah mengetuk pintu dulu."
Erika baru bernafas lega. Ia memandang Martin,dan yang dipandangi sadar akan hal itu.
"Apakah aku benar tampan hingga kamu memandangiku seperti ini."
Erika geragapan "Emmm...nggak aku hanya penasaran. Itu bibirmu kenapa?"
"Kau tidak ingat!"
Deg! Erika merasa tidak enak, ia menebak pasti bibir Martin yang robek juga karena ulahnya.
"Kau yang melakukannya, lalu menandukku," jelas Martin setelah Erika menggeleng bahwa kemaren dia tidak ingat.
"Jadi karena aku menandukmu lalu bibirmu robek?"
"Ahh kau ini! BAhkan kau menciumku. Ciumanmu itu sangat seksi."
"Ccciiiummannn?" Erika langsung merona merah. Martin yang tampan bahkan menciumnya adalah sesuatu yang hanya ada dalam hayalan Erika saja. Tapi ia sudah mencium laki-laki itu beneran, hanya saja ia tidak ingat.
"Kita berciuman. Maksudku bibir dengan bibir? Oh dios mio!"
Martin tergelak melihat ekpresi Erika.
"Apa kau mau mengulanginya lagi?"
"Aku tidak mau membahasa hal itu," Erika mengalihkan perhatian.
Sekali lagi Martin tergelak. Biasanya cewek rela antri berkencan dengannya. Sekarang ada cewek yang tak mau dengan Martin setelah Martin menawarinya untuk mencium nya. Sedangkan pikiran Erika berbeda dengan Martin. Ia sudah melakukan harassment dengan 3 cowok yang berbeda dalam satu malam.
Ber***** dengan Joe, menjitaki kepala Jayden, dia juga telah mencium Martin. Seperti gadis mur***** saja. Erika merasa malau dengan Martin dan dirinya sendiri. Untung mereka tidak melaporkannya ke hrd. Kalau Erika dilaporkan telah melakukan harassment tidak hanya kepada 1 orang tapi 3 orang, tamatlah pekerjaannya di kapal. Bisa-bisa ia di fire, atau paling ringan kena suspend beberapa bulan.
Sementara di luar ruangan Martin yang tertutup. Joe wajahnya merah padam. Tangannya mengepal. Ia mendengar apa yang di bicarakan Martin dan Erika. JOe merasa sangat marah.
"Jadi dia lebih dahulu mencium Martin. Kurang ****"
"Akan kuberi kau sedikit pelajaran."
Joe berbicara pada dirinya sendiri dan mengurungkan niatnya ketemu Martin. Tadinya ia ingin ketemu Martin karena ayahnya baru saja menelponnya. Dan mengkrocek ke Martin, apa yang dikatakan ayahnya benar ato salah. Tapi mendengar percakapan Martin dan Erika, rasanya masalah dengan ayahnya bisa ditunda untuk beberapa saat.
Joe bergegas pergi ke kabin mengambil id card miliknya dan milik Erika yang tergantung di atas drower, ia lalu pergi ke kantor kusus crew mengurus sesuatu.
...***...
__ADS_1